Generasi Narsis dan ‘Pe De Aja Lagi!’


Sejumlah penelitian mutakhir menunjukkan bahwa generasi sekarang adalah generasi yang (cenderung) narsis. Mereka memiliki tingkat keyakinan diri yang tinggi dan merasa, suka, atau tidak malu-malu mengaku-aku diri hebat. Sayangnya, pengakuan itu seringkali tidak tercerminkan dalam prestasi yang nyata.

Pe de alias percaya diri itu penting. Tapi narsis, bisa jadi justru berbahaya!

Pe de sebenarnya istilah yang jarang dipakai oleh para psikolog. Mereka biasanya lebih spesifik dalam urusan ini. Pe de bisa berarti: (1) muruah-diri (self-esteem); (2) narsis/narsisisme (narcissism), bentuk muruah-diri yang dianggap negatif dan merusak. (Kamus Oxford mendefinisikannya sebagai “Excessive self-love or vanity; self-admiration, self-centredness.” — Cinta diri yang berlebihan atau keangkuhan; kekaguman pada diri sendiri, keegoisan.); dan (3) kesangkilan-diri (self-efficacy), kemampuan untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi.

Sebuah survei tahunan terhadap mahasiswa baru Amerika yang dilakukan oleh CIRP (Cooperative Institutional Research Program) sejak tahun 1966, menunjukkan bahwa mahasiswa Amerika umumnya memiliki tingkat ke-pe-de-an yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Banyak di antara mereka yang mengaku bahwa mereka memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam bidang akademik dan kesangkilan-diri. Dengan kata lain, mereka merasa sangat pintar dan memiliki semangat yang tinggi untuk berprestasi.

Namun, ketika dikejar dengan pertanyaan dan instrumen penelitian lain, ke-pe-de-an itu ternyata tidak tercerminkan. Penelitian yang dilakukan oleh Prof Twinge menunjukkan bahwa kemampuan menulis aktual mereka justu menurun dibandingkan dengan mahasiswa tahun 60-an. Waktu yang digunakan mahasiswa untuk belajar pun berkurang drastis dari rata-rata enam jam lebih pada tahun 1980an menjadi hanya dua jam lebih pada tahun 2009. Penurunan ini jelas bertentangan dengan hasil survei yang menunjukkan tingginya tingkat pengakuan mereka bahwa mereka memiliki kesangkilan-diri yang tinggi.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Prof Twinge juga juga mengindikasikan terjadinya kecenderungan peningkatan sikap narsis sebesar 30 persen di kalangan para mahasiswa Amerika dari tahun 1979.

Lukisan Narcissus yang sedang mangagumi bayangannya sendiri di air karya Caravaggio, koleksi  Galeria Nazionale d'Arte Antica, Roma.
Lukisan Narcissus yang sedang mangagumi bayangannya sendiri di air karya Caravaggio, koleksi Galeria Nazionale d’Arte Antica, Roma.

Dari data-data tersebut, Prof Twinge mensinyalir telah terjadi pergeseran sikap di kalangan generasi muda sekarang. Mereka lebih narsis — dalam arti lebih pe de dan berani mengaku-aku — dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya, yang cenderung lebih rendah hati dan menahan diri dari sikap pe de berlebihan atau mengaku-aku.

Pergeseran sikap ini menurut Prof Twinge, ahli kajian antargenerasi (birth cohort studies), kemungkinan disebabkan oleh gaya pengasuhan orangtua masa kini, budaya pesohor (di mana menjadi terkenal dan dikagumi menjadi impian banyak orang, bahkan anak-anak), keberadaan media sosial (di mana orang didorong untuk memromosikan diri sendiri), dan mudahnya mendapatkan fasilitas kredit, sehingga orang bisa tampak lebih sukses daripada keadaan yang sesungguhnya.

Faktor-faktor itulah yang menurutnya menyebabkan tumbuhnya sikap dan keyakinan yang meluas bahwa memiliki sikap percaya diri, mencintai diri sendiri, dan percaya pada diri sendiri adalah kunci sukses.

