Hari Tanpa Gajet


Diakui atau tidak, kita sudah begitu keranjingan pada gajet (gadget). Banyak juga yang, saya kira, bahkan sudah kecanduan. Tanda-tandanya jelas: ketiadaan (atau gangguan pada) gajet bisa membuat mereka panik, bahkan sakaw! Tanpa gajet, semua jadi serba salah.

Bagi orang-orang seperti itu (saya barangkali termasuk di dalamnya), mungkin tak terbayangkan hidup sehari saja tanpa gajet. Jangankan sehari, beberapa jam saja mungkin sudah terasa terlalu lama. Ketinggalan ponsel, baterai ponsel belum dicas dan listrik mati, atau gangguan jaringan yang membuat kita tak bisa mengakses internet, de el el dan lain-lain bisa membuat kita kalang kabut dan bete.

Gajet tentu saja bukan cuma ponsel atau tablet atau laptop. Gajet bisa bermacam-macam wujudnya, karena secara harfiah gajet (Inggris: gadget), menurut Oxford Dictionaries, berarti:

noun

a small mechanical device or tool, especially an ingenious or novel one

– perangkat atau alat mekanis, khususnya yang cerdas atau baru.

Meskipun unsur ‘mekanis’ dalam definisi itu kini telah meluas dan justru lebih sering dimaknai sebagai peralatan elektronik atau digital, sifat cerdas dan barunya lah yang tetap (justru?) membuat orang bisa begitu tergila-gila padanya.

Kita begitu mencintai gajet kita karena benda-benda imut itu cerdas, baru, dan (mungkin) bisa menopang gengsi kita yang rapuh atau dibuat rapuh oleh sistem budaya konsumen yang menempatkan kepemilikan (having) di atas menjadi (being, becoming).

Lalu, kembali ke judul tulisan ini, apa jadinya atau bagaimana rasanya sehari atau dua  tanpa gajet?

Bagi yang belum bisa membayangkan atau mencoba, barangkali percobaan/penelitian yang dilakukan oleh seorang dosen di Amerika ini bisa memberikan gambaran.

"Ada yang sudah membaca laporan bahwa gajet elektronik mengurangi kemampuan kita untuk fokus dan berkonsentrasi ... Sialan! Padres kalah kemarin....
“Ada yang sudah membaca laporan bahwa gajet elektronik mengurangi kemampuan kita untuk fokus dan berkonsentrasi … Sialan! Padres kalah kemarin….
Bill Smoot, dosen di Castilleja School di Palo Alto, California, memberikan tugas kepada para mahasiswanya yang mengambil mata kuliah “The Individual and Society” (Individu dan Masyarakat) untuk tidak menggunakan media elektronik apapun selama 48 jam. Tugas ini diberikan untuk menaklik (mempelajari) bagaimana media elektronik membentuk hubungan individu dengan budaya secara umum.

Dalam waktu 48 jam itu (dari pukul 7 malam hari Jumat hingga pukul 7 malam hari Ahad), para mahasiswa dilarang menggunakan ponsel cerdas (kecuali untuk menelepon), menggunakan komputer (kecuali untuk menulis tugas perkuliahan), menonton televisi atau film, dan mendengarkan musik lewat radio atau pemutar musik.

Hasilnya?

Laporan yang dituliskan di kelas oleh para mahasiswa itu pada hari Senin setelah percobaan itu mengindikasikan bahwa mereka merasakan kejenuhan dan frustrasi di hari pertama. Setelah itu, mereka ‘bangkit’ dan melakukan kegiatan-kegiatan yang sebenarnya normal dilakukan, seperti membersihkan kamar dan bercengkerama dengan orang lain,  tapi luput dilakukan karena selama ini waktu mereka banyak dihabiskan di depan gajet.

Seorang mahasiswa bahkan mengaku ketiadaan media (gajet) telah mengubah sama sekali karakter akhir pekannya: dia bisa tidur lebih banyak, berada di luar rumah, menyelesaikan tugas-tugas sebelum waktunya, makan lebih sehat, dan berinteraksi lebih banyak dengan orang-orang lain. Tanpa teknologi, dia merasa lebih sehat, lebih segar, dan lebih merdeka — hal-hal yang sudah lama tak dirasakannya.

Hampir seluruh mahasiswa yang terlibat dalam percobaan itu mengaku mereka dapat menyelesaikan tugas-tugas perkuliahannya dengan lebih cepat. Mereka mengaku, selama ini, ketika mereka harus mengerjakan tugas di depan komputer, mereka membuka jendela-jendela lain, terutama Twitter dan Facebook. Dan multitasking semacam itu ternyata tidak seproduktif singletasking, yaitu  ketika mereka hanya mengerjakan (dan berkonsentrasi hanya pada) satu tugas saja.

