Serba-serbi Pelantikan Presiden Amerika


Tanggal 21 Januari nanti, Barack Obama, yang memenangkan Pemilu Presiden November tahun lalu, akan secara resmi dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat untuk masa jabatan kedua.

Ini peristiwa biasa saja sebenarnya. Di negara demokrasi yang sudah mapan, pemilihan, pergantian, dan pelantikan seorang kepala negara adalah hal yang terjadwal seperti perjalanan kereta api. Pelantikan presiden Amerika menjadi istimewa — dan menjadi perhatian dunia — karena Amerika Serikat adalah negara adidaya dan, oleh karena itu, siapapun yang menjadi pemimpinnya, konon, adalah orang yang paling berkuasa di dunia. Maka, bisa dimengerti kiranya kalau pelantikan presiden Amerika dirayakan tak kalah meriahnya dengan pemahkotaan seorang raja atau ratu.

Kemeriahan upacara pelantikan Presiden Amerika Serikat dengan segala pernak-perniknya seperti yang dikenal sekarang sebenarnya hanya sebuah tradisi yang berkembang dari masa ke masa. Konstitusi Amerika sendiri hanya mengamanatkan bahwa seorang presiden harus mengangkat sumpah jabatan (“oath or affirmation”) sebelum memangku jabatannya.

Suasana pelantikan Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat, 20 Januari 2009.
Suasana pelantikan Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat, 20 Januari 2009.

Upacara pengangkatan sumpah jabatan Presiden Amerika Serikat pada mulanya dilakukan pada tanggal 4 Maret — tanggal di mana Konstitusi Amerika mulai diberlakukan (4 Maret, 1789). Namun, setelah tahun 1933, tanggal tersebut dipindahkan ke tanggal 20 Januari.

Jika tanggal itu jatuh pada hari Ahad — seperti yang akan terjadi tahun ini — maka pengambilan sumpah dapat dilakukan dua kali. Pada hari Ahad (tanggal 20 Januari) presiden terpilih  mengucapkan sumpah secara tertutup di depan Hakim Agung/Ketua Mahkamah Agung (Chief Justice). Sumpah itu kemudian dapat diulangi lagi pada upacara di depan umum pada hari Seninnya (tanggal 21 Januari). 

Perubahan tanggal pelantikan itu ditetapkan melalui Amandemen Keduapuluh UUD Amerika Serikat. Konon ini dilakukan untuk mempersingkat  jeda waktu antara pemilu presiden — yang ditetapkan pada hari Selasa antara tanggal 2 dan 8 November — dan pengangkatan presiden. Di masa lalu, jeda waktu empat bulan antara pemilihan dan pengangkatan presiden diperlukan untuk memberi kesempatan kepada presiden terpilih untuk menyelesaikan urusan-urusan di tempat asalnya dan berangkat ke ibukota negara. Dengan semakin baiknya sistem komunikasi dan transportasi, jeda itu dianggap terlalu lama dan dapat menghalangi pemerintah mengambil tindakan-tindakan atau kebijakan-kebijakan penting di saat-saat genting.

Catatan: Pemerintahan atau pejabat pemerintah yang tidak dapat secara efektif mengambil tindakan atau kebijakan karena akan segera digantikan oleh pemerintahan atau pejabat baru yang telah memenangkan pemilu seperti itu di dalam peristilahan politik Amerika disebut sebagai lame duck administration (pemerintahan bebek pincang :D).

Dari zaman kepresidenan Andrew Jackson (Presiden Ketujuh, 1829 – 1837) hingga Jimmy Carter (Presiden ke-39, 1977 – 1981) upacara pelantikan Presiden Amerika dilakukan di beranda timur Gedung Capitol. Setelah itu, dimulai sejak pelantikan Ronald Reagan (Presiden ke-40, 1981 – 1989), tempat upacara dipindahkan ke bagian depan sisi barat Gedung Capitol. Upacara juga pernah dilakukan di dalam ruangan Gedung Capitol karena cuaca yang sangat dingin (pelantikan Presiden Howard Taft, tahun 1909, dan pelantikan Ronald Reagan untuk masa jabatan kedua tahun 1985)  atau di tempat-tempat lain karena alasan keamanan (tahun 1812, pada saat terjadi perang Inggris – Amerika; dan pada saat Perang Dunia Kedua).

