Menulis dan Senggama


Menulis adalah perkawinan diri dengan semesta kata-kata.

Aku berkata, perkawinan: apa yang ada di dalam dirimu — di kepalamu, di dalam perasaanmu — harus menyatu sempurna dalam senggama yang orgasmik, sehingga benih-benih gagasanmu dan perasaanmu mampu merasuk memasuki rahim semesta bahasa dan mewujud menjadi janin yang kelak akan lahir dan menjalani kehidupannya sendiri.

Senggama mungkin soal mudah kalau hanya dimaknai sebagai hubungan seks, persetubuhan dua badan tanpa komitmen apapun. Tapi senggama sebagai ekspresi cinta dan laku prokreasi, di mana kedua belah pihak saling memberi dan menerima, dengan ikhlas dan demi pencapaian makna-makna yang lebih tinggi, tak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa dan hanya untuk kepuasan sepihak semata. Cinta dan komitmen suci yang mengikat (pernikahan) harus menjadi dasarnya. Sentuhan dan rayuan awal yang menggugah dan menaikkan hasrat dan kepasrahan menjadi bagian dari proses, sebelum puncak tercapai dan orgasme menyatukan mimpi-mimpi dan mengangkatnya dari alam bawah sadar ke dunia terang yang ekspresif.

Begitulah kira-kira proses kreatif — perkawinan — yang menyatukan dirimu dengan semesta bahasa dalam menulis.

Kita tak mungkin menulis tanpa mengenali diri sendiri, tanpa cinta, tanpa komitmen, dan tanpa aspirasi prokreasi yang mengangkat tindakan-tindakan yang mundane ke ranah kebermaknaan yang lebih tinggi.

Mengenali diri sendiri adalah mengenali wujud gagasan, perasaan, dan tekstur suaramu sendiri: apa yang ingin kau tulis dan bagaimana suaramu membunyikan dan mewujudkannya.

Kadang-kadang kita tahu betul gagasan dan perasaan kita dan yakin betul dengan suara kita. Ini kondisi yang ideal. Kadang-kadang gagasan dan perasaan itu masih kabur, namun suara kita lantang dan jernih. Dalam keadaan ini, kita barangkali hanya bisa bersenandung: bernyanyi tanpa syair yang jelas. Kadang-kadang gagasan dan perasaan telah jernih mengkristal, namun suara kita sedang terganggu: tenggorokan kita sedang sakit, atau kita baru saja mendengarkan nyanyian penyanyi idola dan terpengaruh oleh gayanya menyanyi. Kita tak punya suara sendiri. Suara itu terkubur. Yang keluar hanya suara palsu. Kadang-kadang gagasan dan perasaan kita kabur, suara kita pun terkubur. Dalam keadaan seperti ini, tak ada yang bisa ditulis. Kalaupun dipaksakan, kita hanya akan mencemooh dan mempermalukan diri sendiri.

Cinta adalah rasa suka, energi pengabdian yang mampu membuat kita terus bergerak dan mencurahkan perhatian kita pada apapun yang (akan) kita tulis. Ia adalah benih komitmen yang kita perlukan, karena menulis bukan cuma menorehkan kata-kata pada lembaran kertas atau bit-bit yang mewujud sebagai karakter di layar komputer. Ia adalah proses berpikir, meriset dan mengumpulkan bahan, mereka-reka dan menyusun jigsaw puzzle yang kelak membentuk wacana.

Menulis adalah proses prokreasi yang tak berbeda dengan proses prokreasi yang dilakukan oleh sepasang suami istri; proses kehamilan yang — meskipun ditanggung oleh istri — tak dapat dilepaskan dari tanggung jawab suami untuk mendukung, memberikan kasih sayang dan nafkah yang pantas demi kesejahteraan ibu dan bayinya. Dalam proses prokreasi ada harapan akan lahirnya mahluk baru yang sehat dan berkualitas yang akan melanjutkan dan memperbaiki kehidupan di semesta raya.

Kadang-kadang proses-proses itu tak mulus. Masalah bisa datang dari sisi kita: sperma (benih gagasan) yang bermasalah, kekasaran dan ketaklihaian dalam bermain cinta sehingga istri (jagat bahasa) menjadi frigid atau bahkan trauma sehingga merasa terpaksa saja dalam melakukan persenggamaan. Tanpa kerja sama yang baik — ikhlas, penuh cinta — dari sang istri (jagat bahasa), proses prokreasi akan terganggu. Kita barangkali bisa mendapatkan kenikmatan. Namun apalah arti kenikmatan itu bila istri merasa diperkosa dan tak terpenuhi hak-haknya?

Demikian, kadang-kadang kita bisa menghasilkan tulisan yang memuaskan kita, namun tulisan itu kita hasilkan dengan memerkosa bahasa — tanpa ketakziman yang semestinya kita berikan kepada wadah yang memungkinkan kita mewujudkan gagasan dan perasaan kita. Karya-karya semacam itu bisa jadi baik dalam wujud; namun, secara batiniah ia cacat. Boleh jadi, bahkan, ia cacat lahir dan batin. Tulisan menjadi tak nyaman dibaca — lamat-lamat ada yang kurang, ada yang mengganjal, ada yang tak sempurna.

Masalah juga bisa datang dari istri (sang jagat bahasa), ketika ia enggan dan tak terpanggil, tak berhasrat, untuk bersetubuh dengan kita. Ia menjadi frigid dan bungkam, kaku, sehingga apa yang ada di batin kita tak sepenuhnya tersalurkan.

Menulis adalah kerja sama kita dengan bahasa dalam kedudukan yang setara — duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Seperti halnya dalam proses prokreasi yang terjadi antara suami istri, kita tak bisa memperlakukan bahasa hanya sebagai alat, seperti halnya kita tak boleh memperlakukan istri hanya sebagai wadah bagi bibit-bibit yang ingin kita tanam.

Kita, bahasa, dan proses interaksi yang terjadi antara kita dengan bahasa dan bahasa dengan kita tak boleh terganggu oleh egoisme sepihak. Kita harus mengenali, merawat, menumbuhkan, dan memperlakukan bahasa dengan penuh kasih sayang dan ketakziman agar ia bisa sayang dan takzim juga kepada kita, dan ikhlas memberikan segala yang terbaik dalam dirinya agar proses prokreasi terjadi dengan sempurna.

Penulis tak boleh abai pada bahasa, karena bahasa adalah istrinya, mitranya dalam berprokreasi.

Bandung, 25 Desember 2012
Eki Akhwan

3 pemikiran pada “Menulis dan Senggama

  1. Walaupun proses menulis saya masih jauh dari elaborasi Anda mengenai proses kreatif penulis, saya senantiasa berusaha memilih dengan cermat setiap kata, tanda baca dan panjang kalimat yang saya gunakan.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s