Arkeologi Cinta


Cinta adalah ruang tak terdefinisikan. Ia ada, mengisi hati, kental dan berasa. Tapi ia tak pernah dapat kita genggam. Tak pernah kita tahu di mana batas-batasnya.

Dari mata barangkali ia datangnya. Lalu turun ke hati. Demikian pujangga lama menyebutnya. Tapi mata yang bagaimana, dan di bagian hati yang mana, tak pernah kita mengerti. Mataku tak memasukkan cinta yang sama dengan matamu. Dan begitu sampai di hati, ia langsung bersembunyi. Gelap, menyelinap. Mengendap-endap, tak tertangkap. Berbisik-bisik, tanpa berisik. Lalu — tiba-tiba — laku kita adalah lakunya. Tak rasional, bahkan susidal*.

Jangan-jangan — aku curiga — cinta tak pernah datang dari luar. Tak pernah lewat mata,  lalu turun ke hati. Para pujangga itu telah keliru.

Cinta telah ada di hati kita. Sejak lama. Aku curiga. Ia bersemayam dalam tidur panjang, seperti puteri mati suri yang menunggu sang pangeran tampan. Lalu, ketika sang pangeran itu mengecupnya, ia pun terbangun dari dipan.

They live happily ever after. Begitu dongeng-dongeng selalu menutup kisahnya.

Tetapi kenapa kisah cinta kita — cintamu, cintaku, cinta kebanyakan kita — tak berakhir begitu? Mungkinkah karena kita bukan pangeran dan putri (atau putri dan pangeran)?

Selalu saja ada yang menyesak ketika cinta tak lagi meruak. Kecewa dan amarah seperti sampah yang meruah-ruah. Lalu cinta seolah lenyap, kembali menyelinap dalam gelap.

Barangkali ia tidur lagi. Suri lagi. Menunggu pangerannya lagi. Tuba dari penyihir tua dan kutukannya kembali berkuasa.

Lalu apa — atau siapa? — sebenarnya cinta?

Barangkali ia adalah bayang-bayang kita sendiri. Aku curiga. Ia ada, selalu ada. Dalam gelap ia menghilang. Pada titik zenit ia menyatu dengan ada kita. Ketika cahaya di depan kita, ia di belakang kita. Ketika cahaya di belakang, ia di depan; di kiri, ia di kanan; di kanan, ia di kiri. Kadang panjang, kadang pendek; kadang agung, kadang ketek*.

Seperti cinta, ia tak pernah bisa kita tangkap. Kita mencarinya, mendambanya, seperti mencari dan mendamba cahaya. Dalam gelap, kita merindunya. Saat terik — dan cahaya ada di titik zenitnya —  kita lupa. Saat cahaya menyilaukan mata, kita tak melihatnya. Saat kita menoleh ke kiri, ia di kanan; menoleh ke kanan, ia di kiri. Hanya saat cahaya menepuk hangat punggung kita, kita sadar akan hadirnya. Ia ada di depan kita. Tapi itu pun tak selamanya. Cahaya terus berputar, seperti matahari yang beredar.

Cinta adalah bayang-bayang kita sendiri, yang kita cari, namun tak pernah kita tangkap. Ketika ia tak persis seperti yang kita inginkan, yang ingin kita lihat, maka ia menjadi seperti tak ada. Dan kita akan terus mencarinya. Dan mencarinya lagi.

Tak bisakah kita menerima: cinta tak pernah sempurna, tak pernah seperti yang kita damba? — Karena ia hanyalah bayang-bayang kita.

Kenali cintamu seperti kau kenali bayang-bayangmu sendiri. Lalu, terima.

 

__________________
* susidal — pengidonesiaan dari ‘suicidal’ (Bahasa Inggris): memusnahkan diri.
* ketek — (Bahasa Indonesia): kecil.

6 pemikiran pada “Arkeologi Cinta

  1. Karena cinta adalah konstruksi, seperti rindu. Pelakunya adalah kita. Dan kita yang membiarkan cinta menghegemoni diri.
    Kurasa..

    Keren pak ^^ suka bacanya🙂

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s