Pengalaman Pertama Naik Bis MTA


Ini bagian kesebelas dari My American Stories. Bagian kesepuluh ada di sini.

MetroCard

Keluar dari kompleks Markas Besar PBB, saya kembali menyeberang jalan dan menelusuri First Avenue ke arah selatan. Seperti saya bilang sebelumnya, tidak ada tujuan pasti, karena saya memang tidak tahu apa-apa tentang kota ini. Sama sekali buta. Saya hanya ingin menghabiskan waktu dan menikmati apa yang bisa saya lihat sebelum kembali ke PABT (Port Authority Bus Terminal) dan naik bis yang akan membawa saya kembali ke South Bethlehem. Bis dijadwalkan berangkat pukul 4:00 sore. Saya tidak boleh terlambat, karena bis-bis yang berangkat sesudahnya tidak berhenti di South Bethlehem.

Terus terang tidak banyak yang bisa dilihat di sekitar situ. Tapi, bagi orang yang baru datang dari tempat yang sama sekali berbeda seperti saya, suasananya tetap saja menarik. Gedung-gedung tua berwarna tanah di sisi kanan jalan, taman-taman kecil, trotoar yang lebar dan bersih, dan East River yang berada di kiri jalan di belakang gedung perkantoran PBB, membuat saya merasa … “istimewa”. (Maaf, hanya kata itu yang ada di kepala saya. Saya tidak tahu, kata apa yang pas untuk menggambarkan suasana hati saya saat itu. Dumbfounded (?) — barangkali, dan kalau tidak berlebihan atau terlalu lebay menggambarkannya seperti itu.)

Lima blok kecil kemudian saya mendapati East 42nd Street. Yes! Ini jalan yang saya cari. Ini jalan ke terminal. Sudah dekat, saya pikir. Afterall, it’s the street where the terminal is. Saya tidak tahu bahwa tambahan kata East yang ada di depan nama jalan itu menunjukkan bahwa saya harus berjalan cukup jauh — delapan blok besar kalau dilihat di peta, dari ujung timur pulau Manhattan hingga nyaris ke ujung baratnya di mana terminal berada.

Saya mulai merasa agak kelelahan. Lapar juga. Saya tidak tahu di mana harus makan. Sudah pukul tiga lewat. Saya pikir, barangkali sebaiknya saya langsung kembali ke terminal saja, dan makan di sana. Lebih pasti dan aman, agar tidak ketinggalan bis.

Maka, di halte berikut saya putuskan untuk naik bis kota. Mengikuti kebiasaan saya di tanah air, saya bertanya kepada calon penumpang yang kebetulan sedang menunggu bis di tempat itu, bis mana yang harus saya tumpangi untuk sampai ke PABT. Ibu-ibu berkulit hitam yang saya tanya dengan ramah memberi informasi yang saya minta.

Bis yang saya tunggu tiba. Saya langsung naik. Tapi, alamaaaak …! Di pintu masuk, saya diminta memasukan MetroCard (kartu MTA), yang tentu saja tidak saya punya! Single ride, waktu itu, ongkosnya $2,25, kalau tidak salah. Saya sudah mengeluarkan uang, tapi ditolak oleh sopir. Mereka tidak menerima cash, hanya kartu yang harus dimasukkan ke mesin yang berada antara pintu masuk dan sopir. Saya hanya bisa celingak-celinguk. Malu. Untungnya sopir itu, seorang laki-laki berkulit hitam, baik. Dia mempersilakan saya masuk. Gratis!

Di Amerika, cara pembayaran ongkos angkutan umum (bis kota, subway, tram) berbeda-beda dari satu kota ke kota lain. Ada yang menggunakan kartu (seperti di New York ini), ada yang menggunakan koin (seperti di Boston), atau uang tunai (seperti di Bethlehem dan Allentown, tempat saya tinggal). Semuanya dimasukkan ke mesin. Tidak ada transaksi tangan. Tidak ada kondektur atau kenek.

Ini hal kecil, barangkali. Lucu, kalau dipikir sekarang. Memalukan, waktu itu. Tapi begitulah. Justru hal-hal kecil seperti itulah yang seringkali membedakan apa yang biasa kita kerjakan dan alami di tanah air sendiri dan apa yang kita alami dan kerjakan di negeri orang.

Ternyata jarak dari halte itu ke terminal tidak jauh. Tiga atau empat blok. Saya tidak ingat betul. Saya turun, berjalan kaki sedikit, dan tak lama kemudian sudah berada kembali di gedung terminal bus.

Bersambung …

_______________________________

Catatan:

MetroCard adalah kartu yang dikeluarkan oleh MTA  (Metro Transportation Authority), badan usaha yang mengoperasikan transportasi umum ( bis kota, subway, dan feri) di New York City dan sekitarnya. MetroCard dapat dibeli dan diisi ulang di ticket vending machines yang ada di terminal dan stasiun-stasiun subway.

2 pemikiran pada “Pengalaman Pertama Naik Bis MTA

  1. Menarik sekali Pak Eki. Saya punya pengalaman sama naik bus ‘community trans’ di Seattle-WA. Padahal saya sudah baca informasinya diwebsite berulang-ulang sebelum saya mencoba naik bus. Tapi pada prakteknya saya gugup dan tidak tahu harus dimana uangnya harus saya masukan. Saya tidak melihat box, “keresek atau kaleng”. Ternyata uangnya dimasukan kelubang seperti lubang uang dimesin ATM, lalu uangnya ‘tersedot’. Satu perkara selesai, perkara berikutnya saya tidak tahuarah rumah saya dimana karena bus stopnya pas sekali diperempatan jalan. Alhamdulilah ada GPS di HP. Sekarang sudah bisa naik bis dan punya kartu untuk bis dari sekolah hanya $25 qwarter pertama dan berikutnya hanya
    $ 15/quarter. Lumayan mengirit karena kalau bayar cash $1,75/route. Tapi mudah-mudahan sebelum tahun ini sudah dapat driver license. Bagi saya untuk lulus test tulisnya saja kaki dikepala, kepala dikaki. Tapi Alhamdulilah lulus ditest pertama. Tapi pada prakteknya masih bingung dengan aturan “right of way”. Hmm.. Jadi terinspirasi untuk menulis. Terimakasih Pak Eki.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s