Renungan Hari Guru Sedunia


Poster World Teachers’ Day 2012

5 Oktober. Banyak yang hafal kalau hari ini adalah hari TNI, Tentara Nasional Indonesia. Tapi tak banyak yang tahu bahwa hari ini juga adalah Hari Guru Sedunia (World Teachers’ Day). Jujur, saya juga akan lupa kalau bukan karena SMS seorang kawan yang pagi-pagi sudah mengucapkan selamat hari guru.

Hari Guru Sedunia (HGS) ditetapkan oleh UNESCO dan mulai diperingati setiap tahun sejak 1994. Tujuannya, sebagaimana dinyatakan oleh situs http://www.5Oct.org, adalah untuk “menggalang dukungan bagi guru dan menjamin bahwa kebutuhan generasi masa depan akan terus dipenuhi oleh guru”.

Pernyataan UNESCO itu mengisyaratkan bahwa guru adalah profesi mahapenting. Tanpanya, kebutuhan generasi masa depan akan terancam, dan peradaban manusia bisa menjadi genting. Kalau saya setuju seratus persen, itu bukan sentimen pribadi saya, yang kebetulan seorang guru. Memang, kita bisa belajar dari siapa saja. Dan orang yang mengajarkan apapun kepada kita bisa kita anggap sebagai guru. Tapi guru sebagai profesi adalah upaya peradaban untuk menjamin bahwa semua anak manusia berkesempatan untuk belajar dan membangun masa depan yang lebih baik. Guru (termasuk dosen) adalah profesi yang langsung menciptakan profesi-profesi lain. Tak ada, saya kira, profesi lain yang menciptakan guru, secara langsung. Sebaliknya, dokter, insinyur, pengacara, akuntan ada karena guru.

Guru, dan buku, adalah elemen terpenting dalam pendidikan. Bukan gedung sekolah atau tempat belajarnya. Orang bisa belajar di mana saja. Dengan bimbingan guru dan kegairahan untuk membaca, seorang anak nyaris bisa belajar apapun yang dia mau.

Guru adalah teman diskusi, narasumber klarifikasi, model dan pemberi contoh dan teladan, penyederhana yang sulit, jembatan ilmu, tongkat bagi kaki-kaki yang baru belajar berjalan. Guru adalah penunjuk jalan yang membantu siswa-siswanya membaca peta kehidupan, denah pengetahuan.

Sayangnya, dalam orde yang semakin kapitalistik, guru sering diperlakukan tak ubahnya buruh-buruh lain — seperti pekerja biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan manufaktur atau jasa di industri-industri lain.

Ia seperti mur dan baut saja dalam sistem besar yang bergerak karena dan demi uang. Sekolah menjadi bisnis, industri: ada yang berskala kecil, ‘rumahan’; ada yang menengah, ‘pabrikan’; ada yang juga yang berskala besar, berjaringan, waralaba, bahkan multinasional. Sebagimana bisnis-bisnis lain, bisnis sekolah juga berorientasi laba. Para pemilik modal tidak semata-mata dan serta merta menanamkan uangnya mendirikan sekolah demi alasan altruistrik dan filantropik belaka, tapi demi mendapatkan return, keuntungan, yang dihitung dan diperhitungkan layaknya dalam bisnis-bisnis lain.

Dalam sistem yang seperti itu, guru tak ubahnya pekerja, buruh, yang tenaga dan keahliannya dibeli dan diperhitungkan sebagai salah satu faktor biaya produksi saja. Itu pun seringkali tidak dianggap sebagai yang utama. Pemodal tentu ingin agar biaya produksi ditekan serendah-rendahnya agar modalnya dapat segera kembali, pinjaman ke bank dapat segera dilunasi, dan keuntungan dapat segera diraih. Dengan demikian, gaji guru pun harus ditekan sekecil-kecilnya dan produktivitas mereka diperas sebesar-besarnya untuk memberikan kepuasan kepada para pelanggan — siswa dan orangtua siswa.

Orangtua siswa, yang merasa sudah membayar jasa mereka — melalui perantaraan sekolah (toko) — pun merasa mereka bisa menekan guru. Apapun yang terjadi dengan anaknya, gurulah yang dianggap biang keladinya. Seperti pelayan di sebuah restoran, dialah yang pertama terkena damprat jika menu yang disajikan terasa kurang sempurna penampilan maupun rasanya. Mereka tidak tidak peduli akan fungsi-fungsi dan unsur-unsur lain di dalam sistem produksi, termasuk diri mereka sendiri sebagai pemasok bahan mentahnya.

Guru diikat dari atas dan dari bawah, dari kiri dan kanan. Selain manajemen dan konsumen, guru juga diombang-ambingkan oleh sistem pendidikan yang dipenuhi oleh ambisi-ambisi politik dan kepentingan-kepentingan kekuasaan golongan-golongan yang saling berseteru untuk mendapatkan keuntungan bagi diri dan kelompoknya: kurikulum, buku pelajaran, dan kebijakan-kebijakan pendidikan adalah refleksi tarik ulur kekuasaan (power stuggle) yang menguntungkan golongan yang kuat dan meminggirkan golongan yang lemah. Nuansa dan argumen-argumen ilmiah hanyalah bumbu penyedap rasa agar kepentingan-kepentingan yang mereka usung tak tampak mentah dan terlalu telanjang di hadapan publik. Kita tentu tak akan mau makan ayam mentah atau darah; tapi dalam sajian makanan berbumbu lezat dan tertata apik di meja restoran mewah, siapa yang ingat lagi mentahnya daging atau amisnya darah?

Guru kehilangan otonominya, kehilangan marwahnya. Geraknya nyaris tak lagi berdasarkan ilmu dan nuraninya, tapi siapa dan apa yang menggerakkannya. Ia seperti wayang yang meliuk-liuk membawakan cerita di tangan sang dalang. Seperti buruh di pabrik sepatu yang harus menghasilkan sepatu merek apa dengan model bagaimana, ia pun demikian. Ia dibayar untuk itu. Hidup matinya tergantung pada itu. Otonomi berarti kematian. Ilmu dan nurani hanyalah kembang, yang ia sematkan bila dirasa perlu demi keselamatannya sendiri. Ia menyesuaikan geraknya sedemikian rupa agar sesuai dengan musik yang dimainkan oleh pemilik modal dan konsumen jasa yang mereka tawarkan melalui perantaraan institusi yang diciptakan oleh para pemilik modal itu.

Ini pandangan pesimis, tentu saja. Tapi pantas direnungkan. Bisnis pendidikan bukan hanya perkara sekolah swasta, tapi juga sekolah negara. Terlalu rumit untuk menjelaskannya dalam tulisan pendek ini. Tapi barangkali pertanyaan ini bisa membuat kita memikirkannya: Adakah sekolah negara yang ‘baik’ di daerah miskin, yang berpenduduk miskin? Di manakah biasanya sekolah-sekolah negara yang elit, sekolah favorit, berada? Siapakah murid-muridnya?

Eki Qushay Akhwan

______________________

Catatan: Hari Guru Sedunia (World Teachers’ Day) tidak sama dengan hari guru di masing-masing negara. Di Indonesia, Hari Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November, hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s