Hikmah


Bagi kebanyakan orang, hikmah, kewaskitaan — kemampuan untuk melihat dengan jernih dan terang benderang maksud Ilahi di balik sebuah peristiwa kehidupan — adalah sesuatu yang berjeda, yang pasca. Hanya jembatan waktu yang dapat membukakan kepada kita kebaikan-kebaikan di balik yang tampak buruk, dan keburukan-keburukan dari wujud yang baik.

Namun bagi sebagian kecil orang — orang-orang yang bening hatinya, yang selalu tersambung dan dihadapkan pada Sang Cahaya — ia nyaris tak berjeda. Hatinya terilham, menangkap dengan jernih, dengan seketika, setiap denyutan yang dibisikkan oleh Sang Cahaya. Dengan seizin-Nya.

Sang Maharahman tak pernah zalim kepada hamba-hamba-Nya. Ia Mahabaik. Semua perbuatan-Nya baik. Semua maksud-Nya baik. Sang Cahaya tak berwarna. Hanya kita, yang berprisma, menangkap bisikan-bisikan-Nya dalam warna-warna. Kita melihat merah sebagai merah, jingga sebagai jingga, kuning sebagai kuning, hijau sebagai hijau, biru sebagai biru, dan ungu, lalu gelap, hitam dan pekat. Padahal di balik semua warna itu, hanya satu: Bening!

Subhanallah! Mahasuci Engkau, wahai Tuhan. Engkaulah Cayaha di atas cahaya: bening, jernih tak terperi.

~ Renungan tengah malam, 3 Oktober 2012 ~

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s