Sikap Beragama


  • Ada orang yang beragama karena takut: takut kepada Tuhan, takut Tuhan murka, takut masuk neraka, takut tak ada Kekuatan Mahabesar yang menolongnya ketika dia menghadapi kesulitan-kesulitan besar di dunia ini, takut orang-orang di sekitarnya memandang rendah dirinya dan mengucilkannya karena ia tidak beragama seperti mereka beragama.

Takut, takut, dan takut.

Ia memeluk agamanya dengan rasa takut; beribadah kepada Tuhannya dengan rasa takut; mengikuti aturan-aturan agamanya dengan rasa takut — bukan hanya kepada Tuhan yang disembahnya, tapi juga (tanpa disadarinya) kepada manusia-manusia lain, kepada kekuatan-kekuatan alam semesta, kepada kehidupan, kepada akhirat.

Ia menyebarkan ketakutannya kepada orang-orang di sekitarnya. Ia mengajarkan rasa takut itu kepada anak-anaknya dan menakut-nakuti orang-orang di sekitarnya dengan apa yang ditakutkannya. Ia ingin agar orang-orang lain juga takut, seperti dirinya yang selalu dicekam rasa takut. Baginya, Tuhan adalah Wajah yang menakutkan. Murka Tuhan lebih nyata daripada kasih sayang-Nya, pesimisme lebih dekat daripada optimisme. Ia rendah diri, tak percaya diri. Ia hamba sahaya yang tak merdeka. Dunianya sempit, hatinya terhimpit. Ia takut berbeda dan membenci perbedaan karena ia yakin Tuhan adalah komandan gerak jalan.

Baginya dunia ini keras, sekeras Wajah Tuhan di matanya.

  • Ada orang yang beragama karena rasa cinta: ia cinta kepada Tuhannya, merasakan kehadiran dan kasih sayang-Nya pada semesta raya. Ia melihat senyum-Nya di langit yang menaunginya dan pada bumi yang dipijaknya. Ia yakin cinta-Nya akan selalu ada selama dia mencinta: cinta pada sesama, cinta pada mahluk-mahluk-Nya. Ia yakin Tuhan mahabaik dan ia menyebarkan kebaikan pada siapapun dan apapun yang disentuhnya agar kasih sayang Tuhan yang mencintainya (dan yang dia cintai) bisa hadir pada kehidupan setiap orang yang mengenalnya dan alam yang bersentuhan dengannya. Ia yakin akan kemuliaannya, karena ia diciptakan oleh Yang Mahamulia. Ia menjaga kemuliaannya dengan perbuatan-perbuatan mulia. Ia tak takut pada pengucilan manusia hanya karena dia berbeda, dan tak membenci mereka karena berbeda. Cintanya telah melampaui takut dan bencinya. Ia yakin Tuhan bukan komandan gerak jalan, tapi Sang Maestro yang melukis dalam jutaan warna, agar manusia mengenal Sang Prisma.

Cinta, cinta, dan cinta.

Ia memeluk agamanya dengan rasa cinta; mengabdi kepada Tuhannya dengan rasa cinta; mengikuti aturan-aturan agamanya dengan rasa cinta. Cintanya pada Tuhanlah yang membuatnya cinta kepada sesama, kepada semesta, kepada kehidupan (yang menjadi titian menuju Tuhannya). Cintalah yang dia yakini akan mendatangkan cinta Tuhannya. Dan siapakah yang lebih beruntung daripada orang yang dicintai oleh Tuhan?

Ia menyebarkan cinta kepada orang-orang di sekitarnya. Ia mengajarkan cinta itu kepada anak-anaknya dan menebarkannya kepada orang-orang di sekitarnya. Ia ingin agar orang-orang lain juga merasakan kasih sayang dan berkasih sayang, seperti dirinya yang selalu diliputi rasa kasih sayang. Baginya, Tuhan adalah Wajah yang selalu tersenyum. Rahmat-Nya lebih nyata daripada murka-Nya, optimisme lebih dekat daripada pesimisme. Ia bermuruah, percaya diri. Ia mahluk yang mulia dan merdeka. Dunianya adalah semesta Tuhannya. Cakrawalanya luas tak bertepi.

Di antara dua ini, tentu ada juga orang yang beragama karena rasa takut dan cinta dalam campuran dengan kadar yang beraneka. Sikap beragama adalah sebuah continuum dengan bandul yang berayun dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Bandul itu digerakkan oleh segala macam kekuatan: asuhan, pengalaman, pendidikan, lingkungan, pergaulan, bacaan, dan — mungkin juga — kepribadian.

Tuhan ada. Tapi Tuhan yang kita lihat, Tuhan yang kita alami, ada di dalam diri kita sendiri.

“Aku sesuai dengan prasangka hambaku kepadaKu. Jika ia berprasangka baik maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka baginyalah keburukan.” (HR. Ahmad dan disahihkan al-Albani dalam Sahih al-Jami’: 4191)

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s