Kutukan Si Plastik


Ini curhatan kecil saja. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Soal plastik dan kutukannya.

Plastik itu berkah, tapi juga kutukan.

Berkah, karena plastik telah membuat hidup kita jadi lebih mudah. Hari gini, tak mudah rasanya membayangkan hidup tanpa plastik. Plastik ada hampir dalam setiap jengkal kehidupan kita.

Tapi plastik juga bisa menjadi kutukan yang merusak lingkungan dan membahayakan kesehatan pemakainya, terutama jika kita abai akan sifat-sifatnya.

Plastik umumnya adalah bahan yang sulit ‘dicerna’ oleh alam. Tidak seperti daun atau kertas yang bisa hancur dan menyatu kembali dengan alam dalam hitungan minggu, plastik perlu puluhan bahkan ratusan tahun untuk dicerna. (Beberapa sumber menyebut 10 hingga 450 tahun, bahkan ada yang menyebut lebih dari satu juta tahun untuk plastik-plastik jenis tertentu, seperti styrofoam yang sekarang semakin sering dipakai sebagai wadah masakan.)

Bayangkan, berapa banyak plastik yang kita pakai setiap hari, dari bangun hingga tidur lagi. Ingat-ingat, ke mana kita membuangnya. Bayangkan apa yang akan terjadi kalau kita membuangnya sembarangan, dan kemudian masuk ke selokan dan saluran air.

Bagi kita yang tinggal di Bandung, pengalaman melihat sampah-sampah plastik yang tiba-tiba berhamburan keluar dari selokan dan saluran air dengan bau yang menyengat saat hujan deras mungkin bukan hal yang aneh. Banjir cileuncang: jalanan mendadak menjadi sungai sampah.

Sebagian kita mungkin tak merasa ikut bersalah atas kejadian itu. Tapi sampah dan banjir itu tentu tak terjadi begitu saja atau hanya karena perbuatan seseorang saja. Tanpa kita sadari, suatu ketika kita mungkin telah melempar botol plastik atau kemasan makanan begitu saja. Sampah abadi itu — berjamaah dengan sampah-sampah abadi lain yang dibuang oleh orang-orang lain — kemudian ‘tanpa sengaja’ menemukan jalan ke selokan. Maka, kunfayakun! Terjadilah. Banjir cileuncang di sana-sini, dan Dayeuh Kolot serta kawasan-kawasan lain yang lebih rendah di selatanpun kita tenggelamkan.

Plastik telah mencemari tanah dan air. Selokan dan sungai penuh dengan plastik, mengalir hingga ke hulu, mencekik, membunuh dan menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Tengoklah Cikapundung. Tengoklah Citarum. Lihatlah air hitam dan bercak-bercak putih, kantong-kantong dan botol-botol plastik yang menempel di lumpurnya ketika kering. Pastilah kita yang telah menyumbangkan itu semua — dari keabaian kecil yang mungkin terasa ringan saja ketika melakukannya: wuushhh! sampahpun lepas dari tangan entah ke mana.

Lihatlah Maribaya — ada apa di bawah air terjunnya, yang dulu pernah bening dan memikat jutaan mata. Di situ kini berkumpul botol-botol plastik, kantong-kantong kresek, dan kawan-kawannya yang berpesta-pora mencibir kebodohan, kelalaian, dan keabaian kita.

Maribaya jelas bukan satu-satunya korban. Lihatlah Tangkuban Parahu, Kawah Putih, Situ Cileunca, Situ Patengan, Pelabuhan Ratu, Pangandaran. Masihkah kita bisa menyebutnya indah — merasakannya indah —  kalau sampah-sampah abadi plastik berceceran di sana sini?

Jangan salahkan orang lain, karena semua itu adalah perbuatan kita sendiri, yang sedikit-sedikit (ah da cuma saya dan satu bungkus ini)  tapi lama-lama telah menjadi bukit (satu kalikan berapa kali kalikan sekian juta orang).

Jangan salahkan orang lain, karena kita telah menjadi abai dan malas. Dulu, hanya sekian puluh tahun yang lalu, saya masih ingat, kami masih membawa wadah sendiri untuk membeli makanan di warung. Nenek dan ibu juga masih membawa tas sendiri setiap kali berbelanja di pasar. Sekarang? Tak ada lagi itu semua. Kita telah telanjur menjadi budak kantong kresek plastik.

Dulu, kita terbiasa membawa wadah air ketika kita keluar rumah atau berpiknik. Kini? Kita telah menjadi budak air dan minuman berbotol plastik. Dulu, dalam hajatan dan rapat kita menyuguhkan minuman dari gelas-gelas. Sekarang? Gelas-gelas plastik yang sekali pakai telah menggantikannya atas nama kepraktisan. Dulu, tak terbayangkan kita akan menyajikan hidangan dalam kotak-kotak styrofoam dalam hajatan atau rapat. Sekarang? Kita tak pernah mempertanyakan lagi hal itu.

