Hari-hari Pertama di Bethlehem (Bagian Kedua)


Ini kelajutan dari cerita yang saya tulis sebelumnya, dan bagian ketujuh dari serial My American Stories.

Tantangan pertama yang saya hadapi malam pertama tinggal di guest house adalah mencari makanan. Untung Vakhtang, yang sudah datang lebih dulu dari saya, tahu di mana membeli perbekalan. Jadi malam itu dia bisa mengantar saya ke supermarket terdekat. Namanya Ahart. Letaknya di Montclair Avenue, sekitar dua blok dari guest house. Saya membeli roti, biksuit, minuman dalam kemasan, dan beberapa makanan instan dalam kemasan yang bisa cepat dimasak dengan fasilitas seadanya yang ada di guest house.

Hari berikutnya saya pergi ke perpustakaan kampus untuk membuka akun internet dan mencari-cari informasi mengenai apartemen (baca: tempat indekos) dan hal-hal lain yang perlu saya ketahui sebagai mahasiswa baru, termasuk informasi mengenai bank yang dapat mencairkan cek yang kemarin diberikan oleh Bill. Maklum, perbekalan saya mulai menipis, dan saya akan segera memerlukan uang yang cukup besar untuk membayar kos-kosan kalau saya sudah mendapatkannya.

Sangkaan (kekhawatiran) saya bahwa ini kampus kecil tak terbukti. Ini universitas ternyata besar dengan kampus yang sangat luas yang membentang dari pinggiran selatan kota Bethlehem hingga jauh ke hutan dan perbukitan di atasnya. Sangkaan saya itu barangkali muncul karena ekspektasi yang saya bawa dari tanah air: bahwa kampus adalah kawasan eksklusif yang berpagar. Padahal kampus ini tidak seperti itu. Wilayah kampus ASA Packer (kampus paling utara dari tiga kampus Lehigh University) dan wilayah permukiman penduduk hanya dipisahkan oleh jalan. Pintu masuk kampusnya hanya ditandai oleh sebuah plaza (ruang terbuka) yang dikelilingi oleh cafe, restoran, dan toko buku yang menjadi bagian dari wilayah kampus. Di plaza inilah sebagian sivitas akademika melewatkan waktu istirahat sambil membaca buku, bersilancar di Internet, ngopi, makan dan ngobrol. Sangat berbeda dengan kampus-kampus di Indonesia yang rata-rata tertutup dan eksklusif.

E.W. Fairchild-Martindale Library and Computing Center — demikian nama perpustakaan megah berlantai empat dan berarsitektur steel and glass yang saya kunjungi itu — terletak persis di sisi selatan plaza dan merupakan salah satu dari dua perpustakaan utama di Lehigh University. Hari itu perpustakaan ini juga sepi, karena saat itu musim panas. Musim panas, seperti saya bilang sebelumnya, adalah musim libur panjang. Kebanyakan mahasiswa pulang kampung dan/atau bekerja musiman di luar kampus untuk mendapatkan uang tambahan. Yang tinggal di kampus hanya mahasiswa-mahasiswa yang mengambil summer courses (semacam mata kuliah semester pendek yang beberapa tahun terakhir ini juga mulai ditawarkan di sejumlah universitas di tanah air) atau mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar mandiri atau melakukan riset untuk menuntaskan tugas akhir mereka.

E.W. Fairchild-Martindale Library and Computing Center

Dari pencarian yang saya lakukan di jaringan internet kampus, saya mendapatkan beberapa calon tempat kos yang tampaknya menjanjikan — dari segi harga dan lokasinya. Hari itu saya juga ke bank dan diberitahu bahwa saya tidak bisa mencairkan cek yang saya pegang kecuali saya punya rekening di sana. Padahal untuk membuka rekening saya perlu Social Security Number (SSN) — nomor wajib pajak yang sekaligus berfungsi tanda pengenal nasional yang sangat penting. SSN dipakai nyaris dalam segala urusan layaknya KTP di Indonesia: dari membuka rekening bank sampai berlangganan listrik, telepon, dan sebagainya. Penduduk Amerika yang tidak mempunyai nomor itu akan sangat sulit mendapatkan layanan-layanan penting untuk bisa hidup normal. Karena informasi itu, saya memutuskan untuk pergi ke New York keesokan harinya.

