Berpuasa dan Berlebaran di Amerika (Bagian Pertama)


Ini bagian kelima belas dari serial My American Stories. Bagian keempat belas bisa dibaca di sini.

Ketika saya tiba di Bethlehem, PA, dan di kampus Lehigh University, saya nyaris tidak punya informasi apapun mengenai komunitas Muslim di kota ini, di dalam maupun di luar kampus. Kesalahan saya. Saya tidak melakukan riset atau mencoba menghubungi siapapun untuk menanyakan hal ini sebelum keberangkatan saya.

Kelalaian itu barangkali disebabkan karena keyakinan saya bahwa ke manapun saya pergi, saya pasti akan berjumpa dengan saudara-saudara seagama. Apalagi kota ini tidak terlalu jauh dari New York City dan Philadelphia, dua kota yang memiliki komunitas Muslim yang cukup besar di Amerika. Selain itu, saya juga punya keyakinan bahwa di manapun saya berada, saya akan tetap bisa menjalankan kewajiban-kewajiban agama saya tanpa harus bergantung pada ada atau tidaknya saudara-saudara seagama. Shalat dan puasa dapat saya lakukan di manapun. Shalat Jumat, yang harus dilakukan di masjid, juga tidak wajib dilakukan manakala kita tak dapat menemukan mesjid atau jemaah yang memungkinkan kita untuk melakukannya. Dalam keadaan darurat, hukum rukhsah berlaku. Islam memberi banyak keringanan ritual manakala keadaan tidak memungkinkan ritual itu dijalankan sebagaimana mestinya.

Tentu saja saya menanyakan hal-hal itu — keberadaan komunitas Muslim dan masjid — kepada Bill Hunter, direktur Office of International Students and Scholars di Lehigh University, begitu saya bertemu dengannya di hari pertama kedatangan saya di kampus. Jawaban yang saya terima kurang konklusif. Muslim Students Association (MSA) tampaknya belum cukup solid di kampus ini. Mereka belum mempunyai sekretariat tetap dan atau diberi ruangan khusus yang bisa dipakai untuk keperluan-keperluan peribadatan seperti shalat dan pengajian. Oleh Bill, saya hanya diberi nomor kontak ketua/koordinator MSA yang bisa saya hubungi untuk menanyakan segala sesuatunya.

Tiga minggu setelah kedatangan saya, saya baru bisa menghubungi Ali, mahasiswa S3 asal Mesir yang menjadi ketua/koordinator MSA. Kami membuat janji bertemu, dan melalui dia, saya diperkenalkan dengan mahasiswa-mahasiswa Muslim lain dan diajak ke mesjid untuk shalat Jumat.

Sambutan saudara-saudara seagama ini sungguh luar biasa. Ukhuwah langsung terasa di hari pertama kami berkenalan. Meskipun berasal dari penjuru dunia yang saling berjauhan dan belum pernah berjumpa sebelumnya, keakraban dan persaudaraan langsung terasa. Sebagian besar mahasiswa Muslim di sini berasal dari India, Pakistan, Timur Tengah, dan Turki. Saya satu-satunya orang yang berasal dari Indonesia. Selain itu, ada dua orang mahasiswa asal Malaysia. Dua-duanya mahasiswa S1.

Di Lehigh waktu itu memang nyaris tak ada mahasiswa asal Indonesia. Saya diberitahu oleh Bill bahwa selain saya, di kampus kami cuma ada satu orang lagi mahasiswa asal Indonesia, yang saat itu hampir menyelesaikan studi S1-nya. Saya tidak sempat bertemu dengan dia karena dia sudah selesai ketika saya baru saja mulai. Namun semester itu, Lehigh kedatangan seorang peneliti asal Indonesia yang melakukan kegiatan studi pascadoktoral (saya lupa namanya) dan mengangkat seorang dosen baru berkewarganegaraan Indonesia. Namanya Nelson Tansu, anak muda Indonesia yang luar biasa, yang di usianya yang kedua puluh lima, waktu itu, sudah menggenggam sejumlah hak paten atas beberapa hasil risetnya di bidang teknologi nano, dan atas prestasi-prestasinya itu, ditawari untuk mengajar dan meneliti serta diberi kedudukan sebagai profesor di Lehigh.

