Irasionalitas Perayaan Tahun Baru


Hari ini 30 Desember. Sehari menjelang tutup tahun. Orang-orang mulai gempita mempersiapkan perayaan tahun baru.

Saya?

Dingin dan lurus-lurus saja. Tenang, dan menikmati liburan ini dengan memperbanyak tidur, makan, menulis dan membaca.😀

Saya tidak anti perayaan tahun baru. Tapi saya punya alasan sendiri kenapa saya tidak tertarik ikut ‘huru-hara’ yang dilakukan kebanyakan orang dalam menyambut tahun baru ini.

Sistem penanggalan ini — Masehi (dari kata Al Masih, terjemahan dari kata ‘Christos’/’Christ’, Sang Juru Selamat; gelar yang diberikan Tuhan kepada Isa), Miladiah (dari kata Bahasa Arab ‘milad’, ulang tahun, karena sistem penanggalan ini memulai hitungannya dari perkiraan saat kelahiran Isa Almasih sebagaimana yang diyakini oleh umat Kristiani), AD (Anno Domini, tahun Tuhan kami), CE (Common Era, Era Bersama) — hanyalah salah satu sistem penanggalan yang pernah ada dan masih berlaku dalam peradaban manusia. Bersamaan dengan sistem penanggalan Masehi, ada sistem-sistem penanggalan lain yang saat ini masih dipakai, seperti kalender Saka, kalender Buddha, kalender Jawa, kalender China, dan kalender Hijriyah.

Karena itu, tahun baru, yang akan dirayakan oleh miliaran manusia besok, semestinya tidak terlalu istimewa. Ia cuma salah satu — bukan satu-satunya — sistem kalender yang berlaku.

Seperti sistem-sistem penanggalan lain, sistem penanggalan Masehi tidaklah universal, abadi, dan mengikat semua orang. Orang atau sekelompok orang bisa memilih untuk tidak menggunakannya atau hanya menganggapnya hanya sebagai sistem penanggalan pendamping karena orang atau kelompok orang itu perlu berhubungan dengan kelompok-kelompok lain yang menggunakan sistem penanggalan Masehi. Inilah yang dilakukan antara lain oleh Saudi Arabia, China (sinosfer), dan India, yang lebih mementingkan sistem penanggalan nasional mereka sendiri ketimbang kalender Masehi untuk kepentingan-kepentingan resmi di dalam negerinya.

Kalender Masehi juga tidak bersifat ilahiah (divine) meskipun perhitungannya dikaitkan dengan kelahiran Al Masih yang diyakini oleh umat Kristiani sebagai Putra Tuhan. Sama seperti sistem penanggalan-sistem penanggalan lain, ia adalah karya cipta manusia yang berusaha memahami dan menghitung waktu untuk kepentingan-kepentingannya sendiri. Secara inheren tidak ada sifat istimewa atau lebih unggul dari tahun Masehi yang mewajibkan atau membuat orang merasa terkutuk, berdosa, atau rugi kalau tidak menggunakan sistem penanggalan ini dan ikut merayakan pergantian tahunnya.

Dominasi sistem penanggalan Masehi hanyalah salah satu cermin dari era dominasi Peradaban Barat yang kita alami saat ini. Namun dominasi ini pun hampir dapat dipastikan tidak akan berlangsung selamanya.

Peradaban selalu bergulir. Tak ada peradaban yang dominan sepanjang masa di semua tempat (meskipun harus diakui, Era Peradaban Barat dewasa ini adalah era pertama di mana dominasi sebuah peradaban menjangkau nyaris seluruh pelosok bumi). Sebelum Era Barat dewasa ini, ada Era Islam, Era Hindu, Era Buddha, Era China, Era Romawi, Persia, Yunani, dan lain-lain yang masing-masing sempat menguasai dan menentukan warna peradaban di wilayah yang sangat luas di masanya masing-masing. Jadi, kalau kita bercermin pada sejarah peradaban, Peradaban Barat pun suatu saat pasti akan lengser dan dominasinya digantikan oleh peradaban lain yang berhasil memenangkan persaingan antarperadaban.

Dengan pemahaman seperti ini, pekikan gegap gempita dan histeria miliaran manusia dalam menyambut detik keenam puluh dari menit keenam puluh yang menandai pukul 00:00 tanggal 31 Desember dan detik pertama yang menandai dimulainya hitungan hari, bulan, dan tahun baru, bagi saya, adalah suatu perilaku yang remeh (trivial) dan irasional, meskipun, terus terang, saya tidak menampik nilai keriangan yang diberikannya.

