Anak Kampung di New York


Ini kelanjutan dari posting saya sebelum ini.

Di lantai dua, hal pertama yang menarik perhatian saya adalah aromanya. Butter and coffee dan aroma-aroma makanan lain langsung mengingatkan perut saya bahwa saya belum sarapan. Kedai-kedai makanan menawarkan beragam jenis makanan untuk sarapan pagi. Beberapa orang tampak sedang memilih-milih makanan dan menikmati sarapan mereka. Ada yang tampak tergesa-gesa. Ada juga yang tampak santai, membuka-buka koran atau bercakap-cakap dengan temannya. Suasana pagi khas di kota besar yang sibuk yang — lagi-lagi — mengingatkan saya pada adegan-adegan film yang pernah saya tonton.

Saya melihat-lihat, mencoba memilih dan memutuskan apa yang ingin saya beli untuk makan pagi. Dari label-label harga yang tertera, tampaknya tidak ada yang  betul-betul murah. Tidak untuk ukuran saya yang biasa sarapan bubur ayam yang cuma seharga tiga sampai lima ribu rupiah di tanah air. Agak lama juga saya bimbang sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli kopi dan muffin. Saya tidak ingat betul berapa harga yang saya bayarkan. Saya kira sekitar lima dollar. Cukup mahal kalau dikurskan ke dalam rupiah. Tapi hey … ini New York! Kalau itu harga yang harus saya bayar untuk dapat betul-betul mengalami seperti apa hidup di kota ini, kenapa tidak?

Setelah sarapan saya menyambangi beberapa newsstand (kios majalah dan koran) yang berada di sekitar situ. Ada perasaan girang di dalam hati. Orang yang menatap mataku saat itu mungkin bisa melihatnya berbinar-binar. Ada puluhan jenis majalah dan koran. Semua berbahasa Inggris. Senang sekali rasanya, seperti nyemplung (terjun) ke kolam renang setelah sekian belajar berenang di bak mandi. Di tanah air belum pernah saya melilhat kumpulan majalah dan koran berbahasa Inggris sebanyak itu, kecuali di Cikapundung, tempat saya biasa membeli majalah-majalah bekas terbitan luar negeri. Untuk melengkapi pengalaman ke-New York-an saya, saya membeli The New York Times.

Dari sana, saya mencari konter informasi, yang ternyata ada di lantai tiga, dekat pintu masuk. Tujuan pertama saya hari itu adalah ke 58th Street untuk mengantarkan paket yang dititipkan sepupu saya untuk temannya yang bekerja di kota itu. Jadi, itulah yang saya tanyakan kepada petugas yang berada di belakang konter: bisa naik apa saya ke sana. Petugas yang tampaknya sudah terbiasa berhadapan dengan pengunjung asing itu dengan cepat menjawab saya bisa naik subway (kereta bawah tanah) atau bis kota, dan dengan gerakan sigap tangannya menunjukkan peta dan leaflet jalur transportasi umum yang telah tersedia di depan konter. Tidak ada tanya jawab lagi setelah itu. Tampaknya dia tidak peduli dan menganggap bahwa peta dan leaflet itu cukup jelas dan saya cukup pintar untuk membaca dan menggunakannya. Jadi, meskipun saat itu tidak ada orang lain yang memerlukan bantuannya, dia tidak merasa perlu lagi menjawab pertanyaan saya soal rute subway yang harus saya ambil.

Peta dan leaflet yang tersedia memang cukup lengkap dan jelas, dicetak dengan kertas yang sangat bagus, berwarna-warni, dan disertai keterangan dalam beberapa bahasa: Inggris, Perancis, Spanyol, Jerman, Jepang, dan Cina. Tapi untuk saya yang tidak terbiasa dengan ‘mahluk-mahluk’ seperti itu, semua itu tetap saja membingungkan. Saya memahami keterangan yang tercetak di atasnya. Saya sangat fasih dengan bahasa yang digunakannya. Tapi tetap saja saya tidak bisa membaca peta itu. Saya map illiterate (buta peta) untuk peta yang sejenis ini. Itu harus saya akui. Dan itu bukan sepenuhnya salah saya. Di tanah air, benda-benda itu nyaris tak ada, belum pernah saya jumpai. Kalau saya memerlukan informasi tentang rute kendaraan umum, atau tersesat dan memerlukan petunjuk jalan, saya tinggal bertanya kepada orang yang kebetulan saya jumpai di jalan, dan orang itu hampir dapat dipastikan akan memberikan informasi yang saya perlukan.

Demi menjaga martabat, saya tidak bertanya lagi. Dengan susah payah saya mencoba memahami sendiri apa yang tercetak di atas peta. Namun apa daya, semua perjuangan itu cuma bisa mengantarkan saya ke pintu masuk menuju ke stasiun subway yang ada di tempat itu. Di sana saya ragu. Takut. Bagaimana kalau saya tersesat? Atau salah mengambil rute kereta? Atau … Otak kampung saya mulai membuat saya lumpuh.😦

Untungnya, di saat-saat gawat seperti itu, otak saya yang lain — otak akademis (?) — tetap jernih dan bisa menawarkan solusi yang saya perlukan. Dari bacaan yang dulu pernah saya baca, saya tahu New York adalah kota yang sangat teratur. Tata kotanya berbentuk grid (kisi-kisi) yang mengiris kota ini menjadi blok-blok. Nama jalan dinomori berurutan: dari kecil ke besar, dari selatan ke utara, dari timur ke barat. Saya mulai berhitung. Tujuan saya adalah 58th street. Saat itu saya berada di 42nd street. Artinya, saya hanya berada 16 blok dari tempat tujuan saya. Barangkali tidak terlalu jauh, saya pikir. Apa salahnya berjalan kaki. Toh saya ingin menikmati kota ini. Dengan berjalan kaki, saya bisa melihat lebih banyak; menggigit, mengunyah, dan menikmati manisnya Apel Besar ini sedikit demi sedikit. Maka saat itu juga saya putuskan untuk keluar dari terminal dan mulai berjalan kaki ke arah utara.

Saya tidak menyesali keputusan itu. Jarak 16 blok ternyata memang tidak terlalu jauh. Saya hanya perlu berjalan sekitar 30 menit untuk sampai ke tujuan, dan saya bisa melihat dan merasakan lebih banyak detak kehidupan di kota ini.

Saya bertemu dengan teman saudara sepupu saya itu di tempat yang telah disepakati di dekat tempat kerjanya, menyerahkan paket, dan ditraktir pizza. Dari dia saya mendapatkan petunjuk ke bank yang saya tuju. Lagi-lagi saya memilih berjalan kaki meskipun sudah diberi tahu dengan cukup detil bis atau subway mana yang bisa saya tumpangi untuk sampai ke tempat tujuan.

Bersambung …

2 pemikiran pada “Anak Kampung di New York

  1. Pantesan Pak adik sy ketakutan sekali kalau hrs mendapatkan jadwal berangkat ke Amerika sendiri…Bapak saja yg bhs Inggrisnya sdh mahir msh takut ketahuan wong desonya:) apalagi adik sy yg hanya seorang buruh dengan modal ijazah SMA dan bhs Inggris yg blepotan…bisa-bisa dia nyasar ke Itali…:)

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s