Cita-cita


Ketika kecil dulu, aku bercita-cita menjadi dokter, atau insinyur. Aku tak pernah tahu apa maksudnya. Aku cuma tahu, itu cita-cita yang mulia karena anak-anak lain juga bercita-cita seperti itu. Ayah ibu pun tampaknya senang kalau aku bercita-cita seperti itu.

Beranjak remaja, cita-citaku pun berubah. Aku ingin melihat dunia. Berjalan dari ujung ke ujungnya. Menikmati segala warna yang ditawarkannya. Bertemu dan bermain dengan segala ragam dan perbedaannya. Maka kuputuskan untuk menjadi duta atau pewarta. Di mataku, merekalah orang-orang yang beruntung. Tugas membawa mereka menyapa dunia tanpa ‘biaya’. Seperti remaja-remaja lain, sederhana itulah kacamata remajaku.

Tapi ternyata cita-cita tidak pernah sederhana. Riak kehidupan, angin pun meniupnya. Aku menjadi guru.

Puluhan tahun telah kulalui. Ada suka, ada duka. Aku telah menjadi guru sebagaimana guru telah menjadikan aku.

Kini senja telah menjelang. Ya, senja, meskipun aku belum lagi tua. Tapi tanyalah aku tentang cita-cita. Apakah telah penuh dan utuh?

Ternyata tidak. Ternyata cita-cita mengikuti usia. Selalu. Seperti waktu kecil, seperti kala remaja, kini aku pun punya cita-cita. Tidak, tidak sama betul, karena halaman bukuku akan segera tutup.

Cita-citaku kini adalah berhenti menjadi guru — cita-cita yang telah kuwujudkan dan mewujudkanku. Aku ingin berhenti menjadi guru bukan karena aku ingin berhenti mengajar. Aku hanya ingin meninggalkan ruang-ruang kelas yang membatas. Sebagai guru, aku telah tumbuh lebih besar dari ruang-ruang itu. Aku telah dan akan terus bergerak menuju langit. Ruang pandangku telah berubah — meluas, menembus cakrawala. Maka ruang-ruang kelas tak mungkin lagi menjadi ruang gerakku.

Seperti Ksatria yang telah purnawira, waktuku telah tiba. Aku akan menyingkir ke gunung, bertapa. Hidup sederhana, bercengkerama dengan semesta. Mengembara dan bercerita, berbagai wisesa. Itulah cita-citaku kini.

3 pemikiran pada “Cita-cita

  1. Hm.. Pak, beneran bapak akan meninggalkan ruang kelas dan rutinitas mengajar? “Aku akan menyingkir ke gunung, bertapa. Hidup sederhana, bercengkerama dengan semesta. Mengembara dan bercerita, berbagai wisesa. Itulah cita-citaku kini.” hm.. masih belum menemukan arti yang sebenarnya🙂

    1. Itu hanya kias saja, Yogi. Kalau saya keluar dari ruang kelas, mungkin saya masih bisa mengajar dengan menulis dan memberikan ceramah atau penyuluhan di luar. Audien saya bisa lebih luas.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s