Menjadi Pemulung di Negeri Orang


Ini bagian keduabelas dari My American Stories. Bagian kesebelas ada di sini.

Seperti saya ceritakan sebelumnya, saya berhasil mendapatkan apartemen (tempat indekos) yang berlokasi sangat strategis dengan harga yang sangat bagus hanya sehari setelah saya kembali dari perjalanan saya ke kota New York.

Alhamdulillah. Nasib saya cukup mujur dalam urusan ini. Saya datang terlambat — hanya seminggu sebelum perkuliahan dimulai — tanpa kepastian arrangement atau daftar apartemen atau tempat indekos yang bisa saya hubungi. Di saat seperti itu, tempat-tempat indekos terbaik biasanya sudah banyak yang dipesan, termasuk fasilitas perumahan di universitas (university housing) yang daftar tunggunya memang panjang. University housing menjadi favorit mahasiswa karena lokasinya berada di dalam kampus, fasilitas dan keamanannya lebih baik, dan harganya relatif lebih murah jika dibandingkan dengan pemondokan serupa di luar. Namun, rupanya, rumah yang ditakdirkan untuk menjadi tempat tinggal saya di tahun pertama perkuliahan saya di Amerika itu, baru saja selesai direnovasi, sehingga baru siap ditawarkan dan dihuni justru di minggu terakhir sebelum perkuliahan musim gurur dimulai.

Setelah menandatangani kontrak dan membayar uang jaminan dan sewa bulan pertama, saya segera pindah ke rumah itu. Di sini, lagi-lagi, saya cukup beruntung. Di kamar yang akan saya huni — yang letaknya di lantai dua — sudah ada ranjang dan kasur. Jadi saya tidak perlu membelinya. Namun hanya itu. Perlengkapan-perlengkapan lain seperti meja, kursi, dan lampu  belajar masih harus saya cari sendiri. Demikian juga dengan perlengkapan tidur (selimut, bantal, dan lain-lain), perlengkapan makan (piring, gelas, sendok dan garpu) serta peralatan memasak  — meskipun kompor gas dan  kulkas sudah menjadi perlengkapan standar yang tersedia di dapur.

Untuk membeli keperluan-keperluan tersebut, universitas menyediakan bis yang bisa mengantar dan menjemput kami ke Walmart. Bersama mahasiswa-mahasiswa lain, saya menghabiskan waktu nyaris setengah hari untuk berbelanja keperluan-keperluan tersebut. Dengan persediaan uang yang terbatas, saya hanya membeli barang-barang yang betul-betul saya butuhkan. Bertahap, saya pikir. Saya hanya akan membeli barang-barang kalau saya memang sudah betul-betul membutuhkannya. Maka di kesempatan pertama itu saya hanya membeli piring, gelas, sendok, garpu, pisau, panci, bantal dan selimut. Keperluan lain saya tunda membelinya.

Keputusan itu ternyata  sangat tepat, karena malam  itu, tepat di seberang jalan di depan rumah, di tempat pembuangan sampah, saya ‘menemukan’ meja, kursi, sofa, televisi, radio dan pemutar DVD tergeletak begitu saja. Mula-mula saya tidak tahu kenapa barang-barang yang masih tampak bagus itu bisa berada di situ. Tapi begitu Kiran — teman serumah, mahasiswa master tahun kedua — mengatakan bahwa itu semua adalah barang buangan yang bisa dipulung oleh siapa saja, saya langsung bersemangat. Tanpa pikir panjang, saya angkuti barang-barang tersebut ke kamar saya.

Luar biasa! Sekarang saya punya meja dan kursi belajar, sofa kecil, televisi dan pemutar DVD yang keadaanya masih cukup bagus tanpa mengeluarkan uang sedikitpun.

Ternyata demikianlah kebiasaan mahasiswa di negeri ini. Mereka yang sudah selesai kuliah dan harus meninggalkan apartemen yang mereka tinggali akan membuang dan/atau memberikan barang-barang yang mereka miliki kepada siapapun yang mau atau perlu dan bisa mengangkutnya sendiri. Barangkali karena mengangkut barang-barang itu ke luar kota ongkosnya lebih mahal dibandingkan dengan membeli barang-barang baru.

Barang-barang pulungan itu tentu tidak semuanya bagus, karena barang-barang yang masih bagus dan layak jual bisa juga dijual kepada sesama mahasiswa atau didonasikan kepada lembaga-lembaga amal. Atau, kalau pemiliknya merasa sayang dan merasa bisa mengangkutnya ke tempat tinggal baru mereka, mereka bisa juga membawanya.

Barang-barang yang saya pulung tadi barangkali tidak termasuk barang yang layak dijual, disumbangkan ke lembaga amal, atau diangkut ke tempat tinggal baru para pemiliknya. Tapi bagi saya, barang-barang tersebut masih cukup layak pakai, apalagi cuma untuk masa dua tahun ke depan.

Selain memulung, saya juga pernah mendapat warisan dan membeli barang-barang bekas yang dijual oleh mahasiswa yang telah selesai masa studinya.

 

Bersambung …

Satu pemikiran pada “Menjadi Pemulung di Negeri Orang

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s