Aku dan Puisi


Ini lanjutan dari Perjumpaan dengan Puisi.

Respon saya terhadap puisi tidak tunggal juga. Beragam dan bergulir. Dulu, saya pernah juga tidak peduli pada puisi; menganggap puisi sebagai suatu kesia-siaan. Tak ada gunanya. Tanpa puisi, ilmu tetap bekermbang, kehidupan terus berjalan, sampai, suatu saat, saya merasakan jatuh cinta. Dan puisi pun ‘mengutuk’ saya — atas kecongkakan saya selama itu. Melalui pintu asmara yang terbuka lebar, dia merasuk ke dalam diri saya tanpa ampun: mengaduk-aduk perasaan saya yang memang sedang mabuk kepayang dan memaksa saya untuk menuliskan bisikan-bisikannya. Saya pun takluk, mengikuti apapun maunya. Bersamanya saya diajak menyelam ke dunia rasa, dan makna serta kata-kata yang dapat mengungkapkan rasa itu.

Pernah juga saya merasakan melompong saja ketika bersentuhan dengan puisi. Tak ada reaksi apa-apa. Tapi tak lama, karena otak kiri saya segera mengambil kendali dan mencoba menganalisis, membedah, dan mencoba memahami puisi sebagai fenomena kebahasaan yang saya yakini memiliki aturan dan keteraturan yang dapat dipahami dengan cara berpikir ‘ilmiah’.

Moda ini cukup berhasil, tapi tak jauh. Kemajuan yang saya dapatkan dangkal saja. Isi puisi — dalam arti kata-katanya — memang berhasil saya pahami. Tapi rasa dan kedalaman pengalaman yang disajikannya tak tersentuh. Ada dimensi puisi yang terkunci dan bungkam dengan cara pendekatan semacam ini. Puisi menjadi benda mati yang menjemukan, bisu. Ia memperlihatkan wujudnya, tapi tak mengungkapkan ‘roh’-nya.

Untunglah, otak kanan saya yang imajinatif, visual, dan musikal menyelamatkan saya dari kejenuhan itu. Ia menunjukkan kepada saya betapa puisi adalah musik: ia berbicara (mengungkapkan rohnya) melalui alunan bebunyian, nada, irama, dan ketukan yang ternyata sangat indah. Kata-katanya ternyata juga tak bisu seperti yang kuduga semula. Dipahami melalui perspektif otak kanan, mereka seperti berlompatan menunjukkan imaji-imaji yang hidup — sangat visual, seperti menonton film dengan cerita dan kualitas sinematografi yang memikat. Mereka juga menggelitik imajinasi saya: bercengkerama layaknya kawan lama, mengajak saya menangis dan tertawa, menunjukkan pada saya sisi terang dan gelap jiwa manusia — kebahagiannya, kesedihanya, kekecewaannya, ketakutannya, keceriaannya — berbagi semua emosi yang ada dan pernah saya rasakan sendiri sebagai manusia.

Puisi ternyata hidup dan mahluk yang hangat seperti kita juga. Ia tak bisu, tak kikir. Ia senang berbicara dan berbagi, mendengarkan dan menasehati. Ia seperti kawan akrab. Malu-malu mungkin di awalnya, tapi begitu kita membuka diri, dia pun akan membuka dirinya dan menjadi sahabat yang baik.

* * *

Puisi itu. Ya puisi yang di depan itu. Pangrango. Coba dengarkan bebunyiannya, nada dan ketukan yang disuarakan oleh kata-katanya: hujan – gemetaran, menginap – telegrap, berseru – ibu, situ – batu – situ. Kalau kamu membacanya dengan irama yang ia mau, kamu pasti bisa merasakan bagaimana ia bernyanyi untukmu. Dan pasangan bunyi-bunyi itu terasa merdu.

