Akulah Air!


Akulah air!

Tak tahukah kau, air — itulah aku!

Kau lihat aku tak berwarna. Tapi akulah pencipta warna! Akulah yang mewarnai dedaunan yang hijau itu — jauh di atas bukit-bukit yang menyentuh langit, yang mengalir bersama lembah dan sawah hingga ke ujung tanah.

Akulah pengungkap warna pelangi yang tersembunyi dari pandangan matamu: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.

Kau lihat aku tenang seperti tak bernyawa, menurut saja ketika angin menerpa: Aku beriak dan mengombak, atau bersorak bersama badai!

Kau kira anginlah yang menggerakkanku?

Tidak! Akulah yang menggerakkannya! Menciptakannya! Angin adalah ketiadaan; akulah yang memberinya wujud, menganugerahinya kedigdayaan.

Akulah kesejukan yang kau rasakan itu — pada pagi dan embun, ketika matahari belum lagi beranjak dari ufuknya; pada malam ketika ia telah berada di peraduannya.

Akulah gerah yang kau rasakan itu — pada siang, ketika matahari menyengatmu. Tak tahukah kau, pada gerah yang kau rasakan itu, aku sedang memberimu kehidupan, pengayoman dari kepunahan?

Akulah air!

Tak tahukah kau, air — itulah aku!

Akulah kehidupan.

Kau kira aku diam? Padahal aku menjelajah ke setiap pori, ke setiap ari, lalu menyusunnya untuk menjadi?

Kau kira aku jinak? Kau masukkan aku ke dalam belanga, aku pun menjadi belanga; kau perangkap aku dalam botol, aku pun menjadi botol; kau bendung aku, aku pun mengikuti kemauanmu: mengisi ruang-ruang yang kau mau, menjadi apapun yang kau mau.

Tapi kau lupa,

dalam diam dan tundukku, akulah air.

Aku kan selalu mencari jalanku sendiri — dari gunung ke lembah, ke ngarai dan sungai, hingga ku bertemu lautanku.

Akulah air!

Maka janganlah kau lupa,

dalam diam dan tundukku, aku kan selalu mencari jalanku sendiri:

dari lautan itu, matahari memanggilku untuk bercumbu — sejenak saja — dengan awan yang merindu benih kehidupan — yang kuberi dengan rela dan suka cita — sebelum ku kembali mencumbui bumi dalam gairah yang membuncah berkecambah.

Akulah air!

Kau lihat aku tenang seperti tak bernyawa.

Tapi aku selalu tahu jalanku: ke laut, ke langit, ke bumi; ke laut, ke langit, ke bumi, lalu ke laut lagi … Aku berkelana untuk kehidupan sesama.

Aku adalah karya Tuhanku, untukmu.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s