Perjumpaan dengan Puisi


Puisi itu hanya kita jumpai. Tentu kalau kita mencarinya, dan mengenali ciri-cirinya. Karena seringkali ia menyaru, ada di keramaian, wujud seperti yang lain, berlalu-lalang tanpa kita menyadarinya.

Puisi memang mahluk (yang agak) aneh. Nyeleneh. Kepada orang yang disukainya, ia suka menyelinap masuk ke kepalanya. Tanpa permisi. Ia lalu mengajak orang itu pergi. Sesuka hati. Si pujangga — demikian kita menyebut orang-orang seperti ini — pun biasanya pasrah, takluk. Ia tidak tahu akan dibawa ke mana, diberi apa. Tahu-tahu kepalanya penuh dengan kata-kata, hatinya tergerak, dan tanggannya mulai menuliskan apa yang dibisikkan oleh sang puisi.

Demikian kira-kira, biasanya, pengakuan pujangga jika kita bertanya bagaimana mereka menulis puisi.

Sebagai pembaca, mungkin ada baiknya kita juga bersikap seperti itu. Pasrah, takluk. Bukan seperti orang yang kalah perang, tapi seperti orang yang sedang mambuk kepayang. Apapun mau, sudi, demi si dia. Tak ada resistensi. Tak ada pra-anggapan atau prasangka apapun yang membuat kita tak dapat menerima kehadirannya apa adanya. Dengan cara itu, kita bisa memasuki jagat puisi — yang bagi kebanyakan orang seringkali terbungkus kabut — dengan pandangan yang jernih dan segar.

Terbungkus kabut, dunia puisi sering kali menjadi misteri bagi banyak orang. Seperti pemandangan di balik halimun, setiap orang bisa mempunyai pendapat yang berbeda tentang apa yang dilihatnya. Kita bisa membaca puisi yang sama, tapi pendapat masing-masing orang tentangnya bisa jadi berbeda. Membaca bersama barangkali bisa menjadi solusi. Hasil pembacaan yang berbeda-beda bisa jadi saling berseberangan, atau justru saling melengkapi. Tapi dengan cara itu, akhirnya kita akan bisa mengerti — menghargai, mengapresiasi — misteri itu, keindahan kedalaman ruang waktu yang ditawarkannya. Dan itu bisa sangat mencerahkan.

Nah, bagaimana? Sudah siap?  — Ingat: pasrah, takluk, tanpa prasangka, dan tanpa pra-anggapan apapun.

Perjumpaan Pertama

Pangrango
~ Goenawan Mohamad

Dari Pangrango:
Ilusi hujan

Suara ilalang gemetaran

Burung menginap
pada kawat telegrap

Kereta berseru
Ibu Ibu Ibu

Kau pasti tak di situ,
bukan?

Halte dingin batu

Kau tak di situ

Reaksi kita saat berjumpa dengan puisi boleh jadi, atau bisa dipastikan, berbeda-beda. Ada yang acuh tak acuh — “Ngga penting!”; ada yang tersentuh; ada yang bingung; ada juga yang berusaha berpikir dan memikirkan — mencoba menganalisa.

Yang acuh tak acuh barangkali beranggapan bahwa puisi tak penting. Kalaupun tak ada, orang toh masih bisa hidup nyaman?

Yang tersentuh barangkali bermenung. Kenapa aku tersentuh? Apa yang membuatku tersentuh? Atau, dia justru tak lagi bertanya, karena dia tahu betul apa yang membuatnya terpaku: kata-kata, citraan (gambar yang tercipta di kepala), bebunyian dan iramanya ketika dibaca.

Yang bingung mungkin merasa kosong saja. Tak ada apa-apa di kepalanya. Atau bertanya, “Apa sih ini?”

Yang analitis mungkin akan memperlakukannya seperti sampel mikroba di bawah mikroskop: mencoba meneropongnya, menggambarkannya, mengamati bagian-bagiannya, mencoba menerka dan mereka-reka apa dan bagaimana bagian-bagian itu.

Apa reaksimu? — Yang spontan dan tanpa prasangka.

Satu pemikiran pada “Perjumpaan dengan Puisi

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s