Perjalanan Menuju Tuhan


Saya selalu punya keyakinan bahwa meskipun hari ini sulit, esok pasti ada harapan akan adanya kemudahan. Pasti, karena Tuhan sendiri yang menjaminnya (QS 94:5). Optimisme harus tetap dijaga, harapan harus tetap dibina.

Keadaanku saat ini, harus diakui, sulit. Keyakinan saja yang membuatku tetap bermata cerah. Ada janji Tuhan. Ada Tuhan yang menopang, yang meyakinkanku bahwa pertolongan-Nya dekat. Dan siapakah yang janjinya lebih pasti daripada Tuhan? Siapakah yang kekuasaannya lebih tinggi daripada kekuasaannya-Nya?

Hanya kepada-Nya aku bergantung. Hanya kepada-Nya aku meminta pertolongan.

Bahwa aku orang yang berdosa, banyak dosa, juga harus diakui. Tapi bukankah Tuhan juga Maha Pengampun? Mahakasih, Mahasayang? Dan siapakah yang bisa dan paling berhak mengampuni dosa?

Aku pernah hitam, kadang-kadang masih hitam. Aku akui. Tapi dalam diriku juga ada ruh-Nya, cahaya-Nya. Setiap kali kegelapan datang, Cahaya itu selalu menunjukkan jalan, mengusir gelap itu. Mataku kembali melihat, kakiku kembali melangkah — ke sana, ke arah cahaya-Nya.

Ke mana pun aku melangkah, Dialah Panduku. Tak ada pandu-pandu yang lain. Paling tidak, tak ada pandu-pandu lain yang sengaja kuikuti.

Kadang-kadang aku tersesat oleh gelap yang kuciptakan, kuundang sendiri. Kadang-kadang aku terpalingkan oleh bisikan angin dari lembah-lembah nestapa. Kadang-kadang jiwaku tergetarkan oleh alunan harpa yang yang dipetik oleh si penggoda tua. Tapi Panduku tetaplah satu. Aku tak pernah bengkok tanpa kembali, kembali pada jalan Panduku.

Aku terseok-seok antara gelap dan terang, antara kelok dan lurus; tapi inilah jalanku — jalan yang harus aku lalui untuk sampai ke padang mahsyar, tempat aku akan bertemu Tuhanku, berhadap-hadapan dengan Wajah Panduku yang teduh penuh kasih. Inilah jalan yang harus aku lalui untuk sampai ke timbangan keadilan yang sempurna. Inilah jalan yang harus kutempuh untuk sampai ke tepian jembatan sirath. Apakah aku akan jatuh terjungkal ke lembah nar yang tiada berdasar? Atau sampai pada bukit salam dan istana kemuliaan?

Hanya Tuhankulah yang memberi. Hanya Dialah yang menentukan.

Aku kan tetap melangkah. Dalam gelap dan terang, dalam sempit dan lapang. Aku akan terus dan terus melangkah dengan satu pandu saja, pandu Tuhanku Yang Satu.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s