Puntung Asin


Puntung, menurut kamus, artinya sisa. Bisa sisa rokok, bisa sisa kayu yang sebagian telah terbakar.

Puntung asin?

Sisa rokok atau sisa kayu yang berasa garam?

Mungkin juga. Tapi siapa pula yang mau menggarami rokok atau kayu?

Atau barangkali sisa ikan asin bakar?

Bisa jadi, meskipun barangkali tidak lazim sebagai sebuah sebutan.

______________________

🙂

Terima kasih sudah ikut dalam petualangan kecil reka-kata saya.

Kata-kata memang asyik sebagai bahan rekaan. Seperti Lego, kita bisa mereka-bentuk apa pun dengan memadupadankan kata-kata. Tentu, hasil otak-atik bentuk itu ada yang bisa kita kenali, ada yang tidak. Puntung asin barangkali adalah salah satu bentuk yang sulit dikenali.

Kolokasi puntung sudah sedemikian akrab dengan rokok. Begitu kata puntung disebut, maka rokoklah yang akan muncul dalam pikiran kita. Sedemikian akrabnya, sampai-sampai kata puntung sudah dapat berdiri sendiri tanpa kata rokok untuk mewakili frasa ‘puntung rokok’.

Puntung dengan asin terdengar aneh. Mereka tidak karib. Meskipun secara gramatika keduanya bisa dipasangkan untuk membentuk frasa yang berlekatan (puntung sebagai kata benda dan asin sebagai kata sifat), tapi ada faktor lain yang membuat keduanya tidak (belum) bisa bersanding.

Saya membayangkannya seperti seorang pria dan seorang wanita. Secara naluriah, keduanya bisa saling tertarik, bisa memutuskan untuk menikah. Tapi ikatan seperti itu tidak/belum dapat dilakukan karena ada hal-hal lain yang belum terpenuhi. Barangkali karena selisih usia di antara keduanya. Barangkali juga karena status sosial keduanya. Atau, karena keluarga, agama, dan lain-lain hal yang membuat ikatan seperti itu belum dapat dilakukan. Tapi bukan berarti tak mungkin, kan?

Mungkin nanti, ketika suasana sudah berubah, hal itu mungkin terjadi. Atau, bila keduanya memaksa, dipaksa, atau terpaksa. Banyak kan, pasangan yang memaksa (pihak-pihak di luar diri mereka) untuk mengizinkan mereka menikah? Ada juga kan yang dipaksa atau terpaksa menikah? Karena ‘kecelakaan’, misalnya.

Tapi sesuatu yang dipaksakan, tentu membuat keguncangan. Paling tidak untuk sementara. Kejadiannya bisa lucu, bisa menjengkelkan, bisa juga aneh dan membuat orang memincingkan sebelah mata. Kita — yang menyaksikannya — bisa tertawa terpingkal-pingkal,  menggerutu, atau mengejek.

________________________

Pemaksaan itu kreatif. Paling tidak, salah satu wujud kreativitas.

Pemaksaan bersifat kreatif karena ia membuat kita berpikir dan melihat di luar kotak, dan membongkar kelaziman yang sudah berterima. Ia mengadakan apa yang sebelumnya dianggap tidak bisa ada, tidak mungkin.

Ia bisa menjadi semacam pelesetan, olok-olok, parodi atas sesuatu yang sudah jadi. Ia menciptakan konotasi-konotasi baru dari sebuah kemapanan denotasi. Dengan demikian, pemaksaan adalah kekuatan yang menghidupkan. Mungkin seperti aliran air yang dipaksa berhenti. Ia akan mengumpulkan segenap kekuatannya untuk memaksa: membobol penghalangnya, mencari jalan-jalan baru agar ia tetap mengalir dan hidup. Bayangkan air yang terkungkung, tak mengalir. Apa yang akan terjadi?

Begitu pulalah bahasa. Paksaan untuk menciptakan bentuk-bentuk baru, konotasi-konotasi baru, membuatnya tetap hidup.

Bahasa bukan benda mati. Tidak mungkin menjadi benda mati, karena ia berasal dari dan melayani organisme yang hidup: manusia.

__________________________

Lalu apa sebenarnya maksud Puntung Asin?

Aah, sebenarnya itu cuma sebuah pelesetan saja.  Saya sedang memikirkan pungtuasi (punctuation) — tanda baca. Dan bunyi itu tiba-tiba terdengar seperti ‘puntung asin’ di benak saya.

Terima kasih sudah mencicipi resep puntung asin yang telah saya siapkan seadanya. Mudah-mudahan ia bisa menambah selera makan Anda pada bahasa.

 

Eki Akhwan

13 Mei 2012

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s