Orang-orang Yang (Tulisannya) Aku sukai


Aku sudah menulis tulisan yang agak panjang. Tulisan awal tahun, tentang refleksi dan rsolusi(?). Status: belum terbit, masih draft. Tanggal yang tertulis di situ: 1 Januari 2013.

Begitulah aku. Kadang-kadang aku mulai menulis, lalu menunda menerbitkannya, lalu menundanya lagi, lagi, dan lagi, sampai aku merasa tulisan itu pantas untuk diterbitkan, atau masuk keranjang sampah. Sisa-sisa dari sifat perfeksionisku yang dulu. Sekarang aku lebih pragmatis. Tapi rupanya sifat asali itu tak pernah betul-betul hilang. Hanya mengendap saja. Bersembunyi malu di balik kelambu.πŸ˜€

Kadang-kadang aku malah tak menyelesaikannya sama sekali dan tak membuangnya juga. Aku menyebutnya ‘nafsu besar tenaga kurang’. I don’t have the energy to push it through. Aku tak punya tenaga untuk menyelesaikannya. Tapi melemparkannya ke keranjang sampah juga sayang. Aku terlalu sayang pada si ide yang telah sudi hinggap di otakku. Atau pada kata-kata yang telah sudi meminjamkan dirinya padaku agar si ide bisa menampakkan wujudnya. Apa hakku untuk menyingkirkan mereka yang telah bersusah payah hadir untukku?

Kadang-kadang bukan cuma karena kurang energi juga sebenarnya. Ada rasa kesal pada diri sendiri ketika — di tengah-tengah proses menulis — aku mulai tak percaya diri, berpura-pura, dan berubah menjadi orang lain. ‘Suaraku’ berubah menjadi seperti …. Marcell Siahaan (?) ….πŸ˜€

(Bukan) itu barangkali yang ingin aku obrolkan malam ini. Tapi ini:

Kemarin (hari ini, karena hari sudah berganti nama dan tanggal berganti angka ketika aku menuliskan ini), aku menengok beberapa blog temanku. Aku amati apa yang mereka tulis. Hal-hal sederhana saja yang mereka tulis itu. Tapi aku membacanya dengan sepenuh minat.

Aku yang cenderung perfeksionis dan biasa berpikir kompleks membaca dengan penuh minat apa yang tampak sepele dan naif. Pasti ada sesuatu. Pasti ada sesuatu.

Mereka mengagumkanku bukan karena apa yang mereka tulis! Tapi cara mereka menulis! Mereka tak menyembunyikan diri di balik kata-kata.

Kata-kata itulah mereka! Tak ada kepura-puraan — pura-pura pintar, pura-pura baik, pura-pura canggih … Aku nyaris bisa mendengar suara mereka, melihat ekspresi mereka, seolah-olah mereka hadir di hadapanku dan sedang bercerita kepadaku. Tulus, asli, dan tak menggurui.

I like people who speak their minds. I like people who don’t hide themselves behind their words. I like people who don’t pretend to be somebody they are not.

I may not be in full agreement with what they say. But the fact that they say what they mean makes me very comfortable.

They don’t try to teach you anything, or make you their followers, or command you in the direction they want you to go. Yet, somehow, they gain your respect. Just like that, just by being themselves, showing who they really are.

People like these are very compelling. Their voices are true, regardless of what they say.They have confidence and it is this confidence that wins your confidence, your respect.

These people are not the very least rude. They don’t push you around. They don’t look you down. They are just being themselves and in doing so put you in and with yourself. They speak their minds because they respect themselves and respect you — believing that you are as autonomous as they are; that you can think and decide for yourself about what to believe and do.

Di mataku mereka ini orang-orang cerdas. Tampak bukan hanya dari rasa percaya diri mereka, tapi juga dari cara mereka ‘merangkul’ kata-kata sehingga sang kata-kata mau mengejawantahkan diri menjadi pribadi yang memakainya. Mereka cermat dalam berbahasa tapi tidak membiarkan aturan berbahasa mengendalikan, menjadi dan menggantika diri mereka. Aturan berbahasa, bagi mereka, hanyalah wadah bagi suara mereka. Suara mereka dan bahasa ‘menari’ dalam kesetaraan yang harmonis.

Ah, maafkan aku. Barangkali aku sudah kembali kepada diriku yang cenderung berpikir kompleks.

Sederhananya, aku cuma ingin berkata bahwa aku suka (tulisan) orang yang menjadi dirinya sendiri, tak berpura-pura menjadi orang lain; yang menulis dengan suaranya sendiri; yang tak menggurui, menyuruh atau memaksa orang berpikir atau bertindak seperti dia; yang percaya diri dan percaya bahwa orang lain adalah individu yang mandiri yang bisa berpikir dan menentukan sendiri keyakinan dan perbuatannya; yang menulis karena mereka betul-betul ingin berbicara, bukan pura-pura berbicara; yang mencoba berkomunikasi dan bukan cuma berkata-kata.

Barangkali begitu. Tulisan seperti itu selalu lebih memikat dan nikmat untuk dibaca. Tulisan yang lahir dari pribadi yang apa adanya, unik.

3 pemikiran pada “Orang-orang Yang (Tulisannya) Aku sukai

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s