Tentang Hidup dan Mati


Kita tak perlu takut pada kematian. Besok atau lusa, ditunggu atau tidak, dia pasti akan datang. Setiap yang hidup pasti merasakan mati. Begitu, kata kitab suci. Kita telah dijatuhi hukuman mati ketika kita dilahirkan. Hanya soal eksekusi dan waktunya saja.

Mati bukan pilihan. Ada dan tidaknya tak bisa dipilih. Hidup juga tidak. Kita tak pernah memilih untuk lahir dan hidup. Hidup dan mati, dua-duanya diberikan kepada kita sekaligus pada hari ketika kita menjadi ada. Kita tak punya pilihan.

Kita hanya punya pilihan ketika kita telah ada, di antara waktu kelahiran dan kematian. Hanya dalam rentang itu. Dan itu bisa pendek, bisa panjang.

Kita bisa memilih bagaimana kita mau hidup. Kita bisa memilih bagaimana kita akan mati.

Tidak. Aku tidak berbicara tentang pilihan tentang cara mati. Ketetapan eksekusi itu di luar jangkauan kita. Kita bisa menginginkan dan mengusahakannya, tentu. Menjaga kesehatan agar kita tak didekati penyakit-penyakit yang tak diinginkan, bisa jadi. Menjaga ada agar tak menjadi tiada. Menjaga asa agar tak menjadi sia-sia. Tapi itu semua tak menjamin kita mendapatkan apa yang kita inginkan: berumur panjang dan mati damai.

Mati selalu ditautkan dengan hidup. Seperti saat keduanya diberikan — dalam satu paket yang tak terpisah — seperti itu pulalah keduanya bergandengan tangan sepanjang ada kita. Apa yang kita lakukan pada hidup akan memengaruhi yang kita dapat dari mati.

Kalau sepanjang hidup kita menghormati mati; tahu bahwa dalam hidup ada mati, bahwa hidup menempel pada mati, dan mati pada hidup, kita akan hidup dengan sungguh-sungguh: memperlakukannya dengan penuh takzim, mengisinya dengan perbuatan-perbuatan mulia, menggunakannya untuk mencari dan menemukan makna — bagi diri dan sesama. Memuliakan hidup adalah memuliakan mati, menjadikan mati berutang kepada ada kita. Maka mati, ketika ia datang menggantikan hidup, akan membayar hutang itu: Ia akan memuliakan kita saat kita sudah tak ada.

Kita boleh jadi tak ada. Tapi karena kita telah memuliakan hidup — dan karena itu memuliakan apa yang menempel padanya, yaitu mati — maka mati pun akan memuliakan kita dan memberikan pada kita kehidupan yang telah diputarnya ke balik pintu dan disembunyikannya. Kita akan dibuatnya hidup abadi dalam ketiadaan.

Tak perlulah kita takut pada kematian, karena pada kematian yang telah dimuliakan oleh kehidupan, ada kehidupan yang abadi. Takutlah pada kehidupan yang tak memuliakan kematian. Karena dengannya kita menjadi tak ada dalam ketiadaan: punah, musnah.

Berbuat baiklah pada kehidupan agar kematian berbuat baik kepadamu. Karena sesungguhnya kehidupan dan kematian, keduanya tak pernah terpisah. Merekalah yang menjadikan kita ada. Mereka diberikan kepada kita sebagai satu: dalam hakikat, dalam waktu; dalam hakikat yang melahirkan waktu, dalam waktu yang menjadikan hakikat.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s