Pahlawan dan Kepahlawanan


Pahlawan yang kita rayakan hari ini adalah para patriot, orang-orang yang telah dengan gegap-gempita mengangkat senjata demi negeri, demi sebuah kata: merdeka!

Cinta pada tanah air, ingatan pada kenistaan harga diri yang terinjak-injak di bawah kaki-kaki bangsa asing, membuat pekikan ‘merdeka atau mati!’ di antara desingan peluru yang siap merobek dada menjadi begitu berarti. Apalah artinya hidup yang tak bermarwah? Mati membela hak dan harga diri lebih mulia daripada hidup tanpa tuah.

Itu enam puluh tujuh tahun yang lalu — suatu masa yang barangkali hanya bisa kita bayangkan. Dari kata-kata yang mulai menguning di buku-buku sejarah yang berdebu, kita hanya bisa mereka-reka gelegak apa yang mendidih di dalam jiwa paramuda itu hingga mati pun mereka rela, bahagia.

Dalam bingkai waktu kini, semua itu bisa jadi terasa tak masuk akal. Atau, kalaupun bisa dirasionalisasikan, semangatnya tak dapat sepenuhnya kita rasakan. Merdeka dalam arti politis tak lagi kita kejar. Kita merasa telah merdeka. Sepatu-sepatu lars dan moncong-moncong bedil bangsa asing yang dulu siap menginjak dan menyalak untuk membungkam suara-suara yang memperjuangkan persamaan hak, kini tak tampak lagi. Kita punya pemerintahan sendiri, yang kita pilih dari antara kita sendiri, dan untuk kepentingan kita sendiri. Dalam nama, paling tidak, kedudukan kita di hadapan hukum dan negara sama. Kita bukan budak di tanah sendiri.

Tapi perjuangan, seperti halnya hidup sendiri, bukan cuma soal patriotisme, apalagi patriotisme bersenjata.Tanah dan air ini telah kembali ke tangan kita. Bangsa-bangsa asing itu pun — secara nominal paling tidak — telah hengkang dari kampung halaman kita. Kita butuh patriotisme jenis lain. Lebih dari itu, kita perlu terus menghidupkan heroisme yang pernah menjadi ruh patriotisme bersenjata yang dimiliki oleh para pendahulu kita.

Heroisme — semangat dan sikap kepahlawanan — adalah kesediaan untuk berkorban, kemauan untuk meminggirkan egoisme demi sesuatu yang lebih besar, lebih esensial, di luar diri kita sendiri.

Kita sebagai individu adalah kecil. Semua yang berada di luar diri ini (semesta, manusia-manusia lain, bangsa) dan segala yang esensi (Tuhan, prinsip, ilmu, ideologi) adalah besar. Maka, tanpa kesediaan untuk mempersembahkan diri bagi sesuatu yang lebih besar, lebih esensial — tanpa heroisme — kita akan tetap kerdil. Heroismelah yang akan membuat kita besar tanpa membesar-besarkan diri.

Egoisme — hidup demi dan untuk kepentingan diri sendiri — adalah antitesis heroisme. Kepahlawanan adalah gelar besar yang menuntut sikap dan tindakan yang besar: memberikan diri yang kecil ini untuk sesuatu yang lebih besar. Tanpa ini orang tak kan pernah menjadi besar dan menjadi besar.

Namun jangan dibayangkan bahwa pahlawan adalah jenderal-jenderal berbintang, presiden atau politisi yang kebesaran namanya bergaung melintasi sekat-sekat zaman. Mereka bisa jadi pahlawan dalam nama dan gelar. Mereka, bisa jadi, memang berhak atas gelar itu. Tapi gaung nama yang diberikan — dianugerahkan — hanya akan menjadi papan nama jalan, yang diingat tapi tak dirasakan kehadirannya jika warisan perbuatan mereka tak dapat dirasakan.

Kita bisa menerima Soekarno dan Hatta sebagai pahlawan, bisa merasakan gaung gelar itu dalam nurani kita, karena warisan perbuatan mereka dapat kita rasakan hingga saat ini. Tapi bahkan tanpa gelar itu pun — seperti prajurit-prajurit tanpa nama yang gugur di medan laga — tetaplah pahlawan, karena warisan perbuatan mereka, pengorbanan mereka, dapat kita rasakan hingga saat ini. Soekarno, Hatta, dan prajurit-prajurit tanpa nama itu dapat kita sebut sebagai pahlawan dalam satu hembusan nafas yang sama tanpa jeda.

Dengan hembusan nafas yang sama pula, kita bisa menyebut orangtua kita, guru-guru kita, para ilmuwan, para pengarang yang karya-karya kita baca dan membuat hidup kita lebih berdaya sebagai pahlawan. Mereka telah memberikan diri mereka yang kecil untuk sesuatu yang lebih besar: kehidupan anak-anaknya, kemaslahatan umat manusia dan semesta, sehingga dunia ini menjadi tempat kehidupan yang lebih baik. Mereka telah mengabdikan eksistensinya yang kecil dan mengorbankan diri untuk hal-hal yang lebih besar dan esensial di luar dirinya sendiri.

Kita boleh jadi mempertanyakan niat mereka, altruisme mereka. Mereka Boleh jadi tidak selalu ikhlas dan bebas dari motif-motif egosentrik dalam perbuatan mereka. Tapi kenyataan bahwa mereka telah berbuat untuk sesuatu yang lebih besar di luar diri mereka sendiri adalah bukti tak terbantahkan bahwa mereka adalah pahlawan. Niat adalah teritorial Tuhan. Hanya Dialah Yang mengetahui dan berhak memberi atau menahan pahala atas niat. Kita, manusia, hanya melihat yang ternyatakan.

Di Hari Pahlawan ini, mari kita merenung: kita dan keberadaan kita adalah bentukan dari ribuan pahlawan di luar sana. Pada gilirannya, kita pun akan menjadi pahlawan. Kecil mungkin diri kita, kecil mungkin perbuatan kita, tapi jika yang kecil itu kita abdikan pada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, kita pun akan menjadi pahlawan. Kecuali, tentu, orang-orang yang ingin tetap kerdil dan tak peduli pada hal-hal besar dan penting di luar dirinya sendiri; orang-orang yang adanya sama dengan tak adanya; orang-orang yang merusak dan tak memberi maslahat dalam hidupnya.

Selamat Hari Pahlawan!

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s