Ada tiga alasan kenapa saya memutuskan untuk pergi ke New York. Pertama, karena di kota itu ada kantor bank yang menerbitkan cek yang ada di tangan saya. Siapa tahu saya bisa mencairkan cek itu di sana tanpa harus terlebih dahulu mempunyai rekening bank. Kedua, karena di New York ada kantor IIE — lembaga yang mengurusi hal-hal administratif yang berkenaan dengan beasiswa yang saya terima, atas nama Fulbright, termasuk mengeluarkan cek tunjangan biaya hidup dan keperluan lain selama saya menjadi penerima beasiswa. Saya berharap IIE dapat membantu saya mencairkan cek yang mereka keluarkan itu atau menggantinya dengan uang tunai — paling tidak untuk bulan pertama itu, atau selama saya belum punya rekening bank sendiri. Ketiga, karena kebetulan sebelum berangkat dari tanah air dulu, seorang sepupu saya yang tinggal di Jakarta menitipkan sebuah paket untuk temannya yang tinggal dan bekerja di New York. Selain alasan-alasan itu, sebenarnya ada juga alasan lain yang lebih pribadi: Saya ingin segera melihat sendiri dan menginjakkan kaki di kota yang sudah sejak lama saya impikan itu.🙂

Cerita tentang petualangan saya ke New York akan saya tulis di posting lain setelah ini karena menurut saya ada hal-hal yang menarik, lucu, dan pantas diambil hikmahnya.

Sore itu, kopor saya yang nyasar dan lenyap di Bandara Philadelphia diantarkan ke rumah oleh petugas dari perusahaan penerbangan. Keesokan harinya — pagi-pagi benar — saya berangkat ke New York. Sehari setelah pulang dari New York, saya juga dengan sangat mudahnya mendapatkan kepastian tempat tinggal yang lokasinya langsung berbatasan langsung dengan kampus (jaraknya hanya sekitar lima menit berjalan kaki ke perpustakaan) dan harganya juga cukup murah.

Tempat tinggal itu, sebuah rumah di Jalan Warren Square 216, milik sebuah asosiasi alumni. Harga sewanya $12.600 per tahun dan dapat dihuni oleh lima orang. (Menurut peraturan pemerintah setempat, sebuah rumah memang hanya boleh ditempati oleh lima orang yang tidak punya hubungan keluarga satu sama lain.) Kebetulan saya adalah orang kelima. Empat orang lain yang sudah memesan rumah itu masing-masing berasal dari RRC, India, Turki (semuanya mahasiswa pascasarjana) dan satu orang mahasiswa undergraduate  (S1) dari Taiwan.

Biaya kos di Amerika dihitung per tahun, namun dibayar per bulan. Jatah saya adalah $12.600 : 5 = $ 2520. Jumlah itu dibayarkan dua belas kali, sehingga setiap bulan saya harus membayar $210, tidak termasuk utilities seperti gas, listrik,  dan air yang harus diurus (dibuka akunnya) dan dibayar sendiri oleh penghuni. Sewa dibayar di muka setiap awal bulan sebelum tanggal 7.

Selain membayar biaya kos bulanan, pada saat menandatangani kesepakatan sewa  setiap penyewa juga diwajibkan membayar uang jaminan yang besarnya satu kali sewa bulanan. Uang ini akan dikembalikan utuh jika pada akhir masa kontrak tidak terjadi kerusakan atas gedung dan/atau fasilitasnya yang diakibatkan oleh penghuni. Setiap kerusakan yang diakibatkan oleh penghuni akan dibebankan kepada penghuni dan dipotongkan dari uang jaminan tadi.

Membuka Akun Utilities

Seperti yang saya katakan di atas, di Amerika umumnya  utilities seperti listrik dan gas tidak menjadi bagian dari sewa rumah. Oleh karena itu, kami harus mendaftar sendiri ke perusahaan yang menyediakan listrik,  gas, dan air untuk bisa mendapatkan layanan. Karena untuk mendaftar kami perlu SSN dan catatan kredit (credit records), kami mengangkat Kiran (si mahasiswa India) — yang sudah setahun tinggal di sana dan mempunyai SSN dan catatan kredit — untuk menjadi kepala keluarga dan mengurus pemasangan dan berlangganan listrik, gas, dan air.

Kami memutuskan untuk tidak memasang telepon bersama di rumah itu. Telepon, internet, dan TV kabel dianggap kebutuhan pribadi dan diserahkan kepada masing-masing penghuni kalau ingin berlangganan.

Saya tidak punya sambungan telepon dan internet di kamar saya sampai kira-kira dua bulan setelah saya tinggal di Amerika. Bukan tidak butuh, tapi karena sampai saat itu saya belum punya SSN dan catatan kredit yang memungkinkan saya untuk mengajukan pemasangan dan berlangganan fasilitas-fasilitas itu.

(Bersambung)

Satu pemikiran pada “Hari-hari Pertama di Bethlehem (Bagian Kedua)

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s