Tentang Rindu


Wahai belahan hatiku,

Ingatlah ini kalau suatu saat nanti Takdir akhirnya memisahkan kita:

Bukan bara yang kucari dalam cinta. Tapi hangat yang berkekalan, yang membalut hati hingga mati.

Kerinduanku telah berganti hari, menghitung bulan, dan menjemput tahun. Dalam kesabaran sepenuh bumi aku menunggumu, menunggu kepastian ketika kau melangkah melewati pintu itu — pintu yang telah lama kubuka hanya untukmu — dan masuk ke dalam ruang hatiku, lalu jenak dalam cumbu damai yang abadi. Hanya kita, berdua.

Tapi kau tak kunjung datang. Kau terus saja bermain-main dalam keraguanmu — mengulurku hingga ke tepi biru.

Telah kuteriakkan namamu ketika hari berganti malam, dan pagi ketika ia menggulirkannya lagi. Hampa. Suaraku tak pernah kembali, tak pernah menyentuhmu — menyentuh keyakinanmu, hatimu. Ia tak mampu membuatmu melangkah, mendekat, dan bersatu denganku.

Sampai kapan?

Aku mencoba menahan rindu itu, menahannya sampai pada titiknya yang ternadir. Akankah ia pecah berkeping-keping? Lalu melahirkan ruang hampa bagi cinta yang baru? Akankah ia akan tetap utuh — menantimu dalam kesabaran yang tiada bersauh?

_______________________

An exercise in fictional voicing. Written April 24, 2012.

4 pemikiran pada “Tentang Rindu

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s