Berangkat ke New York


Ini bagian kedelapan dari My American Stories yang sudah saya tulis sebelumnya.

Saya berangkat ke New York di hari ketiga setelah saya tiba di Bethlehem. Sore sehari sebelum keberangkatan, saya ke terminal bis South Bethlehem untuk membeli tiket. Terminal ini, yang terletak di Adams & Mechanic Street, jaraknya cuma dua blok dari “pintu gerbang” kampus, atau kira-kira empat blok dari tempat tinggal sementara saya di guest house universitas. Within walking distance, bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Tidak seperti terminal-terminal bis di Indonesia yang rata-rata berupa sebuah bangunan besar tempat puluhan bis ngetem dan berlalu-lalang, terminal ini hanya sebuah bangunan kecil seperti rumah yang terbuat dari kayu, dan tak satu pun bis ada di situ ketika saya sampai di sana untuk membeli tiket.

Saya masuk ke dalam dan berbicara kepada petugas yang berada di balik jendela kaca menanyakan jadwal keberangkatan bis ke New York City dan harga tiketnya. Dua puluh dollar sekali jalan (one way) atau tiga puluh sembilan dollar pulang pergi (round trip). Saya memilih tiket pulang pergi untuk sedikit menghemat, dan memilih jadwal keberangkatan pukul 06:55 agar saya punya cukup waktu untuk bersiap-siap, namun tidak terlalu siang sampai di kota New York sehingga saya punya cukup waktu untuk menyelesaikan urusan saya dan, tentu saja, jalan-jalan. Jarak dari South Bethlehem ke New York adalah 70 mil atau sekitar 112 kilometer dan, menurut jadwal yang tertera di brosur, waktu tempuhnya adalah dua jam lima belas menit, termasuk perhentian di dua kota yang dilaluinya, yaitu Easton dan Clinton. Bus dijadwalkan tiba di PABT (Port Authority Bus Terminal) pada pukul 09:10.

Keesokan harinya, saya sudah ada di terminal pukul 06:30. Tepat pukul 06:50 bis datang, dan selang lima menit kemudian, setelah menaikkan penumpang, bis berangkat. Tepat waktu!

Saya memilih duduk di deretan bangku terdepan supaya bisa menikmati pemandangan. Dalam hati saya tersenyum-senyum sendiri, tak percaya bahwa tak lama lagi saya akan menjejakkan kaki di kota yang telah sejak lama saya impikan untuk saya kunjungi. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya saya mengagumi apapun yang saya lihat. Semua serba baru, beda, dan mengasyikkan. (Ya, secara faktual saat itu saya sudah tinggal seminggu di Amerika Serikat dan sudah cukup banyak tempat yang saya kunjungi dan pengalaman baru yang saya alami, tapi hari itu adalah hari pertama saya betul-betul bepergian sendiri — saya bayar dan atur sendiri.) Dalam hati tak henti-hentinya saya bersyukur bahwa anak kampung dari keluarga biasa-biasa saja seperti saya bisa sampai ke tempat yang jauhnya ribuan mil dari rumah ini.

Setelah kira-kira dua jam perjalanan, gedung-gedung pencakar langit yang menjadi ciri khas kota New York akhirnya mulai tampak di cakrawala dengan latar depan Sungai Hudson yang memisahkan wilayah New Jersey di daratan utama benua Amerika dengan pulau Manhattan tempat kota New York berdiri. Sungguh menakjubkan. Berkali-kali saya menghela nafas panjang, setengah girang, setengah tak percaya bahwa tak lama lagi saya akan sampai di kota yang telah saya impikan sejak saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama di kampung dulu dan yang hingga saat itu cuma bisa saya bayangkan dan nikmati lewat foto dan film-film yang saya tonton.

Beberapa saat kemudian bis sudah berada di depan mulut Lincoln Tunnel, salah satu dari dua terowongan bawah laut (sungai) yang menghubungkan daratan utama benua Amerika dengan Pulau Manhattan. Pengalaman pertama melewati terowongan yang panjangnya kira-kira 2,5 kilometer dan berada 28 meter di bawah permukaan air Sungai Hudson ini menjadi pengalaman yang mendebarkan. Itulah kali pertama saya melintasi terowongan yang dibangun di bawah air.  Pemandangan dan keadaan di dalam terowongan itu mengingatkan saya pada adegan di salah satu film laga yang pernah saya tonton. Saya tidak ingat betul apa judul filmnya. Tapi begitulah. Banyak hal yang saya lihat dan alami di sini yang mengingatkan saya pada film-film Hollywood karena perkenalan saya dengan Amerika memang banyak terjadi melalui film.

Bis akhirnya memasuki tujuan akhir di Port Authority Bus Terminal di 42nd Street. Sebelum beranjak dari tempat duduk, saya sempat melirik jam tangan saya. Pukul 09:11. Luar biasa! Bis ini sampai di tujuan tepat waktu, persis seperti yang dijanjikan di dalam brosur yang saya terima ketika membeli tiket sehari sebelumnya. Seumur hidup, baru saat itulah saya naik bis umum dengan ketepatan waktu seperti itu. Di tanah air sendiri, dengan kondisi lalu-lintas yang tak pernah bisa diprediksi, hal itu belum pernah saya alami.

Ada sedikit perasaan cemas ketika saya akhirnya keluar dari bis dan memasuki ruang kedatangan yang ternyata berada di lantai tiga di bawah tanah itu. Ya, inilah New York. Bagai dalam mimpi, saya telah menjejakkan kaki saya di sini. Hati saya girang. Tapi terus terang, ini juga kota yang tak saya kenal kecuali lewat foto, film, dan sedikit bacaan. Saya punya tujuan di sini, tapi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dan bagaimana caranya setelah ini. Karena itu saya agak merasa cemas, apalagi kalau teringat adegan-adegan kriminal yang pernah saya tonton di film-film Amerika yang settingnya di kota-kota besar seperti ini. Tapi itu semua tidak sedikitpun mengurangi gairah saya untuk segera “menggigit” Apel Besar ini. Maka dengan langkah yakin saya naik ke lantai atas dan beseru di dalam hati, “New York, here I come!”

Bersambung!

2 pemikiran pada “Berangkat ke New York

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s