Sejak Presiden Kedua (John Adams, 1787 – 1801) hingga saat ini, pengambilan sumpah Presiden Amerika Serikat selalu dilakukan oleh Hakim Agung/Ketua Mahkamah Agung. George Washington (presiden pertama, 1789 – 1797) adalah satu-satunya presiden yang tidak dilantik oleh Hakim Agung/Ketua Mahkamah Agung. Ia diambil sumpahnya oleh Kanselir Kota New York Robert Livingston di Balai Kota atau Balai Federal (Federal Hall) kota itu untuk masa jabatan pertamanya, karena pada saat itu Kota New Yorklah ibukota Amerika. Pada masa jabatan keduanya, George Washington dilantik di Philadelphia, yang menjadi ibukota Amerika Serikat hingga tahun 1800.

Sesuai dengan ketentuan Konstitusi, Presiden Amerika terpilih harus mengucapkan sumpah yang kata-katanya telah ditetapkan dalam Pasal Dua, Bagian Pertama, Ayat Delapan UUD Amerika, yang bunyinya:

“I do solemnly swear (or affirm) that I will faithfully execute the Office of President of the United States, and will to the best of my Ability, preserve, protect and defend the Constitution of the United States.”

[“Saya bersumpah (atau menegaskan) dengan sungguh hati bahwa saya akan setia melaksanakan Jabatan Presiden Amerika Serikat, dan akan dengan sepenuh Kemampuan saya, melestarikan, melindungi dan membela Undang-undang Dasar Amerika Serikat.”]

Upacara Pengambilan Sumpah Presiden Amerika Serikat (United States Presidential Inauguration) adalah hajatan besar empat tahunan bangsa Amerika yang secara tradisional bisa berlangsung selama sepuluh hari (lima hari sebelum dan lima hari sesudah upacara pengamilan sumpah). Bermacam-macam acara digelar selama hajatan itu. Selain acara inti (pengambilan sumpah), hajatan ini juga diisi dengan pidato  dari presiden terpilih (Inaugural Address), parade presiden terpilih (Inaugural Parade), konser, pesta dansa dan makan malam perdana (Inaugural Gala Cocerts,  Balls and  Dinner), doa bersama (Inaugural National Prayer Service), dan lain-lain.

Tahun ini, upacara pengambilan sumpah Presiden Obama untuk masa jabatan kedua mengambil tema “Faith in America’s Future” (Keyakinan pada Masa Depan Amerika). Upacara pelantikan tahun ini punya nilai tambah yang istimewa karena tahun 2013 ini adalah peringatan ke-150 Proklamasi Emansipasi dan pemasangan Patung Kemerdekaan di puncak kubah Gedung Capitol.

Proklamasi Emansispasi, sebagaimana diketahui,  adalah dekrit yang dikeluarkan oleh Presiden Abraham Lincoln pada tanggal 1 Januari 1863 untuk membebaskan “untuk selama-lamanya” semua budak yang berada di seluruh wilayah Konfederasi. Deklarasi itu menjadi tonggak awal dari sebuah perjuangan panjang bangsa Amerika untuk mewujudkan idealisme yang tercantum dalam Deklarasi Kemerdekaannya yang secara tegas menyatakan:

“…. that all men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable Rights, that among these are Life, Liberty and the pursuit of Happiness….” 

[“… bahwa semua manusia diciptakan sederajat, bahwa mereka dianugerahi oleh Sang Pencipta Hak-hak tertentu yang tak dapat direnggut, bahwa di antara hak-hak itu adalah Hak untuk Hidup, Hak untuk Merdeka, dan Hak untuk mendapatkan Kebahagiaan …”].

Picture source: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Obama_inaugural_address.jpg

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s