Tentang Kebenaran Tuhan


Kamu percaya Tuhan Mahabesar. Aku juga. Kita yakin, tak ada keagungan yang melampaui keagungan-Nya.

Kamu percaya Tuhan Mahaluas. Aku juga. Tak ada bentangan yang tak terjangkau oleh-Nya, karena Dialah Yang menciptakan semesta. Jejak-Nya ada pada setiap sudutnya — setiap noktah, setiap elemen, yang kasat, yang tak kasat. Dia ada bahkan di luar semua bentangan itu — yang tak terjangkau oleh apapun yang kita ‘punya’.

Kamu percaya Tuhan Mahatahu. Aku juga.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” ~ Al An’am:59

Bagi-Nya, tak ada rahasia. Tak ada yang tersembunyi. Dia tahu apa yang kita tahu. Dia tahu apa yang tak kita tahu.

Lalu kenapa kadang-kadang kau merasa lebih tahu dari Dia? Merasa cakrawalamu adalah cakrawala-Nya? Lalu kau meyakini sepenuh hati bahwa kau bisa mewakili-Nya — menganggap bahwa kau tahu rahasia-rahasia-Nya? Menyalahkan, menghukum sesamamu seolah-olah kau sederajat dengan-Nya? Merasa gagah megah seperti gagah megah-Nya?

Tidakkah kau tahu kita hanyalah mahluk-mahluk kerdil saja? Tak ada keagungan pada diri kita. Semua keagungan itu milik-Nya. Tak sadarkah kau, pikiran-pikiranmu adalah titik-titik mahapicik yang tak berarti di keluasan pengetahuan dan cakrawala-Nya?

Merasalah. Berpikirlah. Berbuatlah. Tapi sadarlah: rasa, pikiran, dan perbuatanmu hanyalah noktah-noktah kecil kebenaran yang tak utuh. Tak ada hakmu untuk merasa benar dengan seutuh-utuhnya. Tak ada hakmu untuk menganggap pikiran-pikiranmu seutuhnya benar seperti benarnya “gagasan” Tuhan. Tak ada hakmu untuk merasa bahwa perbuatan-perbuatanmu seutuhnya benar seperti perbuatan-perbuatan-Nya — yang selalu benar. Tak ada hakmu untuk mewakili-Nya dengan seutuh-utuhnya.

Kembalikan pada-Nya hak-Nya. Kebenaran adalah milik-Nya. Kita hanyalah penafsir-penafsir dhuafa yang mencari kebenaran-Nya. Tak ada kesanggupan kita untuk mendekati — bahkan hanya untuk mendekati — Kebenaran itu, kecuali atas izin-Nya.

Tunduk-sujudkan hati, pikiran, dan perbuatanmu pada-Nya. Karena kamu milik-Nya. Juga hati, pikiran, dan perbuatanmu. Pengetahuan tak ada padamu, tapi pada-Nya. Kebenaran bukan milikmu, tapi milik-Nya.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s