Tentang Memeriksa Hasil Ujian


Memeriksa hasil ujian barangkali adalah salah satu aspek pekerjaan guru yang paling membosankan. (Tentu tidak semua guru berpandangan seperti itu. Namun, jujur saja, saya termasuk guru yang agak malas — guru yang kurang bersemangat untuk duduk berpuluh-puluh jam menekuni beratus-ratus lembar jawaban ujian siswa.)

Tapi apa boleh dikata, saya harus tetap melakukan pekerjaan itu. Ini bagian dari profesi saya. Tanggung jawab saya sebagai guru.

Malam ini — dini hari ini sebenarnya, karena hari sudah berganti ketika saya menuliskan catatan ini — mata saya sudah belel, konsentrasi saya sudah tak bisa dibilang penuh. Padahal tumpukan esai mahasiswa di meja kerja saya masih menggunung. Saya putuskan untuk berhenti. Saya tak ingin kejenuhan saya memengaruhi penilaian saya.

Saya pun berjalan-jalan mencari angin segar.

Lewat jendela dunia maya yang terbuka, saya melanglang buana. Seperti Doraemon yang, lewat pintu ajaibnya, bisa mengantar Nobita ke mana saja, jendela ini mengantarkan saya bertemu dengan kutipan ini:

“I’ve managed to bring the backlog down to a mere sixty-eight years,” she announced with some small sense of achievement. “I hope to be able to start marking the papers of pupils who are still alive by the end of the decade.”

Haaaa …!😀 British humor. Lelucon ala Inggris, yang sarkastik menggelitik!

Konon, kutipan itu berasal dari novel Shades of Grey karya Jasper Fforde. Saya belum membaca novel itu sebenarnya, apalagi bertemu dengan penulisnya. (Namun pertemuan dengan kutipan ini membuat saya jadi ingin membaca novel itu dan — bila mungkin — bertemu langsung dengan pengarangnya.)

Kutipan itu bilang begini (terjemahan saya):

“Saya telah berhasil mengurangi timbunan sisa pekerjaan ini hingga hanya tinggal  enam puluh delapan tahun lagi,” dia mengumumkan dengan sedikit rasa bangga atas prestasinya. “Saya harap saya bisa mulai menilai sisa-sisa hasil ujian siswa yang masih hidup sebelum akhir dasawarsa ini.”

(Andai saya bisa tertawa lepas, pasti saya sudah terbahak-bahak saat ini juga. Tapi ini sudah lewat tengah malam. Saya hanya bisa tersenyum-senyum sendiri.)

Pekerjaan guru memang tak ada akhirnya. Dan, rasanya, malam ini dan hari-hari ke depan ini, tak ada yang lebih terasa tak ada akhirnya daripada memeriksa hasil-hasil ujian yang masih menumpuk di atas meja kerja saya ini.

Tak mengapa. Mungkin malam ini saya belum bisa sesumbar seperti tokoh yang dikutip itu. Tapi, paling tidak, saya tidak akan memerlukan waktu satu dasawarsa untuk menyelesaikan sisa pekerjaan yang masih ada. Hanya dua minggu. Itu saja waktu yang saya punya.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s