Coba amati pilihan kata-katanya. Diksinya. Sederhana, konkret: hujan, ilalang, burung, kawat telegrap, kereta, ibu, batu. Kata-kata sehari-hari yang dapat langsung kita bayangkan — kita ciptakan gambarnya di kepala kita. Tapi justru karena itu, ia menjadi hidup. Seperti bioskop yang diputar di kepala. Kita seperti bisa melihat dan mengalami apa yang dilihat dan dialami oleh si persona (si narator, si penutur, si tokoh pencerita di dalam teks). Kita dapat merasakan betapa suasana dingin pegunungan di saat hujan, di suatu senja yang sepi mengigit hati.

Tak ada kata gunung. Hanya ‘Pangrango’ — nama gunung. Dan itu cukup untuk memberitahu kita tentang latar cerita, cukup untuk membuat kita ikut merasakan dingin udaranya. Tak ada kata kabut. Hanya hujan dan ilusinya. Dan itu cukup untuk membuat kita membayangkan ilusi yang diciptakan oleh hujan di pegunungan; kabut membuat semua tampak seperti lukisan cat air, monokrom. Tak ada kata sunyi. Hanya ‘Suara ilalang gemetaran’. Dan itu cukup untuk memberitahu kita tentang kekhidmatan suasana saat itu. Senyap membuat kita mampu mendengar suara bisikan rumput yang sehari-hari, dalam deru kehidupan yang memekakkan sanubari, tak mampu kita dengar. Tak ada kata senja. Hanya ‘Burung menginap pada kawat telegrap’. Dan itu cukup untuk membuat kita membayangkan senja lembayung yang menambah kekhidmatan suasana. Setting — latar — itu tergambarkan dengan nyaris sempurna dengan hanya sejumput kata-kata.

Lalu kereta yang berseru, ‘Ibu, Ibu, Ibu’. Kenapa ibu? Karena ia berseru /u/, dan ibu /u/ saling menggaungkan rimanya. Tapi juga karena ibu adalah simbol kasih sayang yang paripurna. Saat kita kecil, kita menjeritkan kata ibu ketika kita terluka. Dan itu tak pernah berhenti sepanjang usia. Ketika kita dewasa, ibu pulalah yang kita panggil saat derita menggunung dan air mata tumpah. Kita selalu merindukannya untuk memeluk kita, menggendong, dan menyeka air mata kita dengan ketulusan kasih sayangnya. Kereta tak punya ibu, tentu. Dan dia tak mungkin berseru-seru memangilnya. Tapi citraan itu mampu membangkitkan emosi kita: pastilah si tokoh, si pencerita, sedang terhimpit hatinya, sehingga peluit kereta pun terdengar seperti jeritan hatinya, memanggil-manggil ibu, ibu, ibu.

Dan halte pun terasa dingin, sedingin batu. Beku. Mencekam. Keras, sekeras kepastian bahwa ‘kau tak di situ’. Kau tak ada. Dan pada sepi gunung, rinai hujan, kabut, dan senja yang perlahan memekat itu, ketiadaanmu adalah sesuatu yang tak terjangkau.

Kau tahu, sekarang, betapa puisi bertutur? Bercerita? Begitu akrab dengan emosi dan perasaan kita sendiri, dengan pengalaman kita sendiri, dengan sisi kemanusiaan kita sendiri. Ia seperti kawan yang mengajak kita berdialog dengan diri kita sendiri. Ia bisa bercerita apa saja: tentang sunyi, tentang cinta, tentang nestapa, tentang bahagia; tentang hidup, tentang mati, tentang dunia dengan segala paripolahnya. Puisi adalah kita, dan kita adalah puisi — yang terbisukan oleh ingar-bingar kehidupan di luar diri kita.

Puisi, yang tampak pendiam, hemat tutur katanya, bisa menjadi teman dialong yang asyik, mengasyikkan. Banyak yang bisa kita pelajari tentangnya: pilihan katanya (diksi), suara dan nada bicaranya, tokoh-tokoh yang bermain di dalamnya (si pencerita dan kawan-kawannya), ceritanya, latarnya, pesan-pesan yang disampaikannya. Dia tak menggurui, saya kira. Tapi dia bisa menjadi guru yang baik tentang kehidupan kita sendiri.

Bersambung …

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s