Naik Pesawat, Kata Temanku, Seperti Masuk dalam Tube Pasta Gigi


Tadi, setelah terbang sekitar satu setengah jam, aku sampai juga di Bali.

Kamu tahu, berapa lama aku harus menunggu untuk terbang satu setengah jam itu?

Hampir enam jam! Bahkan setelah masuk ke dalam pesawat pun, kami masih harus menunggu sekitar setengah jam sebelum pesawat mulai bergerak, dipacu, dan naik ke langit.

Tak ada yang menarik di udara. Tidak ada sensasi seperti dulu waktu aku pertama kali naik pesawat — tersenyum-senyum sendiri, mencubit tangan sendiri (untuk meyakinkan bahwa aku tak sedang bermimpi), deg-degan, geli. Puluhan jam kemudian — barangkali ratusan, karena aku tak pernah menghitungnya — dan setelah nyaris segala jenis pesawat pernah aku naiki, aku tak merasakan lagi keasyikan itu. Kecil besar, jauh dekat, duduk di dekat jendela atau di lorong, siang atau malam, semua terasa biasa saja. Naik pesawat, kata temanku, seperti masuk dalam tube pasta gigi.

Hanya dua atau tiga hal yang kadang-kadang masih bisa kurasakan keasyikannya: saat pesawat naik ke udara dan turun (barangkali kau sendiri tahu bagaimana sensasinya); atau, saat aku melihat mega-mega dan cahaya langit dan merasa betapa kecil diri, dan saat makanan dan minuman lezat disajikan oleh pramugari-pramugari cantik. Sensasi makan dan minum di ketinggian puluhan ribu kaki sungguh berbeda bagi manusia yang biasa berpijak di bumi seperti aku ini.

Tapi penerbangan tadi adalah penerbangan murah. Tak ada makanan hangat dan minuman segar yang tersaji. Dan pramugari-pramugari itu, cantik memang, tapi kurasa tak seramah pramugari-pramugari di kelas penerbangan yang lebih tinggi. Barangkali karena tak ada interaksi seperti saat mereka menyajikan makanan dan menawarkan pilihan minuman. Cara mereka — salah satu dari mereka — menegurku tadi juga kurang berbudi: “Matikan hapenya sekarang!”

Pesawat belum lagi bergerak. Dan aku sedang mematikannya. Tak bisakah dia mengatakan, maaf Pak, hapenya harus dimatikan sekarang?

Aku tak marah, hanya geli telinga saja. Aku maklum, barangkali dia sedang tergesa-gesa. Keterlambatan lebih dari lima jam mungkin telah membuatnya sedikit panik. Mungkin lelah juga. Mungkin karena terbiasa dengan penumpang-penumpang yang kurang berbudi juga.

Mega dan cahaya langit juga tak mungkin kunikmati tadi. Hari sudah gelap ketika pesawat mengudara. Sensasi tinggal landas pun, kau tahu, hanya sesaat. Setelah itu, hanya suara mesin yang lamat-lamat terdengar dari balik jendela.

Diam hening sungguh tak nyaman. Bosan.

Kuraih iPadku — fight mode on — dan kuputar lagu-lagu. Dua album Maroon 5. Yang lama, Songs about Jane, kurasa lebih asyik daripada yang Overexposed. Ada kenangan tersendiri pada Harder to Breathe, This Love, dan She Will Be Loved. Kubaca Nyanyi Sunyi Seorang Bisu Pram untuk menepis sensasi diam yang mulai menggelisahkan otakku. Membaca dan mendengarkan lagu. Hanya itu. Sampai pramugari mengumumkan kami akan mendarat, tak lama lagi.

Bandara Ngurah Rai seperti bandara di Hongkong. Landasan pacunya menjorok ke laut. Panjang. Begitu seingatku. Dari arah laut pesawat mendekatinya. Dan, mulus. Aku suka. Tak seperti Husein yang dikelilingi gunung dan lanskap perkotaan yang selalu bikin aku deg-degan. Pendek dan tak mulus. Rem seperti dipaksa bekerja ekstra agar pesawat yang sudah dengan susah payah diarahkan masuk di ujung landasan yang satu bisa pas berhenti di ujung lainnya. Tak ada ruang ekstra.

Malam ini aku tidur di Edotel. Di Sanur. Hotelnya anak-anak sekolahan.

Sampai jumpa besok.

4 pemikiran pada “Naik Pesawat, Kata Temanku, Seperti Masuk dalam Tube Pasta Gigi

  1. Semoga suatu saat nanti dan segera saya bisa merasakan ” tersenyum-senyum sendiri, mencubit tangan sendiri (untuk meyakinkan bahwa aku tak sedang bermimpi), deg-degan, geli.” Merasakan di dalam Tube Pasta Gigi yang terbang ^^

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s