Tentang Kebohongan


Rasanya tak ada satu manusia pun yang tak pernah bohong.

Bohong adalah salah satu mekanisme pembelaan diri (self-defense mechanism) yang penting bagi kelangsungan hidup manusia.

Bohong baik (white lies) maupun bohong jahat (?) dua-duanya mempunyai fungsi yang sama: melindungi dan menyelamatkan. Bohong baik biasanya dilakukan untuk melindungi atau menyelamatkan si penerima; bohong jahat untuk melindungi dan menyelamatkan si pengujar sendiri dengan mengelabuhi atau merugikan orang lain.

Tentu ada bohon-bohong yang lain, tergantung bagaimana kamu melihat dan mengategorikannya. Tapi ini bukan teori tentang kebohongan. Jadi rasanya tidak pada tempatnya kalau aku berpanjang lebar mengenai hal ini. Nanti pada waktunya, mungkin, aku bisa berpanjang lebar mengenai itu.

Hari ini aku cuma ingin berbagi apa kata orang tentang kebohongan.

“Above all, don’t lie to yourself. The man who lies to himself and listens to his own lie comes to a point that he cannot distinguish the truth within him, or around him, and so loses all respect for himself and for others. And having no respect he ceases to love.”

~ Fyodor Dostoevsky, The Brothers Karamazov.

Terjemahanku:
“Apapun yang terjadi, jangan berbohong pada dirimu sendiri. Orang yang berbohong pada dirinya sendiri dan meyakini kebohongannya sendiri akan tiba pada suatu titik di mana dia tak dapat lagi mengenali kebenaran yang ada di dalam dirinya, atau yang ada di sekitarnya, dan karena itu dia akan kehilangan muruah pada dirinya sendiri dan pada orang lain. Dan tanpa muruah, dia tak bisa mencinta.”

Pembohong tak mungkin mencinta, begitu kira-kira kata Dostoevsky.

“If you tell a big enough lie and tell it frequently enough, it will be believed.”

~ Adolf Hitler

Terjemahanku:
“Kalau kebohonganmu cukup besar dan kamu cukup sering mengulanginya, kebohongan itu akan dipercaya.”

Kamu tentu tahu siapa Hitler. Kalau, seperti dia, kamu termasuk orang yang bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai cita-citamu, barangkali kamu bisa menjadikan ucapannya itu sebagai pedoman.

“I’m telling you a lie in a vicious effort that you will repeat my lie over and over until it becomes true”

~ Lady Gaga

Terjemahanku:
“Aku membohongi kalian dengan niat jahat supaya kalian mengulang-ulang kebohonganku sampai kebohongan itu menjadi benar.”

Hmmmm … Kukira dia agak mirip dengan Hitler. Bagaimana menurutmu?

“History is a set of lies agreed upon.”

~ Napoleon Bonaparte

Terjemahanku:
“sejarah adalah serangkaian kebohongan yang disepakati.”

Sejarah memang tak pernah objektif. Konon, siapa yang berkuasa, dialah yang menulis sejarah. Lalu, kenapa kita harus belajar sejarah?

Barangkali karena kita suka dibohongi, dan merasa terhibur dengan kebohongan itu. Atau, kebohongan itu bisa membuat kita merasa besar. Atau, kebohongan memang bagian penting dari konstruksi identitas kita.

Kebohongan tak selamanya jahat, kan?

Aku bahkan yakin, kebohongan itulah sebenarnya kehidupan yang sedang kita jalani. We live in myriads of myths. Myths are what we are, what we believe in. Truth never reveals itself until we can escape all the contraptions of our existence. Itu kataku. Bagaimana katamu?

2 pemikiran pada “Tentang Kebohongan

    1. Rian,
      Terima kasih atas komentarnya.

      Fakta barangkali memiliki kesahihan yang tinggi di dunia ilmiah. Tapi secara keilmuan, dalil bisa dipatahkan oleh dalil lain karena setiap dalil mengandung kelemahan pada dirinya sendiri. Tidak ada dalil yang 100 persen tak terpatahkan. Saksi bisa juga (tanpa disengaja) berbohong karena saksi juga manusia yang punya kepentingan.

      Namun kebohongan yang dimaksud di sini bukan kebohongan yang berasal dari dalil, fakta, atau saksi, tapi bagaimana prinsip dan keterangan yang didapat dari dalil, fakta, dan saksi itu dinarasikan. Dalil, fakta, dan saksi boleh sama, tapi narasi sejarah bisa menyajikannya dengan cara berbeda-beda, tergantung siapa yang menyusun narasi itu. Di sinilah kekuasaan bermain. Demi kepentingan si pemegang kuasa, narasi sejarah bisa dipelintir. Pemelintiran ini menutupi sebagian kebenaran (=kebohongan).

      Begitu. Sejarah tidak pernah objektif. Selalu ada ‘kebohongan’ di dalamnya.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s