Cirque de Soleil Ala Bali


Orang Inggris menggunakan sight and sounds untuk menggambarkan ‘rasa’ sebuah tempat. Kukira ada yang kurang dalam gambaran seperti itu.

Bagiku, aroma tak kalah penting dalam ingatan kita tentang sebuah tempat. Tanah, air, dedaunan, jalanan, bangunan, dan segala yang mengisi ruang udara memiliki aromanya sendiri. Pada pantai, kau tak mencium gunung. Pada debu yang diterbangkan angin, kau tak mencium basah yang turun dari langit bersama air hujan. Dan lumpur tak sama dengan aspal, dedaunan dengan bebatuan, hewan dengan manusia.

Apa yang kau lihat dan kau dengar tak lengkap tanpa apa yang kau cium. Semuanya menjadi gumpalan memori yang tak terpisahkan dalam otakmu.

Begitulah.

Kemarin dulu, waktu kakiku kembali menjejak pulau ini, kota ini, ingatanku akan aromanya kembali mengetuk ruang memoriku.

Hampir sepuluh tahun aku tak ke sini. Banyak yang telah berubah, the sight. Sepanjang Jalan Bypass, yang dulu banyak ruang-ruang kosong, sekarang penuh dengan bangunan. Jalanan di kota ini terasa lebih bising, lebih banyak mesin — the sounds. Apa yang kulihat dan kudengar telah banyak yang berubah. Udara pun terasa lebih pekat — bebauan yang dulu cuma tipis dan lamat-lamat, kini mulai menyusup lebih dalam, menggeser bau dedaunan dan tanah: bau mesin dan bensin.

Tapi ada ada bebauan khas yang tak berubah dari kota ini, pulau ini: bebungaan, pandan, dan dupa. Dan kau tak perlu jauh melangkah untuk dapat menciumnya. Ia ada di mana-mana. Menyatu dalam kehidupan pulau ini.

Keluar dari pintu bandara dan melangkah masuk ke taksi kemarin dulu, aku langsung mengenalinya. Aroma itu. Aroma yang tak kudapati di tempat-tempat lain yang pernah aku kunjungi. Taksi itu seperti pintu masuk ke ruang-ruang yang menyimpan kenangan-kenanganku dulu, tentang tempat ini. Ia menjadi penanda bahwa aku telah sampai, ke masa lalu, dan ke masa yang sambung-menyambung telah menjadikan tempat ini, tempat ini.

Aroma itulah yang telah membentuk Bali, seperti Bali membentuknya. Ia menjadi perwujudan rohnya. Ia seperti bayi yang lahir dari perkawinan mesra alam nan jelita dan manusia rendah hati yang mencinta belahan jiwanya dengan sepenuh hati. Ialah yang telah menghadirkan Dewata dalam setiap detak kehidupan di pulau ini.

Aku tak tahu apakah aroma itu akan terus ada. Atau, seperti sight and sound-nya, akan tertelan kabut asap dan deru mesin modernitas dan gairah mengejar harta.

Sungguh sayang kalau itu terjadi. Tempat ini tak kan lagi menjadi tempat ini. Ia hanya akan menjadi satu di antara banyak tempat yang sama.

Devdan

“Spektakularitas seperti itu bisa dihadirkan di mana saja: di Paris atau Las Vegas, New York atau Hongkong. Dan kini, Bali. Dan meskipun tajuknya Treasure of the Archipelago , Pusaka Nusantara, pusaka itu tak wujud. Hanya simbol-simbolnya saja, …”

IMG_1392 - DEVDAN THEATER BALIDevdan bukan Ketut, Made, atau Nyoman. Saya tidak tahu dari mana nama itu berasal, atau nama siapa. Tapi konon ia menjadi kegemparan baru di pulau ini. Seorang penulis wisata bahkan membandingkannya dengan Cirque de Soleil yang kondang itu.