Nelson menjadi teman baik saya selama saya belajar di Lehigh. Dia penyuka makanan-makanan lezat. Di akhir pekan dia sering mengajak* saya untuk menemaninya berwisata kuliner ke Philadelphia, New York, Allentown, atau di sekitaran Bethlehem. Dari dia saya tahu restoran-restoran lezat yang menyajikan masakan-masakan China dan Asia tenggara, juga restoran Amerika. Restoran favoritnya adalah Restoran Penang di Philadelphia dan Eastern Palace, restoran China di Linden Street, yang cukup sering kami kunjungi manakala kami merindukan citarasa masakan dari tanah air sendiri.

Sejak kedatangan Nelson, Lehigh menerima dua mahasiswa lagi asal Indonesia. Satu orang atas biaya sendiri. Dia anak Surabaya yang sudah setahun tinggal di Los Angeles untuk kursus bahasa Inggris dan mempersiapkan studi magisternya. Di Lehigh dia belajar civil engineering (teknik sipil) untuk mendapatkan gelar Master of Engineering. Satu lagi datang atas sponsor Nelson untuk membantunya melakukan riset sambil menyelesaikan studi S2-nya di bidang electrical engineering. Dia research assistance (asisten peneliti), istilah yang diberikan kepada mahasiswa yang membantu seorang profesor melakukan penelitian untuk mendapatkan beasiswa guna menyelesaikan studinya.

Mesjid MSA

Di lantai dua restoran inilah masjid MSA berlokasi. Jendela di lantai atas itu adalah jendela masjid.
Di lantai dua restoran inilah masjid MSA berlokasi. Jendela di lantai atas itu adalah jendela masjid.
Masjid MSA di Universitas Lehigh waktu itu sebenarnya bukan masjid dalam arti yang sesungguhnya, namun hanya sebuah apartemen dua kamar yang disewa secara bergotong-royong oleh para mahasiswa Muslim untuk keperluan shalat berjamaah, shalat Jumat, dan khalaqah (pengajian). Apartemen itu terletak di lantai dua, di atas Restoran China Hop Hing (?), yang terletak di pojok Broadhead Avenue dan West 4th Street. Apartemen ini milik si penguasaha restoran, pasangan suami-istri China Amerika yang berasal dari Malaysia yang beremigrasi ke sini dan sudah menjadi warga negara Amerika. Mereka masih bisa berbahasa Melayu. Akses ke ‘masjid’ ini ada di belakang restoran, di sisi Broadhead Avenue.

Ruang tengah apartemen dipakai sebagai ruang shalat. Satu kamar, yang dilengkapi dengan kamar mandi, dipakai untuk menyimpan barang-barang inventaris masjid dan tempat berwudhu. Kamar lainnya dipakai sebagai tempat menyimpan buku-buku dan ruang baca. Pada hari Jumat, pintu kamar perpustakaan ini dibuka untuk menambah ruang agar bisa menampung jamaah shalat Jumat.

Apartemen ini juga dilengkapi dengan sebuah dapur, lengkap dengan kompor listrik dan kulkas ukuran jumbo. Fasilitas ini kami pakai untuk menyimpan makanan dan minuman alakadarnya. Makanan dan minuman itu — yang disumbangkan secara suka rela oleh jamaah dan/atau dibeli dari uang kas masjid — kami nikmati bersama-sama setiap selesai shalat Jumat, shalat maghrib dan isya berjamaah, dan sehabis khalaqah.

Ramadan

Ramadan tahun itu jatuh di akhir Oktober. Sudah masuk musim gugur. Puasa jadi lebih ringan karena waktu siang lebih pendek. Pada hari pertama, tanggal 27 Oktober, matahari terbit sekitar pukul 06:20 dan terbenam pukul 17:05. Hari-hari berikutnya matahari terbit semakin siang dan terbenam semakin awal.

Kegiatan bulan Ramadan tidak jauh berbeda dengan apa yang biasa saya lakukan di tanah air. Saya sahur dan buka seperti biasa. Juga shalat tarawih dan bertadarus. Bedanya, di Amerika, kami minoritas. Suasana Ramadan tak tampak sama sekali di luar masjid. Semua orang masih melakukan kegiatan seperti biasa. Tak ada penjual kolak atau manisan yang biasa kita jumpai di tanah air. Menu makanan pun tidak ada yang berubah. Tidak ada yang istimewa dan diada-adakan seperti di negeri sendiri. Saya masak apa yang bisa saya masak, atau membeli makanan dari luar kalau terlalu sibuk dan tugas-tugas kuliah menumpuk. Di akhir pekan, saya sesekali mencoba memasak kolak sendiri dari bahan-bahan yang tersedia, sekedar untuk mengobati kerinduan pada suasana Ramadan di tanah air.

