Bertelepon di Amerika


Ini adalah bagian ketigabelas dari serial My American Stories. Bagian keduabelas ada di sini.

Berkomunikasi dengan keluarga di tanah air menjadi kebutuhan yang sangat penting ketika kita berada di negeri orang. Dengan kecanggihan teknologi telekomunikasi yang tersedia saat ini, kebutuhan itu semestinya tidak terlalu sulit untuk dipenuhi. Tapi pengalaman saya menunjukkan ternyata tidak semudah itu.

Beberapa hari sejak saya tiba di Bethlehem, saya nyaris tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman di tanah air. Hal itu membuat saya sangat gelisah. Saya ingin memberitahukan kepada mereka bahwa saya telah sampai dengan selamat, ingin bercerita tentang pengalaman dan hal-hal baru yang saya jumpai di sini, ingin melepas rindu. Tapi apa boleh dikata, meskipun sarana telekomunikasi sudah sedemikian canggih dan ada di mana-mana, saya tidak bisa mengaksesnya.

Apa pasal?

Saya tidak punya komputer dan akses internet. Di perpustakaan kampus, internet ada. Tapi saya tidak bisa menggunakannya karena saya belum mempunyai ID yang diperlukan untuk bisa mengaksesnya. Untungnya beberapa teman yang sudah lebih dulu datang (Vakhtang dan Kiran) berbaik hati meminjamkan ID-nya. Saya bisa menulis ratron (email) pada teman-teman saya di Bandung. Tapi saya tetap belum bisa menghubungi orangtua saya di kampung. Mereka tidak bisa memakai komputer, apalagi mengakses Internet. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan waktu itu cuma menulis kartu pos dan surat, yang saya tahu perlu waktu paling tidak seminggu untuk sampai ke tangan mereka.

Pilihan lain adalah menggunakan kartu telepon (calling card). Atas saran teman-teman, saya membelinya. Tapi ternyata inipun tidak mudah. Saya belum punya akses telepon di tempat indekos. Jadi, untuk menggunakan kartu telepon ini saya harus ke telepon umum — yang untungnya cukup banyak tersedia dan, tidak seperti di tanah air, kondisinya cukup baik dan terawat. Dengan bekal dua quaters (koin dua puluh lima sen-an), saya bisa memutar nomor interlokal Amerika yang tertera di kartu telepon, memasukkan sederet angka identifikasi, dan memutar kode negara, kode kota, dan nomor yang saya tuju di tanah air. Agak ribet memang. Tapi inilah cara termurah menelepon ke tanah air.

Tarif telepon per menit yang ditawarkan oleh masing-masing kartu telepon berbeda-beda, tapi tetap jauh lebih murah jika dibandingkan dengan menelepon langsung tanpa kartu telepon.

Kartu telepon yang pertama saya beli — seharga 10 dolar — ternyata tidak bagus kualitasnya. Sering gagal sambung. Akibatnya saya harus berulang-ulang mengeluarkan koin dua puluh lima sen-an untuk mengulang sambungan. Setelah tersambung pun, kualitas suaranya menyedihkan. Krosok-krosok (kata orang Jawa), kurang nyaring (sehingga saya kadang-kadang harus seperti berteriak-teriak); saya bisa mendengar tapi orang di seberang telepon tidak bisa mendengan atau sebaliknya, atau putus tiba-tiba. Betul-betul bikin frustrasi. Arghhh …

Begitulah perjuangan untuk bisa berbicara dengan keluarga dan orang-orang tercinta di tanah air.

Suatu hari ada teman yang memberi tahu bahwa telepon yang ada di lantai bawah tanah perpustakaan bisa juga dipakai untuk menelepon interlokal. Lumayan, katanya, bisa menghemat beberapa quarters yang diperlukan untuk menelepon server kartu telepon.

Sejak itu saya tidak lagi harus mencari telepon umum untuk menelepon ke tanah air. Cukup ke lounge di basement. Lebih nyaman, meskipun kadang-kadang harus antri karena banyak juga mahasiswa Amerika yang menggunakan telepon itu untuk untuk menghubungi keluarga atau teman-teman mereka yang berada di luar kota.

Suatu saat telepon itu tidak bisa lagi dipakai untuk menelepon ke luar kota. Hanya ke nomor lokal saja. Mungkin manajemen kampus akhirnya mengetahui nomor telepon ini sering dipakai untuk menelepon interlokal dan memutuskan untuk membatasi aksesnya.

Membeli Ponsel dan Memasang Telepon Rumah

Karena kesulitan-kesulitan itu, saya ingin segera punya ponsel dan/atau memasang telepon di tempat indekos.

Untuk memasang telepon di rumah, saya harus punya Social Security Number (SSN) dan credit record (catatan kredit). Tanpa itu mustahil saya bisa memasang telepon. Untuk punya ponsel juga demikian. Tidak seperti di Indonesia, ponsel tidak dijual bebas. Ponsel umumnya dijual dalam bentuk paket berlangganan pascabayar. Kita membeli paket servisnya (biasanya dengan mengikat kontrak selama satu tahun) dan mendapatkan ponselnya gratis atau membayarnya dengan harga murah. Oleh karena itu, jenis ponselnya juga tidak bisa bebas kita pilih dan ganti-ganti seperti di tanah air.

Ponsel prabayar memang tidak populer di Amerika. Kalaupun ada, tarifnya (lebih) mahal dan dalam bentuk inject (kartunya sudah menyatu di dalam telepon). Tapi demi dan karena ingin lebih leluasa berkomunikasi, saya akhirnya terpaksa membeli telepon prabayar ini juga. Di Walmart. Seharga — kalau tidak salah — tiga puluh lima dolar. Dan, kecewa! Untuk menelepon lokal saja, tarifnya 25 sen (sekira Rp 2500) per menit, dan tidak bisa dipakai untuk menelepon interlokal apalagi menghubungi nomor server kartu telepon.

Sabar! Ternyata itu kuncinya. Dalam dua minggu, kalau tidak salah, dan dengan bantuan universitas, saya akhirnya bisa juga mendapatkan SSN. Dengan SSN saya bisa membuka rekening bank, memasang sambungan telepon ke kamar saya (dengan uang jaminan karena saya belum punya catatan kredit), bahkan memasang internet.

Bersambung …

Satu pemikiran pada “Bertelepon di Amerika

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s