Padahal hal itu tidak sepenuhnya benar. Kajian yang dilakukan oleh Baumeister dan kawan-kawan (2003) atas hasil-hasil penelitian yang mengorelasikan tingginya tingkat muruah-diri dengan kesuksesan justru mendapati tidak terdapat cukup bukti yang dapat mengaitkan langsung pencapaian diri dengan tingginya tingkat muruah-diri. Kalaupun ada, bukti itu terlalu sedikit dan tidak jelas arah kausalitasnya: apakah orang yang mempunyai muruah-tinggi cenderung lebih sukses, atau sebaliknya kesuksesanlah yang menyebabkan orang mempunyai tingkat muruah-diri yang tinggi?

Selain itu, menurut Baumeister, ada variabel lain yang terbukti justru lebih berpengaruh daripada sekedar muruah-diri, yaitu ketekunan atau kemampuan untuk mengendalikan diri (self-control).

Meskipun demikian, bukan berarti muruah-diri tidak penting. Muruah-diri yang sehat (proporsional), dalam arti keyakinan diri yang dimiliki seseorang bahwa dia mampu melakukan sesuatu, penting untuk dimiliki. Muruah-diri yang tidak sehat (disproporsional), yaitu keyakinan yang menggelembung bahwa diri berkemampuan hebat, jusru bisa merusak.

Kajian yang dilakukan oleh Forsyth dan kawan-kawan (2007) mendapati bahwa pemberian umpan balik positif terhadap mahasiswa-mahasiswa yang berpencapaian rendah dengan tujuan untuk meningkatkan muruah-diri mereka justru membuat prestasi belajar mereka semakin terpuruk. Sokongan psikologis untuk meningkatkan muruah-diri terhadap mahasiswa-mahasiswa seperti itu dapat membuat mereka merasa tidak perlu lagi bekerja keras untuk meningkatkan prestasi mereka.

Gejala-gejala narsis yang digambarkan dalam penelitian-penelitian di atas tampaknya tak hanya dialami oleh generasi mutakhir Amerika.

Gejala-gejala serupa juga mulai tampak di sekitar kita. Sebagai dosen, saya mengamati adanya kecenderungan sikap di kalangan mahasiswa saat ini bahwa mereka tidak pantas dan merasa tersinggung bila mendapat nilai C, padahal tampak bahwa mereka kurang serius dalam mengerjakan tugas (asal gugur kewajiban), kurang membaca, dan hasil-hasil evaluasi pembelajaran jelas-jelas menunjukkan bahwa mereka belum berhak mendapatkan nilai lebih dari itu.

Meskipun “kecurigaan” sementara ini masih harus disahihkan oleh hasil penelitian, gejala ini boleh jadi menjadi penanda bahwa mereka memiliki sikap narsis seperti yang diindikasikan oleh hasil-hasil penelitian di atas.

Gejala-gejala seperti itu juga muncul dalam proses pembimbingan skripsi dan tesis. Ada beberapa mahasiswa — S1, S2, bahkan S3 — yang merasa bahwa karya-karyanya sudah sangat baik dan pantas untuk segera disidangkan meskipun pembimbing telah menunjukkan kelemahan-kelemahan yang sangat fundamental dalam hal isi, struktur penulisan, logika, maupun kebahasaannya.

Gejala-gejala lain yang teramati adalah adanya mahasiswa-mahasiswa yang tanpa malu-malu mengaku dirinya sebagai “sang motivator” atau “peneliti” di dalam blog maupun akun media sosialnya, padahal dari segi prestasi, mereka belum memiliki cukup rekam jejak yang istimewa yang membuat mereka berhak mendapatkan gelar-gelar itu. Klaim-klaim semacam itu — yang tidak dilandasi oleh prestasi-prestasi nyata — bisa jadi penanda adanya sikap narsisisme yang tidak sehat.

Satu pemikiran pada “Generasi Narsis dan ‘Pe De Aja Lagi!’

  1. Saya yang juga baru meninggalkan masa remaja, merasa remaja dulu sangat berbeda dengan remaja sekarang. Saya pernah menemukan beberapa teman dari suatu SMA unggulan dan lulusan dari suatu perguruan tinggi negeri di Bandung, di kalangan mereka seperti sudah tercipta budaya “sombong”. Bisa sedikit saja langsung menyombongkan diri dan ingin dinilai tinggi oleh orang lain.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s