Selamat Datang, Wahai Penghujan!


Geludug. Angin. Dan air pun tumpah dari langit. Sepenuh hati. Sepertinya. Tak malu-malu, seperti yang lalu-lalu.

Inikah tanda musim penghujan telah datang? Ia yang hadirnya telah sekian lama tertunda. September, Oktober, dan November — yang panas, gelisah tak menentu. Terik yang kering. Mendung yang berkeringat. Tapi ia masih ragu, masih malu-malu. Tampaknya.

Semogalah ini menjadi pertanda, bendera kotak-kotak telah dikibarkan oleh semesta. Tanda penghujan akan segera berlari memenuhi panggilannya: membasahi bumi yang kerontang, mengisi kembali sumur-sumur yang surut nyaris menyentuh dasarnya, memberi minum bagi mahluk-mahluk yang dahaga akan rahmatnya.

Hanya aku minta, wahai hujan, janganlah kau murka pada kami, pada perbuatan sebagian dari kami, yang telah membabat musnah bukit-bukit tempatmu mencumbu bumi; telah menghalangi jalan-jalan airmu menuju pelukan laut yang kau rindu; telah meracuni birunya langit tempat kau menyemai rindumu pada segala yang kau cinta: pepohonan hijau, bukit, lembah, ngarai dan sungai; segala mahluk yang menggantungkan hidupnya pada curahan kasih sayangmu.

Kami hilap. Sebagian kami. Kami rakus. Sebagian kami. Kami bodoh. Sebagian kami.

Tapi tak semua kami seperti itu. Yakinlah, kami masih menyayangimu, merindukanmu, mendambakan hadirmu — banyak kami: kaulah sumber penghidupan, sumber kehidupan kami.

Wahai hujan, selamat datang! Kami menyambutmu dengan penuh suka cita, dengan penuh syukur pada Penciptamu.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s