Keabaian dan perbuatan kita telah mengundang kutukan si plastik. Kita telah menyerahkan diri ke dalam perbudakannya, dan untuk itu kita rela membayarnya dengan apa saja yang kita miliki: termasuk warisan alam yang telah dengan apik dijaga oleh nenek moyang kita dan diserahkannya kepada kita dalam keadaan asri dan indah. Akankah kita bisa menyerahkan keindahan dan keasrian yang kita warisi itu kepada anak cucu kita? Relakah kita mewariskan sampah dan racun kepada anak cucu kita?

Kita tentu masih bisa keluar dari kutukan itu, andaikan kita bisa kembali menjadi manusia (bukan budak plastik), yang mau berpikir dan bertindak dengan kesadaran layaknya manusia. Semua mudah saja, karena kita pernah melakukannya: Membawa sendiri tas dan wadah ketika kita berbelanja, membawa wadah minum sendiri ketika bepergian, menghormati tamu-tamu undangan kita dengan menyajikan air dari gelas-gelas yang kita cuci sendiri, membungkus makanan dengan daun atau wadah-wadah organik yang kita warisi dari nenek moyang kita. Bilapun terpaksa kita menggunakan kantong dan wadah plastik, buanglah ia dengan sepenuh kesadaran akan akibat-akibatnya.

Ayo, kita selamatkan lingkungan kita, warisan alam kita, dengan membebaskan diri dari perbudakan dan kutukan si plastik!

Kita pasti bisa!

6 pemikiran pada “Kutukan Si Plastik

  1. pertama, saya setuju dengan solusi-solusi yang ditawarkan Pak Eki dalam tulisannya. Dan yang lebih penting adalah model mental (atau paradigma) tentang plastik kita yang harus diubah; bahwa plastik secara faktual berbahaya bagi lingkungan, dan bahwa kita dikondisikan untuk bergantung pada plastik. Sehingga, harus saya katakan saya tidak setuju dengan pernyataan Bapak kalau plastik adalah berkah.

    kedua, saya setuju ide saudara Yogi bagus. tapi harus saya katakan bahwa caranya salah. pengalaman menunjukkan, jika kita menukarkan sekian plastik yang sudah terkumpul dengan goodie bag, orang-orang akan berlomba “mengumpulkan” plastik untuk ditukar dengan goodie bag. mending kalau orang-orang mengumpulkan plastik-plastik yang sudah ada di kamar/rumah mereka, ini mah sengaja mencari dan bahkan membeli plastik baru dari warung demi goodie bag… jadi saya kira harus dicari cara yang lain

    1. Betul, Ardian, plastik adalah substansi yang berbahaya bagi lingkungan dan kita harus memperlakukannya dengan cerdas.

      Maksud saya dengan ‘berkah’ adalah kenyataan bahwa plastik juga memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Bukan cuma sebagai pembungkus, tapi juga hal-hal lain yang tak terbayangkan kalau tidak ada plastik: peralatan elektronik, peralatan medis, interior kendaraan (pesawat terbang, mobil, dll), kapal, bungkus kabel, dll.

      Terima kasih atas komentarnya yang kritis.

      1. oooh. koridor pikiran saya tersempitkan hanya pada kantong kresek dari plastik sebagey alat pembungkus🙂
        tapi, menurut Bapak, mana yang lebih prioritas: konsep “kemanfaatan bagi manusia” atau “keberlanjutan lingkungan”?

  2. Saya pengen bikin project semacam substitusi kantong kresek dengan goodie bag gitu Pak, untuk kawasan kos-kosan. Karena anak kos setidaknya dapet plastik 3 kali sehari (asumsi 3 kali makan), dan mungkin nambah. Nah, pinginnya ada semacam kalo udah terkumpul skian plastik bakal dituker ke goodie bag, biar kalo ke warung nggak minta-minta kresek lagi. Biar sedikit memutus rantai penggunaan kresek berlebihan. Cuman masih belum terpikir, plastik yg sudah terkumpul diapain. dulu pernah liat di sekitaran cihanjuang Cimahi ada yang ngerubah plastik jadi tas tas gitu Pak. haha.. sampe sekarang belum terealisasi. Belum terpikirkan budget awalnya juga🙂

    1. Itu bisa jadi projek hebat! Jangan pikirakan modalnya dulu, tapi pikirkan rancangan projeknya. Pendanaan bisa didapat — mungkin dari Beswan yang Yogi jadi alumninya? — kalau proposalnya sudah jelas. Saya siap ikut membantu.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s