Obrolan Yang Paling Tak Disukai


Survei ini menunjukkan bahwa responden tidak menyukai obrolan tentang:

  • Gosip (yang cenderung mengungkapkan aib orang dan tak jelas kebenarannya),
  • Politik,
  • Urusan pribadi (yang menyangkut privasi dan mengganggu harga diri orang),
  • Agama (yang dogmatis dan intoleran terhadap perbedaan),
  • Tahyul (dan hal-hal yang tak masuk akal),
  • Uang (yang tidak pada tempatnya).

_____________________

Beberapa waktu yang lalu, ‘iseng’ saya melakukan survei kecil-kecilan kepada teman-teman saya di Facebook dan Twitter. Pertanyaan yang saya lontarkan adalah:

“Obrolan (tentang) apa yang paling tidak Anda sukai?”

Ini pertanyaan terbuka. Setiap orang boleh memberikan lebih dari satu jawaban.

22 orang merespon pertanyan tersebut: 19 orang di Facebook, dan 3 orang di Twitter. Total jawaban yang diberikan berjumlah 31.

Jumlah responden — 22 orang — tentu tidak bisa dianggap sebagai sampel yang representatif, kalau jumlah teman dan pengikut saya di kedua media sosial itu dianggap sebagai populasi. Saya punya 1517 teman di Facebook dan 425 di Twitter. Namun sebagai sebuah kajian awal, jawaban mereka menarik dan mungkin bisa menjadi bahan renungan.

Nyaris sepertiga (32,25%) dari jawaban yang saya terima menyatakan bahwa mereka tidak menyukai gosip. Ini dinyatakan oleh responden dengan eksplisit, dengan menyebut kata ‘gosip’, maupun dengan kalimat-kalimat seperti “[obrolan] tentang keburukan orang lain yg blm tentu bener, dibahas bukan dengan nada curhat melainkan dengan nada kebencian yg menjatuhkan org tersebut” atau “omongan ttg orang lain, lawan politik, partai tertentu, tokoh tertentu dgn tendensius.” Jawaban ini menempati ranking pertama dari semua jawaban.

Urutan kedua ditempati secara bersama-sama oleh Politik dan Urusan Pribadi. Kedua-duanya dinyatakan masing-masing oleh 19,35% jawaban. Dalam hal politik, seorang responden menyatakan dengan tegas tidak suka dengan pembicaraan mengenai politik di Indonesia. Pembicaraan mengenai urusan-urusan pribadi yang tidak disukai antara lain adalah pertanyaan mengenai kapan menikah, kapan lulus kuliah, kapan punya pacar, dan pembicaraan mengenai prestasi dan kehebatan diri sendiri.

Menyusul, di urutan ketiga, 12,9% menjawab bahwa mereka tidak menyukai pembicaraan-pembicaraan tentang tahyul atau “Obrolah yang tidak masuk akal”.

Di urutan keempat, 9,67% jawaban menyatakan bahwa mereka tidak menyukai pembicaraan tentang agama. Pernyataan itu dimanifestasikan dengan jawaban-jawaban seperti: “[Pembicaraan mengenai] agama di ruang publik. Apalagi membanding-bandingkannya dengan agama lain. Juga tentang teori konspirasi seperti zionis/illuminati/freemason, dll.” Atau, “Kalau saya, sering risih dengan obrolan tentang ‘tata cara ibadah dan pemahaman beda itu kafir’.” Dan, “Clashes among different beliefs/religions.”

Hal terakhir yang plaing tidak disukai oleh responden adalah pembicaraan mengenai uang. Jawaban ini ternyatakan dalam 6,45% dari total jawaban, dan diungkapkan dengan kata-kata seperti, “[Pembicaraan] ttg uang yang tidak dalam konteksnya”, dan “[Pembicaraan tentang] MLM”.

Simpulan dan Tafsir
Tidak banyak simpulan yang dapat ditarik dan tafsir yang bisa diberikan mengenai hasil survei yang kurang ilmiah ini. Tapi, paling tidak, dari hasil survei ini saya memperoleh gambaran bahwa teman-teman saya tidak suka gosip, tidak suka mencampuri urusan pribadi orang (atau orang mencampuri urusan pribadinya), jenuh dengan pembicaraan mengenai politik, tidak suka sikap-sikap keberagamaan yang dogmatis dan intoleran, dan tidak bisa menerima obrolan tentang uang yang tidak pada tempatnya.

Barangkali sikap-sikap seperti itu ada hubungannya dengan tingkat pendidikan mereka, yang mahasiswa, sarjana, atau lebih tinggi dari itu. Barangkali bisa dikatakan juga bahwa sikap irrasional, intoleran, dan ‘kampungan’ (membicarakan hal-hal yang remeh tentang orang lain yang belum tentu kebenarannya serta tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya) adalah sikap-sikap yang tidak berterima di kalangan intelektual dan orang-orang yang cermat dan cedas cara berpikirnya.

Sekecil apapun nilai kebenaran hasil survei ini, saya bangga mempunyai teman-teman yang punya sikap seperti itu.

Kecuali mengenai politik, yang kadang-kadang masih suka saya obrolkan, saya setuju dengan pendapat teman-teman di atas.

Bagaimana denganmu?

3 pemikiran pada “Obrolan Yang Paling Tak Disukai

  1. Yang menjawab tidak suka gossip, apabila bukan wanita maka kemungkinan besar sedang berbohong. Saya pernah dengar bahwa gossip itu berguna untuk social control dan sudah diwariskan di gen manusia sejak zaman purbakala. Hanya sekilas pembelaan dari saya yang suka bergosip hehe.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s