Ironi Ramadan


Waktu kecil dulu, saya sering diingatkan, puasa itu agar kita bisa merasakan penderitaan orang-orang miskin: orang-orang yang hidupnya serba kekurangan, hingga untuk makan pun Senin Kamis — kadang ada, kadang tak ada.

Saya tak ragu, kesederhanaan dan empati adalah sebagian nilai mulia yang diajarkan oleh Ramadan.

Tapi seiring waktu, saya justru mengamati praktik-praktik yang sebaliknya. Menjelang dan selama Ramadan, kesederhanaan dan empati justru seolah-olah lenyap. Orang-orang seperti kesurupan menyerbu pasar dan pusat-pusat perbelanjaan untuk memenuhi hasrat lidah dan perut mereka. Alih-alih mengurangi konsumsi, mereka justru menambah: Apa yang sehari-hari tak ada — tak perlu dan tak harus ada — seolah-olah menjadi wajib ada. Puasa seolah-olah tak afdol tanpa makanan-makanan istimewa dan ekstra. Bukan cuma jenisnya, tapi juga jumlahnya.

Ini tentu saja ironis. Alih-alih berempati pada kaum duafa yang serba kekurangan, puasa seolah-olah justru mendorong kita untuk semakin jauh dari merasakan penderitaan mereka.

Tentu ada yang salah. Kalau kita tak melihatnya, mungkin kita hanya pura-pura tak melihatnya. Atau, terbawa arus hingga kita abai pada kenyataan ini.

***

Puasa memang berat. Dipaksa untuk menghentikan konsumsi makanan dan minuman — meskipun sementara dan cuma untuk waktu yang terbatas — secara naluriah menimbulkan panik psikologis.

Takut pada lapar dan haus adalah salah satu survival instinct (naluri dasar) yang kita miliki sebagai mahluk hidup. Maka, ketika kita dipaksa untuk mengalaminya atau mempersepsi bahwa kita akan (harus) mengalaminya, reaksi kita adalah mempersiapkan diri sedemikian rupa agar hal itu tidak sampai mengancam kelangsungan hidup. Mungkin inilah salah satu sebab kenapa orang seolah-olah seperti kesurupan belanja dan cenderung menumpuk makanan ketika bulan puasa.

Sebab lain barangkali adalah karena Ramadan, sebagaimana momen-momen keagamaan lain, telah ter/dikomodifikasi oleh kepentingan-kepentingan kapitalisme. Ramadan bukan lagi cuma perisitiwa religius yang merayakan momen penyucian spiritual, di mana intensitas hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan sosial antarsesama manusia ditingkatkan, tetapi juga sebuah peristiwa dagang di mana hal-hal yang bersifat ruhaniah Ilahiah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan.

Sahur, buka, tarawih, tadarus, dan siraman rohani bukan lagi cuma momen-momen yang mendekatkan manusia dengan Tuhannya; bukan cuma simpul-simpul silaturahmi yang mengeratkan ikatan sosial individu dengan komunitasnya, tapi juga momen di mana barang-barang dagangan dipromosikan dan dijual. Hubungan-hubungan yang semula religius dan penuh persaudaraan akhirnya terdistorsi oleh dan tereduksi menjadi hubungan perdagangan di mana orang terus-menerus didorong untuk mengonsumsi, menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru, dan menjadi konsumptif. Ramadan tidak lagi menjadi peristiwa di mana kesederhanaan dan empati kepada kaum papa menjadi wahana penyucian spiritual, tetapi sebuah perayaan konsumerisme yang memuja kapitalisme sebagai tagutnya.

Puasa memang berat. Kecuali bagi orang-orang yang ikhlas, yang teguh iman, yang sabar.

2 pemikiran pada “Ironi Ramadan

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s