Mengunjungi Markas Besar PBB


Ini bagian kesepuluh dari My American Stories. Bagian kesembilan ada di sini.

Dari West 58th Street, tujuan saya berikutnya adalah ke Chase Manhattan Bank untuk menguangkan cek yang ada di tangan saya. Saya tidak ingat betul di cabang yang mana. Saya tidak mencatatnya. Saya cuma ingat, di bank itu saya juga mendapat jawaban yang sama. Saya tidak bisa mencairkan cek itu kecuali saya punya rekening di bank mereka atau di bank lain.

Begitulah cara kerja bank di Amerika. Semua transaksi keuangan akan dan harus tercatat, kecuali transaksi tunai antarorang.

Dengan jawaban itu, sesuai rencana, saya memutuskan untuk langsung ke kantor IIE (Institute of International Education), lembaga yang secara administratif mengurusi keperluan mahasiswa penerima beasiswa Fulbright di Amerika, termasuk mengeluarkan cek biaya hidup bulanan yang saya pegang saat itu. Dengan langsung mendatangi kantor mereka, saya berharap bisa mendapatkan uang tunai sebagai pengganti cek karena saya belum punya Social Security Number (SSN) yang menjadi prasyarat membuka rekening bank dan mencairkan cek yang mereka berikan. Pikiran saya memang terlalu naif saat itu. Tapi begitulah. Di sini pun saya mendapat jawaban yang sama. Transaksi dalam bentuk tunai tidak dimungkinkan.

Misi saya tidak berhasil, dan saya harus menerima kenyataan bahwa saya harus menunggu — entah untuk berapa lama — untuk mendapatkan SSN, membuka rekening di bank, dan mencairkan cek yang saya pegang. Untunglah, dari tanah air saya membawa cukup dollar, yang meskipun saat itu jumlahnya sudah semakin menipis, masih bisa dibilang cukup dan tidak membuat saya krisis.

IIE berkantor di United Nations Plaza di First Avenue, persis di seberang markas besar PBB. Oleh karena itu, meskipun misi tidak berhasil, saya cukup terhibur karena hanya dengan menyeberang jalan saya sudah berada di kompleks markas besar organisasi terbesar di dunia itu. Dengan takjub, saya mulai berjalan-jalan, memotret, dan berpose dengan latar belakang gedung yang wujudnya barangkali sudah dikenal oleh ratusan juta orang di seluruh dunia ini. Meskipun dijaga dengan cukup ketat, ternyata kompleks ini adalah salah satu atraksi wisata yang ditawarkan oleh kota New York. Hari itu saya lihat ada cukup banyak wisatawan yang juga berpose dan berfoto seperti saya.

Beberapa saat kemudian, saya melihat mereka mulai berbaris melewati tenda putih tempat pemeriksaan keamanan. Rupanya mereka sedang antri untuk masuk ke gedung dan mengikuti tur yang ditawarkan. Saya putuskan untuk mengikuti mereka. Kapan lagi saya bisa ikut masuk ke markas besar PBB, pikir saya.

Untuk mengikuti tur ini, pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar sebelas dollar, yang dengan senang hati saya bayarkan meskipun saya tahu saya tidak punya banyak uang.

Dari tenda putih tempat pemeriksaan keamanan tadi, kami diarahkan masuk ke Visitor Lobby, tempat kami dikelompokkan dan menunggu giliran untuk mengikuti pemandu wisata yang akan membawa kami berkeliling. Sambil menunggu giliran, kami bisa mengunjungi kedai-kedai cideramata dan melihat-lihat sejumlah peraga yang memberikan informasi mengenai sejarah Perserikatan Bangsa-Bangsa, badan-badan yang berada di bawah naungannya dan kegiatan-kegiatannya.

Ketika giliran kelompok kami tiba, pemandu menyapa kami, memperkenalkan diri, dan memberitaukan bagian mana saja yang akan kami kunjungi dan apa saja yang boleh dan tidak boleh kami lakukan selama tur.