Berbuka puasa bersama dan shalat tarawih di masjid agak berbeda dengan apa yang biasa saya alami di tanah air. Suasananya lebih mirip suasana di Timur Tengah atau anak benua India. Kami hanya makan kurma. roti pita yang dicelup dengan saos kari, dan salad atau buah-buahan saat berbuka puasa. Itupun serba sedikit. Shalat tarawih juga jauh lebih lama, karena imamnya teman-teman dari Timur Tengah yang — barangkali karena tradisi — membaca surat-surat panjang dalam setiap rakaat. Surat Al Baqarah untuk dua rakaat, Surat Ali Imran untuk dua rakaat, dan seterusnya. Mereka tidak hafal surat-surat ini. Mereka membawa Al Quran di tangannya dan membacanya ketika menjadi imam. Saya belum pernah melihat ini sebelumnya di tanah air.

Lama-kelamaan saya agak keberatan juga ikut shalat tarawih berjamaah. Saya tidak bisa konsentrasi karena memikirkan buku-buku yang masih harus saya baca dan tugas-tugas perkuliahan yang harus saya selesaikan. Karena hal itu, setelah Ramadan berjalan beberapa hari, saya biasanya hanya ikut berbuka dan shalat maghrib dan isya berjamaah. Setelah itu saya pulang dan shalat tarawih sendiri di rumah.

Meskipun demikian, sedapat mungkin saya berusaha untuk ikut kegiatan-kegiatan Ramadan yang dilakukan oleh MSA, di antaranya khalaqah dan tadarus, yang biasanya dilakukan sore hari menjelang waktu berbuka dan setelah shalat maghrib sebelum waktu isya.

Tadarus dilakukan dalam kelompok yang dipimpin oleh teman-teman dari Timur Tengah. Kami duduk melingkar dan membaca Al Quran secara bergiliran, urut dari satu surat ke surat lain. Pemimpin kelompok ‘bertugas’ membimbing dan mengoreksi bacaan dan tajwid anggota kelompoknya. Di antara teman-teman yang sangat aktif di MSA, ternya banyak juga yang bacaan Al Qurannya masih belum bagus. Teman-teman dari Afrika, India, Pakistan, dan Turki sering harus dibetulkan karena kesalahan pelafalan dan tajwid. Bacaan mereka juga banyak yang putus-putus, tak lancar. Karena hal inilah barangkali Ali, ketua MSA yang berasal dari Mesir itu, agak terkejut ketika tiba giliran saya membaca. Menurut dia, bacaan saya mulus, pelafalannya tepat, dan tajwidnya bagus. Saya juga hafal surat-surat yang agak panjang dalam Juz Amma dan kadang-kadang bisa ikut mengoreksi kesalahan bacaan teman-teman.

Ali curiga — tepatnya bertanya — di mana saya belajar membaca Al Quran seperti itu. Dia mengira saya pernah belajar di Timur Tengah atau dari guru yang berasal dari negara Arab. Saya hanya tersenyum dan mencoba menjelaskan bahwa di Indonesia, atau tepatnya di tempat saya bersekolah dulu — di SD dan SMP Muhammadiyah — kami mendapat pelajaran tajwid dan wajib hafal minimal Juz Amma sebelum mengikuti ujian akhir.

Sejak dan karena kejadian itu, saya, yang biasanya menjadi jamaah baris belakang yang banyak diam, diminta untuk menjadi imam dan menjadi khatib shalat Jumat. Permintaan itu saya tolak dengan halus dengan berbagai macam alasan. Saya merasa tidak cukup alim dan shaleh untuk menduduki posisi-posisi tersebut. Namun Ali dan teman-teman dari Timur Tengah terus mendesak. Dan saya tetap tidak mau, meskipun kemudian — beberapa bulan setelah kejadian itu — saya akhirnya terpaksa (dipaksa oleh keadaan) menjadi khatib shalat Jumat karena teman-teman yang biasa menjadi khatib berhalangan.

Bersambung …

6 pemikiran pada “Berpuasa dan Berlebaran di Amerika (Bagian Pertama)

  1. Ceritanya inspiratif sekali pak. Saya pengen bisa kaya bapak, sering-sering berpergian di dalam dan luar negeri. Pengen nemuin secara langsung berbagai hal baru di luar buku-buku yang bisa dibaca di perpustakaan. Semoga saya juga diberi kesempatan buat ngerasain sholat dan puasa di negeri orang. Aamiin

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s