Bicara Agama


Bicara (tentang) agama haruslah hati-hati, karena meskipun Tuhan adalah Zat yang Maha Mengetahui, manusia hanyalah mahluk yang pengetahuannya sungguh sangat terbatas. Hanya sebesar tempurung kepalanya. Mungkin kurang.

Singgasana Tuhan berada di luar ruang dan waktu. Tak perlu ‘tiang’, tak perlu ‘penyangga’. Dari singgasana-Nya itu Ia melihat tanpa batas, mendengar bahkan yang tak bersuara. Bening. Hening. Maqom manusia adalah dunia maya, ruang dan waktu yang sementara. Keruh, rapuh, dan ingar-bingar.

Maqom kita tak memungkinkan kita untuk melihat tanpa batas, mengerti tanpa arti. Apa yang kita lihat, yang kita pahami, selalu terikat oleh ruang dan waktu. Penglihatan dan pemahaman kita selalu terikat dan tergantung. Pijakan kita adalah pijakan yang rapuh. Kita tak mungkin berdiri tanpa kaki. Ada kita selalu bertopang pada ada ada yang lain.

Tuhan tak pernah — tak perlu — berpihak. Ia Mahamandiri. Tak perlu berpihak, tak perlu memihak.

Kita tak begitu. Kita mahatergantung (ada kita tak ada tanpa ada ada yang lain). Apapun yang kita katakan, atau perbuat, — atas nama agama, atas nama Tuhan sekalipun — adalah cerminan ketergantungan kita pada ada ada yang lain itu. Kita selalu berpihak dan memihak, membenarkan diri dan menyalahkan yang lain, agar kita bisa bergantung dan berlindung pada apa yang kita benarkan dan melenyapkan ancaman dari yang kita salahkan.

Tuhan, kukira, tak begitu. Pengetahuan-Nya tentang benar adalah sempurna. Maka salah menjadi tak ada. Bagi-Nya, salah hanyalah bagian dari benar.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s