Beberapa mahasiswa yang mengadakan pesta tanpa media bahkan melaporkan bahwa suasana pesta menjadi lebih hidup. Mereka bisa lebih banyak berinteraksi — bercakap-cakap, bercanda, bermain catur, ular tangga, monopoli — sehingga mereka bisa lebih bisa memerhatikan orang-orang lain. Tidak ada lagi orang-orang yang asyik sendiri ber-sms, mencek status Facebook atau bercicit di Twitter, memotret atau saling menunjukkan apa yang ada di gajet mereka. Semua perhatian dicurahkan pada apa yang terjadi di tempat itu, pada saat itu.

Meskipun demikian, ada juga mahasiswa-mahasiswa yang merasa tertekan dan mengaku menjadi kurang produktif, tegang, dan terus-menerus mencari selingan, seperti dengan ngemil. 

Kesimpulannya?

Gajet itu seperti narkotika atau rokok. Ia bisa mencandukan dan membuat orang yang kecanduan merasakan  gejala-gejala mirip orang sakaw atau merasa ada yang kurang jika harus berpisah dengan gajetnya.

Gajet juga bisa menurunkan kualitas  hubungan antarmanusia. Mereka jadi lebih sadar gajet daripada sadar manusia; menjadi kurang sadar akan perbuatan-perbuatan manusia lain dan lingkungannya.

Dalam refleksi yang mereka tuliskan, para mahasiswa itu sadar bahwa dunia media dan kekuasaan yang dimiliki oleh media atas kehidupan mereka bukanlah “kehidupan yang sesungguhnya.” Kehidupan yang sesungguhnya ada di luar rumah, berbicara dan bercengkerama dengan teman, berpikir dan berproduksi — bukan hanya mengonsumsi. Media merampas semua itu. Media/gajet “memaksa” kita mengonsumsi kehidupan orang-orang lain dan hal-hal lain yang tak selalu relevan dengan kehidupan dengan kehidupan kita dan melupakan keberadaan diri sendiri.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip dan menerjemahkan langsung apa yang ditulis Bill:

….  the students’ use of the metaphor of addiction reflects their sense that their use of electronic media is not freely chosen. As the March Hare said to Alice, I like what I get is not the same as I get what I like. Over that weekend some students caught glimpses of things they like but do not get, or get enough of, in the lives they live. When one student realized that media “should be a tool within a lifestyle, not a lifestyle itself,” she was envisioning, I believe, a state in which people make their culture more than they are made by it.

Metafora kecanduan yang dipakai oleh mahasiswa mencerminkan perasaan mereka bahwa pemakaian media elektronik bukanlah pilihan bebas. Seperti apa yang dikatakan oleh March Si Kelinci pada Alice, saya suka apa yang saya dapatkan tidaklah sama dengan saya dapatkan apa yang saya suka. Di akhir pekan itu beberapa mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengalami apa yang mereka sukai tapi tak mereka dapatkan, atau tak cukup mereka dapatkan, dalam kehidupan mereka. Ketika seorang mahasiswa menyadari bahwa media “seharusnya menjadi alat yang mendukung suatu gaya hidup dan bukan gaya hidup itu sendiri,” saya yakin dia telah mendapatkan pencerahan tentang orang-orang yang membentuk budayanya sendiri ketimbang dibentuk oleh budaya itu.

2 pemikiran pada “Hari Tanpa Gajet

  1. Heee… akhir2 ini saya termasuk salah satu korban gajet.. walaupun belum memasuki fase kronis. Hehe. Karena selain jadi pendukung aktifitas kita sehari-hari, mainin gajet itu jadi intermezzo paling mudah dan menyenangkan🙂. Jadi ya tetap lanjut..walaupun harus waspada, ngelirik jam terus.

  2. sekarang di pondok salada (padang edelweis gunung papandayan) aja udah bisa apdet status fesbuk dengan menggunakan itu henpon-henpon canggih! ahhhhhh.. dulu di situ lembang aja udah ga ada sinyal pa, jadi kita harus nyimpen dulu cerita-cerita asoy kita saat kemping untuk nantinya diceritakan saat sudah sampai di kehidupan kota. dan kalau pas di gunung, sudah pasti ga akan ada yang sibuk sendiri dengan gejetnya itu… get a life man!

    kadang, teknologi yang terlalu canggih itu bikin saya ga asoy

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s