Picean


Tadi malam aku bertemu dengan Bintang. Dia teman lama. Tak akrab. Jarang bertemu. Kami berbincang.

Seperti dulu, dia masih saja lancang. Itulah sebabnya aku kurang suka padanya. Sepertinya ia selalu tahu apa yang ada di balik kulitku.

Kata Bintang, aku ini secretive — tak terbuka, suka menjaga rahasia.

Bagaimana dia bisa tahu tentang hal itu? Padahal aku tak terbuka padanya, dan menjaga rahasia itu darinya?

Barangkali dia hanya meramal. Memang itu pekerjaannya.

Katanya, aku lembut, sabar, dan sensitif. Juga agak plin-plan, mudah terombang-ambing oleh keadaan.

Apa maksudnya!??

“Kamu simpatik, mudah bergaul, dan mudah terharu. Kamu seniman sejati yang tak punya ambisi. Hidupmu digerakkan oleh mimpi-mimpi dan imajinasi.”

Ingin rasanya aku bangkit dari meja kopi itu, dan meninggalkannya sendiri. Aku tak suka dikuliti seperti ini, meskipun cuma untuk diriku sendiri. Tapi aku terlalu sensitif. Aku tak ingin membuatnya tersinggung, meskipun kata-katanya nyata-nyata telah menyinggungku. Sabar. Bagaimanapun juga dia masih temanku. Dan apa kata orang nanti kalau aku meninggalkannya begitu saja, teman lama yang sedang berbicara? Bisa musnah citra simpatikku. Aku tetap mencoba tersenyum.

“Kamu sadar itu?” katanya, mencoba memancing responku.

Aku bergeming. Atau, barangkali hanya mencoba menjadi pendengar yang baik. Apa jadinya kalau aku seceloteh dia? Penceloteh berhadapan dengan penceloteh, siapa yang akan menyimak?

“Karya-karyamu itu. Kamu menulis dengan begitu indah. Di tanganmu, kata-kata bisa menjadi begitu lentur, hidup. Aku selalu mengagumi itu pada dirimu. Tanganku terlalu kaku, meskipun harus kuakui lidahku tak sekelu itu. Kamu seniman kata!”

Di ujung ini dia tertawa, mencoba mencairkan suasana.

Terus terang aku mulai suka dengan pujian-pujiannya ini. Tersanjung tingkat III. Senang, geli — teringat pada judul sinetron seri di tivi.

“Dan karya-karya fotografimu itu? Aku selalu suka pada garis-garis geometrinya. Laten. Presisi. Tegas, tapi tak kaku … Dinamis, hidup, seolah-olah menari diiringi musik yang keluar dari jiwa dan imajinasimu yang lentur.”

Aku hanya manggut-manggut, tersenyum.

“Sayangnya kamu tak punya ambisi, tak suka bersaing. Padahal kalau kamu mau, kamu bisa lebih hebat dari banyak orang yang aku tahu. Bakat dan kemampuan mereka tak seberapa dibandingkan denganmu. Tapi mereka fight, fight, fight! Ambisi mereka kuat dan tak takut terjun bersaing menantang takdir.”

Aku mulai tak suka lagi dengan kata-katanya ini. Ambisi? Apa dia pikir ambisi bisa menyelesaikan semua masalah? Dunia ini sudah terlalu penuh dengan masalah yang lahir karena ambisi yang tak terkendali.

“Bagaimana dengan pacar-pacarmu yang dulu?”

Aku tak tahu apakah dia sedang mencoba mengalihkan pembicaraan, melihat pancaran mataku yang mulai tak suka. Atau, justru sedang menyiapkan bom pamungkasnya. Kukira dia juga tahu tentang kehidupan asmaraku yang tak pernah sempurna.

“Terus terang, aku sering iri padamu. Pacar-pacarmu cantik, seleramu tinggi. Sepertinya mudah sekali bagimu mendapatkan perhatian mereka. Kamu flamboyan. Idola banyak perempuan.”

Di titik itu, sunggingan di sudut bibirnya mengisyaratkan ironi. Aku tak suka. Makin tak suka.

Harus kuakui kata-katanya benar. Aku sering jadi idola. Cinta cukup mudah bagiku. Kukira, aku pun pencinta yang baik. Aku setia — sejauh yang kutahu dan kusadari. Memanjakan dengan sepenuh jiwa kekasih-kekasihku. Aku selalu ingin berbagi, apapun, utuh, suka dan duka, antara aku dan kekasihku saja. Tapi itu semua ternyata cuma kaca mataku saja. Aku sering dibutakan oleh kaca mataku sendiri.

Cinta, mungkin, memang tak ada yang sempurna.

Dan sungging senyum ironis itu, cukup kiranya mengakhiri catatan ini.

Picean.

2 pemikiran pada “Picean

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s