Ini jenis pertunjukan teater baru, yang isinya konon mencoba meringkas kekayaan budaya pertunjukan Indonesia dari Sabang sampai Merauke dalam satu kemasan modern berteknologi tinggi bagi para pelancong yang belum pernah atau tak sempat mengunjungi daerah-daerah lain di Indonesia selain Bali. Spectacular stage show. Demikian tag line yang dipakai untuk menggambarkan pertunjukan ini.

Beberapa teman ingin menonton. Aku tak mau ketinggalan, tentu. Mahal, bahkan sangat mahal, tak jadi soal. Untuk hal-hal yang bersifat kultural semacam ini, biasanya aku memang tak keberatan.

Makan Senin malam itu, hari pertama lokakarya kami, kami putuskan untuk menonton.

Junike, teman kami, orang Jakarta, mengatur agar kami mendapatkan tarif khusus. Bukan dolar dalam hitungan puluhan, tapi rupiah dalam hitungan ratusan ribu yang lebih murah.

Spektakuler, ya. Beberapa bagian pertunjukan ini memang memukau. Akrobatik dan teknologi panggung yang mampu menunjukkan percintaan di udara dan peri yang turun dari langit untuk menghidupkan kembali seorang ksatria yang telah mati; efek api, air hujan, dan petir dari panggung yang dilengkapi penyembur api, kolam yang konon berisi 90.000 liter air, dan tata cahaya dan tata suara yang canggih, membuat banyak penonton terpesona.

Aku, tak terlalu.

Menghibur, ya. Tapi, bagiku, tak lebih menghibur daripada acara televisi, atau konser, atau sirkus. Ini bukan acara Kultural (dengan K besar), saya kira. Hanya dongeng fantasi untuk anak dan remaja, orang-orang yang kekanak-kanakan, penikmat diskotik, atau orang-orang yang kebanyakan uang tapi tak begitu faham budaya dan selera.

Aku tak bermaksud songong, dan bukan tak sadar ini dunia posmodern. Tapi sungguh ini bukan seleraku.

Perjalanan dari Bali, ke Sumatra, ke Jawa, ke Kalimantan, dan Papua — sebelum akhirnya kembali ke Bali lagi — seperti buih; roh yang yang menjadikan Bali Bali, Sumatra Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Papua tak ada. Mereka hanya hadir dalam simbol-simbol tak bermakna. Hambar. Mereka hanya hidup dalam raga-raga berbalut bedak dan gerak-gerak spektakuler yang menyembunyikan ketiadaan roh.

Spektakularitas seperti itu bisa dihadirkan di mana saja: di Paris atau Las Vegas, New York atau Hongkong. Dan kini, Bali. Dan meskipun tajuknya Treasure of the Archipelago , Pusaka Nusantara, pusaka itu tak wujud. Hanya simbol-simbolnya saja, persis seperti benda-benda yang dikeluarkan oleh sepasang anak kecil dari peti harta yang mereka temukan, event yang menjadi pengikat narasi pertunjukan ini.

Bali yang eksotis ternyata tak mampu menahan dan tak imun dari virus-virus posmodernisme dan penyakit-penyakit yang ditimbulkannya.

Sungguh sayang. Aku hanya bisa berharap, semua itu hanya gejala — seperti batuk dan pilek yang akan menghilang seiring berlalunya musim pancaroba. Tapi, kau — seperti juga aku — tahu, batuk pilek kadang tak bisa dianggap remeh, dan boleh jadi adalah gejala kehadiran penyakit-penyakit yang lebih serius.

Kuharap semua yang Bali, rohnya Bali, tak akan pupus seiring sight and soundnya yang mulai tersusupi hal-hal yang tak Bali. Kuharap aroma pandan, bebungaan, dan dupa itu akan selalu mengawalnya, menghubungkan masa lalu dan masa depannya dalam ikatan yang selalu menghadirkan Dewata dalam setiap geraknya.

_____________

Aku telah kembali ke rumahku semalam. Seminggu di Bali. Tapi masih ada sedikit cerita yang ingin kubagi dari perjalananku kali ini. Barangkali esok aku bisa menuangkannya dalam kata-kata.

Selamat malam. Selamat beristirahat.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s