Musim Gugur dan Perayaan Thanksgiving


Ini bagian keempat belas dari serial My American Stories. Bagian ketiga belas bisa dibaca di sini.

Beberapa minggu setelah perkuliahan mulai, musim gugur mulai tiba. Aku menikmati setiap keindahannya dengan penuh ketakjuban: warna-warninya, aromanya, sejuk udaranya. Setiap hari, setiap berangkat dan pulang kuliah, kuamati dengan penuh kekaguman hal-hal kecil yang belum pernah kulihat dan kurasakan sebelumnya. Perubahan warna-warni dedaunan pohon-pohon oak dan maple yang berderet-deret di sepanjang Packer Avenue, juga di taman-taman yang mengelilingi setiap gedung yang ada di kampus ini, sungguh indah. Aku suka tekstur batang kayunya, bentuk dan warna-warni daunnya, dan tamu-tamu kecilnya.

Ya, musim gugur adalah musim tamu bagi pohon-pohon ini. Tamu-tamu imut itu sibuk berlarian ke sana ke mari mengumpulkan biji-bijian yang ikut digugurkan bersama dedaunannya yang warna warni. Bajing-bajing abu-abu itu sibuk mengumpulkan bekal makanan musim dingin yang akan segera tiba.

Bajing abu-abu Amerika Utara.
Bajing abu-abu Amerika Utara.

Sesekali aku ikut berlomba dengan mereka mencari dan mengumpulkan biji-bijian itu. Mereka tampaknya tak terlalu peduli dengan kehadiranku. Hanya kalau aku terlalu dekat dan mencoba memotret saja mereka berlari menghindar sambil menengok-nengok penasaran. Sulit sekali memotret binatang-binatang mungil itu. Kamera kecilku tak bisa mengimbangi kegesitan aksi mereka.

Kadang-kadang terpikir olehku, apa jadinya kalau binatang-binatang mungil itu hidup di Indonesia. Barangkali mereka akan nyaris punah juga seperti saudara-saudara tropisnya yang suka makan kelapa. Aku hampir tak pernah melihat mereka lagi sekarang. Padahal waktu kecil dulu aku sering menjumpainya. Daging bajing konon gurih, dan mereka cukup mudah diburu. Waktu SMP teman-temanku suka menjadikannya sasaran latihan tembak dengan senapan angin yang baru mereka beli. Waktu itu senapan angin sedang ngetren. Orang yang punya dan bisa mengoperasikan senapan angin dianggap keren. Mungkin karena itu bajing dan burung-burung yang waktu kecil sering aku lihat jadi nyaris punah jadi sasaran latihan menembak mereka.

Mungkin karena tak diganggu (dan tak boleh diganggu karena dilindungi), bajing-bajing Amerika itu jadi cukup jinak, tidak terlalu peduli dengan kehadiran manusia, asal tak terlalu dekat.

Saya suka Acorn, biji pohon oak. Gurih rasanya. Hanya cangkangnya keras sekali. Kita perlu alat khusus untuk memecahkannya. Di musim dingin, biji-biji itu dijual juga di supermarket dengan biji-bijian lain dalam kantong yang dilabeli assorted nuts. Isinya bermacam-macam dan harganya cukup mahal.

Musim gugur berlalu cepat sekali. Selain kuliah — yang di minggu-minggu pertama nyaris bikin saya ‘gegar otak’ — dan mengamati warna-warni musim gugur, cuma ada dua atau tiga peristiwa lagi yang cukup berkesan dan saya ingat dengan baik: berpuasa Ramadan, merayakan Idul Fitri, dan diundang makan malam untuk merayakan Thanksgiving.

Thanksgiving di Amerika dirayakan pada hari Kamis keempat bulan November. Tahun itu perayaan jatuh pada tanggal 27, persis sehari setelah Idul Fitri. Saya, atau kami — mahasiswa-mahasiswa asing dari banyak negara, menerima undangan untuk merayakannya di rumah salah satu tokoh masyarakat setempat.

Thanksgiving2Sehari sebelum kami pergi ke acara itu, kami diminta untuk menyerahkan file foto tentang negara kami masing-masing. Setiap orang akan diberi waktu 3 sampai 5 menit untuk mempertunjukkan foto-foto itu dan bercerita serba sedikit tentang negaranya sebelum acara makan malam dimulai. Kami juga diminta untuk memakai pakaian nasional. Saya memakai batik, dan mempertunjukkan foto-foto tentang Bandung, Borobudur, dan Bali yang kebetulan saya punyai.

Acara makan malam yang menjadi tradisi Thanksgiving itu sangat berkesan karena itulah untuk pertama kalinya saya mengalami dan merasakan sendiri hal-hal yang sampai saat itu cuma saya ketahui dari bahan bacaan. Kalkun panggang, labu/waluh, saos cranberry, kentang tumbuk, ubi merah, jagung rebus, roti jagung, salad, kacang merah, tumis buncis, dan segala macam hidangan khas Thanksgiving harus saya akui cukup lezat dan eksotis, meskipun di lidah saya tetap tak selezat citarasa masakan tanah air sendiri.

Memasuki bulan Desember, udara semakin dingin. Pohon-pohon meranggas, tak lagi berdaun, kecuali pohon-pohon evergreen — cemara dan sejenisnya — yang tak terlalu banyak di sekitar kampus. Kami menantikan musim dingin. Saya sendiri, di lubuk hati yang terdalam, menantikan turunnya salju.

Sebelum berangkat dulu, saya diberitahu bahwa musim dingin di Amerika Timur Laut bisa sangat dahsyat. Salju bisa turun demikian derasnya dan menimbun apapun yang ada di atas bumi sampai puluhan sentimeter tebalnya. Orang-orang setempat kurang suka musim ini. Musim repot yang yang menyulitkan kegiatan-kegiatan di luar rumah. Musim yang mahal juga, karena biaya pemanasan rumah yang harus dibayar.

Semua itu tak terpikir olehku. Aku justru menantikan turunnya salju — kalau perlu sederas-derasnya — karena aku sangat ingin melihat dan merasakan sendiri pemandangan yang sampai saat itu cuma bisa aku lihat di gambar-gambar kalender, kartu pos, ilustrasi buku, atau film-film yang aku tonton: musim salju yang dahsyat!

Pengalaman saljuku di Amerika, yang aku nantikan itu, sebenarnya bukan pengalaman pertama. Lima belas tahun sebelumnya aku sudah pernah melihat dan mengalami sendiri bagaimana wujud dan rasa salju ketika aku mengunjungi pegunungan Koya (Koya-San) di Prefektur Wakayama, Jepang tenggara. Namun waktu itu salju yang turun tidak terlalu tebal dan lembut. Tipis saja, dan saljunya agak kasar. Mungkin karena waktu itu baru akhir November. Musim dingin belum lagi masuk waktunya. Kali ini aku ingin mengalami musim salju yang sesungguhnya. Tebal dan dahsyat. Aku membayangkan, betapa indahnya. Semua serba putih. Dalam angan-anganku waktu itu, barangkali aku bisa bermain lempar-lemparan bola salju, membuat boneka salju (snowman), atau bahkan berseluncur seperti yang pernah aku lihat di film-film.

Bersambung ….

2 pemikiran pada “Musim Gugur dan Perayaan Thanksgiving

  1. mau nanya gan.. apa di usa ada orang atau lembaga yg menyeponsori seseorang utk datang dan tinggal di amrik? sponsor dalam bentuk pinjaman gt. coz pengen bngt reside di amrik tp duit ga ada. kalo ada please say ya. thanksss

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s