Manusia Tadah Hujan


Tadah hujan biasanya atribut yang diberikan untuk sawah. Sawah tadah hujun artinya sawah yang mendapatkan atau mengandalkan sumber airnya dari hujan. Jika ada hujan, ia bisa ditanami dan menghasilkan. Jika tidak, ia mangkrak atau ditanami dengan tanaman lain yang tidak memerlukan banyak air.

Manusia tadah hujan?

Itu hanya istilah saya saja.🙂 Jangan, jangan dibayangkan manusia yang kalau kena atau direndam air jadi tumbuh, berdaun, hijau, dan berbuah …

Akhir-akhir ini saya sering menggunakan istilah itu — perumpamaan itu — untuk menggambarkan dan mengkritik sebagian mahasiswa saya yang sikap belajarnya seperti sawah tadah hujan: kalau ada yang memberi, mereka belajar. Kalau tidak, mereka hanya menunggu dan tak melakukan apapun untuk menambah pengetahuan mereka.

Hal ini terutama sangat teramati dalam hal penguasaan kosa kata. Mereka begitu pasif, sehingga perbendaharaan kosa kata mereka nyaris tidak bertambah dengan signifikan meskipun mereka telah menjadi mahasiswa jurusan Bahasa Inggris cukup lama. Untuk saya, itu sangat menyedihkan.

Kosa kata adalah kekuatan. Orang yang penguasaan kosa katanya lemah, lemah juga penguasaan ilmu dan cara berpikirnya. Itu hipotesa saya.

Logikanya sederhana saja: kata mewadahi konsep. Semakin besar perbendaharaan kosa kata seseorang, semakin besar pula konsep yang dikuasainya. Konsep adalah alat berpikir. Semakin kaya dan beragam konsep yang dikuasainya, semakin lihai pula cara berpikirnya. Orang-orang pintar umumnya menguasai bahasa dengan sangat baik. Dan sebaliknya, orang-orang yang menguasai bahasa dengan sangat baik, umumnya juga pintar dan lihai dalam berpikir. Rasanya saya tidak perlu menyebut tokoh-tokoh kebangsaan kita yang pawai dan cemerlang gagasan-gagasannya seperti Soekarno, Hatta, Agoes Salim, Sjahrir yang sudah menjadi rahasia umum menguasai banyak bahasa dan begitu luas bacaannya. Atau tokoh-tokoh ilmuwan dan budayawan kita seperti Soedjatmoko, H. B. Jassin, Gus Dur, atau Goenawan Mohamad yang kepawaian bahasanya tak terbantahkan untuk dijadikan contoh, karena masih jauh lebih banyak orang hebat yang bisa dijadikan contoh. Barangkali saya cuma perlu menegaskan sekali lagi bahwa kecanggihan cara bernalar mereka tak mungkin dapat dicapai tanpa penguasaan konsep dan kosa kata yang mencukupi untuk dapat melakukannya.

Tentu banyak cara yang dapat dilakukan agar “sawah” kita menjadi sawah yang berpengairan, yang produktif dan dapat dipanen sepanjang tahun. Tapi apapun caranya, kuncinya adalah ada upaya yang sengaja, yang dilakukan dengan penuh semangat, sistematik, dan berkelanjutan. Salah satu cara itu adalah dengan banyak membaca. Membaca bukan hanya menambah ilmu, tapi juga menambah perbendaharaan kosa kata kita dan mengasah kepekaan dan kelihaian verbal kita. Cara lain adalah dengan sengaja mengulik dan menabung kekayaan verbal — menambah kosa kata dengan upaya-upaya yang tekun, sistematik, dan berkelanjutan.

Sayangnya, tampaknya semakin banyak mahasiswa yang abai akan hal ini. Membaca tidak menjadi kebutuhan. tapi hanya karena tugas — demi tugas. Intensitas keterlibatannya menjadi rendah. Tidak ada kemelitan yang cukup untuk mengulik konsep dan memperkaya kosa kata yang dapat membantu mereka memperluas cakrawala berpikir. Kemampuan membaca mereka menjadi lemah, penguasaan kosa kata mereka menyedihkan.

Ada banyak indikasi yang menunjukkan bahwa mereka nyaris tidak pernah melakukan upaya-upaya sengaja untuk menaklukkan rimba kata. Mereka bersikap tadah hujan saja: menambah kosa kata hanya kalau kebetulan ada kata-kata baru yang lewat di telinga mereka lewat lagu, film, atau produk-produk instan lain seperti slogan-slogan iklan, formulaic expressions dalam games (permainan), dan lain-lain di dunia yang semakin terdigitasi dan tergesa-gesa. Lebih menyedihkan lagi, kesaktian senjata bernama kamus kurang dimanfaatkan dengan baik. Banyak bahkan yang enggan sama sekali bergumul dengan kamus kalau mereka merasa sudah menerka makna kata dengan sepintas lalu. Akibatnya banyak yang menggunakan kata dengan keliru karena tak mengerti medan makna yang sesungguhnya dari kata-kata yang secara kebetulan sering mampir di sawah mereka. Meniru saja. Itu yang mereka lakukan. Barangkali seperti burung beo yang sering mendengar kata-kata tertentu dan akhirnya tampak seperti bisa menggunakan kata-kata itu, padahal ia tak mengerti (betul) apa arti kata-kata yang diucapkannya.

Tadah hujan. Itulah istilah saya. Bagaimana mungkin mengharapkan panen berlimpah sepanjang tahun dan berkepanjangan, bila “sawah” kita hanya berair bila hujan?

3 pemikiran pada “Manusia Tadah Hujan

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s