Saya tidak bisa mengingat semua hal yang saya lihat pada hari itu. Tapi paling tidak ada tiga tempat yang tak dapat saya lupakan. Tempat pertama adalah salah satu bagian museum yang memeragakan dengan sangat hidup korban-korban dan kengerian yang terjadi selama Perang Dunia Kedua. Serangkaian foto tentang korban-korban bom atom di Hiroshima dan Nagasaki  nyaris membuat saya menitikkan air mata, meskipun saya tahu kengerian semacam itu mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan  penderitaan dan kesengsaraan bertahun-tahun yang ditanggung oleh jutaan rakyat Indonesia dan wilayah-wilayah lain di Asia yang menderita di bawah kebengisan tentara Jepang. Saya hanya berdoa mudah-mudahan kengerian  perang seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi dalam sejarah peradaban manusia.

Tempat kedua yang paling berkesan adalah General Assembly Hall (Ruang Sidang Majelis Umum) PBB, ruang yang sudah sering saya lihat di televisi; ruang tempat para pemimpin negara dari seluruh penjuru dunia berkumpul setahun sekali untuk memutuskan hal-hal penting tentang organisasi antarbangsa itu. Hal pertama yang saya tanyakan kepada pemandu tentu saja adalah di mana tempat duduk delegasi Indonesia, dan apakah saya bisa masuk dan duduk di sana. Pemandu hanya menjawab bahwa kami hanya boleh masuk sampai ke aisle (lorong) di belakang tempat duduk para delegasi, yang diurutkan berdasarkan urutan alfabet nama negara dalam bahasa Inggris, dari kiri depan ke kanan belakang. Berdasarkan itu, posisi delegasi Indonesia berada di tengah agak ke sebelah kiri. Namun tempat duduk ini digeser setiap tahun dengan memilih — melalui pemungutan suara — negara mana yang akan duduk di deretan depan paling kiri. Setelah itu, negara-negara lain menyesuaikan dengan bergeser satu kursi dari posisi semula.

Dari ruang sidang Majelis Umum, kami dibawa ke ruang-ruang sidang organ-organ lain PBB. Semuanya berkesan. Tapi tentu yang paling berkesan — paling berwibawa, menurut saya — adalah ruang sidang Dewan Keamanan (Security Council). Dibandingkan dengan ruang sidang Majelis Umum yang penuh dengan kursi — karena semua negara anggota terwakili di sana — ruang sidang Dewan Keamanan terasa lebih lega. Di sini hanya tempat duduk untuk 15 negara anggota (lima anggota tetap: Amerika Serikat, Britania Raya, Federasi Rusia, Perancis, dan Republik Rakyat China,  dan 10 anggota tidak tetap yang dipilih oleh Majelis Umum  untuk masa keanggotaan dua tahun). Tempat duduk delegasi negara-negara anggota ini disusun nyaris melingkar seperti tapal kuda. Meskipun — menurut saya — organ ini tidak selalu adil dalam keputusan-keputusannya, ada sedikit rasa takzim yang menyelinap di hati saya saat memasuki ruangan ini. Inilah satu-satunya organ PBB yang keputusan-keputusannya mengikat semua negara, tidak seperti organ-organ lain yang hanya bisa menyampaikan rekomendasi kepada negara-negara anggotanya.

Suasana di markas besar PBB saat itu cukup lengang. Nyaris tidak ada diplomat atau anggota delegasi negara-negara anggota yang kami temui hari itu karena PBB sedang reses.

Selesai tur, yang berlangsung kira-kira 45 menit itu, saya membeli beberapa suvenir kecil di toko cinderamata dan keluar dari kompleks. Tidak ada tujuan lain dari sana. Pokoknya jalan-jalan saja,  sambil menunggu jadwal keberangkatan bis yang akan membawa saya kembali ke Bethlehem.

Bersambung …

5 pemikiran pada “Mengunjungi Markas Besar PBB

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s