Tidak ada yang secara inheren bermakna, apalagi bersifat Ilahiyah, pada detik-detik pergantian tahun itu. Apa yang dirayakan secara khidmat, histeris, gila-gilaan — apapun modanya — itu sesungguhnya hanyalah ilusi yang diciptakan oleh manusia sendiri. Desember dan Januari, 2012 dan 2013 hanyalah nama-nama dan hitungan yang kita buat sendiri, lalu kita puja-puja — kita ‘sembah’ — seolah-olah mereka suci, agung, dan tak tergantikan. Dalam terminologi agama, hal seperti itu barangkali bisa disebut sebagai penyembahan tagut.

Saya sendiri, yang sehari-hari memakai dan lebih akrab dengan penanggalan Masehi daripada sistem-sistem penanggalan lain, memilih untuk tidak ikut hura-hura dan kegegapgempitaan perayaan tahun barunya bukan karena saya anti Barat. (Saya tidak mempunyai sikap eksklusif dan provinsial, tidak picik. Semua peradaban memiliki sumbangan yang penting bagi manusia dan kemanusiaan. Semua peradaban saling memengaruhi dan saling pinjam-meminjam kekayaan khazanah masing-masing. Hanya orang-orang bodoh dan picik saja yang menganggap bahwa peradabannya bersifat eksklusif dan tidak meminjam atau dibangun dari percikan-percikan khazanah peradaban lain.) Saya memilih untuk tidak ikut kegilaan perayaan tahun baru Masehi ini agar saya bisa menikmati kemerdekaan saya sebagai manusia yang punya pilihan. Juga karena saya yakin perayaan-perayaan itu lebih banyak mudarat daripada manfaatnya.

Saya tetap menghargai orang-orang yang ingin merayakannya. Untuk alasan apapun. Setiap orang berhak senang dan bahagia. Saya cuma berharap, kesenangan itu hendaknya tidak sampai menimbulkan mudarat apalagi bencana bagi diri dan orang lain. Lebih baik lagi kalau kesenangan itu tidak membuat mereka lupa berpikir, merenung, dan mensyukuri hal-hal yang esensial yang telah terjadi dalam kurun waktu (tahun) yang dalam perayaan itu akan mereka tinggalkan; dan tidak lupa bahwa kurun baru yang mereka rayakan kehadirannya itu hanyalah hitungan yang, tanpa diisi dengan perbuatan-perbuatan yang baik dan bermakna, cuma akan menjadi kesia-siaan.

Selamat Tahun Baru Miladiah 2013 bagi yang akan merayakannya.

Ingat, jaga, dan isi hitungan-hitungan itu. Selalu.

Eki Akhwan,
30 Desember 2012

9 pemikiran pada “Irasionalitas Perayaan Tahun Baru

  1. Tulisan Pak Eki yg satu ini bagi saya bagai teman perjalanan di gurun pasir. Langka… Tapi seneng bisa menemukannya. Saya termasuk orang yang lempeng dalam perayaan apa pun. Bagi saya, kebahagiaan harus diraih kapan saja tanpa perlu menunggu waktu lama, apalagi setahun. Begitu pun dengan perayaan, bisa dilakukan kapan aja dan dimana saja.

  2. “Saya memilih untuk tidak ikut kegilaan perayaan tahun baru Masehi ini agar saya bisa menikmati kemerdekaan saya sebagai manusia yang punya pilihan.”
    –Saya sepakat dengan kalimat ini. Saya merasa menemukan ekspresi yang tepat untuk mewakili perasaan saya pribadi mengenai pergantian tahun Masehi yang dirayakan dengan begitu gempita oleh banyak orang.

    Sayangnya, era kita sekarang, Mas Eki, tidak atau jarang memberi ruang pada orang-orang yang berani mengambil pilihan dengan penuh tanggung jawab. Mereka yang menjatuhkan pada pilihan tertentu, bila tak sejalan dengan preferensi massa, cenderung dianggap anomali yang berkonotasi negatif.

    Ini tentu saja pendapat saya pribadi. Karena kami sekeluarga sama sekali tak tergoda untuk keluar rumah dan meletuskan petasan atau kembang api dengan sia-sia. Saya teringat seorang ustaz yang menyitir pendapat jumhur ulama saat membahas perilaku mubazir. Harta atau makanan sejumput yang dibelanjakan untuk hal yang bukan kebutuhan bisa dikategorikan sebagai tindakan pemborosan (mubazir). Kita tahu apa konsekuensi kemubaziran.

    Menilik pendapat itu, selepas Isya kami memilih untuk berkativitas di rumah. Baca buku seperti Anda, main sama anak-anak dan tentu saja: menyiapkan diri dan telinga mendengarkan ledakan-ledakan bising di udara sebelum dan sesudah pukul 12 malam!

    Terima kasih atas pencerahan Anda yang begitu lengkap.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s