Ikhlas


Ikhlas adalah rela, tulus hati. Demikian kata kamus.

Tentu kita masih bisa bertanya, apa itu rela dan tulus hati.

Kalau kita menjawabnya dengan sinonim lagi, seperti kata kamus di atas, maka kita akan berputar-putar di antara kata-kata — rela dan tulus hati itu ikhlas, ikhlas itu rela dan tulus hati. Ujung bertemu pangkal, pangkal bertemu ujung. Kedalaman pengertian tak tercapai.

Ikhlas adalah kata yang kita pinjam dari Bahasa Arab. Secara lughawi, morfologinya bisa ditelusuri dari gabungan tiga fonem kha-lam-shad yang berarti murni, tidak tercampur.

Sebagai terminologi agama, ikhlas lebih spesifik. Ikhlas adalah memurnikan penghambaan kepada Tuhan. Orang yang ikhlas (Arab: mukhlas) adalah orang yang menjadikan Tuhan sebagai pangkal dan tujuan dari segala perbuatannya, lahir maupun batin.

Ikhlas, dengan demikian, adalah intisari dari keimanan. Ikhlas adalah peniadaan diri yang (dicapai dengan) menempatkan ego individu dalam kerangka Ego Universal: aku ada karena Engkau, demi Engkau, untuk Engkau. Aku tak ada kalau bukan karena Engkau, demi Engkau, untuk Engkau. Tanpa Engkau, aku tak ada, tak bermakna.

Ikhlas adalah lawan dari paham Individualisme yang menempatkan otonomi diri di atas segalanya: aku ada karena aku, demi aku, dan untuk aku. Akulah pangkal dan tujuan keberadaanku: akulah yang menentukan siapa aku — nilai diriku, hak-hakku, kewajiban-kewajibanku.

Individualisme menginspirasi Liberalisme, Eksistensialisme, bahkan Anarkisme. Aku agung dan tak boleh dikekang oleh apapun selain oleh kemauanku sendiri.

Individualisme sering dianggap sebagai jalan menuju pembebasan dan kebebasan — lawan dari penghambaan yang menjadi intisari keikhlasan dalam pemahaman keagamaan.

Kita lupa, Individualisme adalah wujud penghambaan juga: penghambaan seorang individu pada dirinya sendiri, pada ego-ego kecil (Arab: nasf), pada nafsu yang mendambakan keagungan.

Kita lupa, keikhlasan, yang pada wujudnya adalah penghambaan, pada esensinya boleh jadi justru merupakan pembebasan dan kebebasan yang sesungguhnya. Ikhlas adalah jalan untuk membebaskan diri dari ego-ego kecil demi mendapatkan makna dari Sang Ego Universal, yang Mahakukuh dan tak tergoncangkan oleh waktu dan keadaan.

Dalam pemahaman saya yang serba terbatas, saya kira semua agama menempatkan ikhlas sebagai tiang pancangnya.

Islam menempatkan syahadat sebagai syarat bagi keempat rukun lain yang meneguhkan keislaman seseorang. Tidak ada shalat, tidak ada zakat, tidak ada puasa, dan tidak ada haji tanpa syahadat — kesaksian — bahwa Tuhanlah hulu dan muara dari semua perbuatan lahir dan batin, individu dan sosial.

Shalat adalah sarana untuk melebur ego diri dalam Ego Universal. Ia adalah sebuah pengakuan ritual bahwa aku ada karena Engkau, dan tanpa Engkau aku tak ada.

Zakat (sebagai salah satu wujud nafkah atau derma bagi sesama yang tak cukup ternafkahi oleh usahanya sendiri) adalah wujud kasih sayang Tuhan bagi seluruh manusia melalui diri si pemberi. Ia tak menjadikan si pemberi menjadi agung dan lebih mulia dari si terberi, karena aku — si pemberi — meniada dan tak ada. Yang diberikannya berasal dari Tuhan, demi Tuhan, dan untuk Tuhan.

Puasa bukan untuk diri, tapi untuk Tuhan. Haji pun demikian. Semuanya hanya sarana untuk meneguhkan peniadaan dan ketiadaan diri (ego-ego kecil, nafsu) demi mencapai kemaslahatan semesta yang dikehendaki oleh Sang Ego Universal.

Agama Nasrani pun demikian. Seorang Kristiani adalah pelayan Tuhan, agar melalui pelayanan itu Kerajaan Langit mewujud di bumi. Seorang pelayan tidak menguasai diri dan perbuatannya sendiri. Tuhan adalah pangkal dan tujuan perbuatannya.

Agama Hindu meyakini bahwa seseorang tidak akan mencapai moksa sampai dia memahami esensi diri (atman) sebagai bagian dari Ego Universal (Brahman). Untuk mencapai itu, dia mungkin harus melalui samsara (siklus kehidupan dan kematian) sampai dharmanya (perbuatan baiknya) mampu mencapai tingkat yang mencerminkan kesadaran bahwa atman adalah bagian dari Brahman. Dan itu hanya bisa terjadi jika diri (ego-ego kecil, nafsu) meniada dalam keberserahan kepada Sang Ego Universal.

Agama Buddha membimbing manusia agar mencapai kesadaran atau pencerahan hidup yang mengakhiri siklus kehidupan, kematian, dan  penderitaan (samsara dan dukkha) dan mencapai kebahagiaan sejati (nirvana). Penderitaan, yang disebabkan oleh ketidaktahuan  manusia (avidya) akan hukum sebab akibat (prattiyasamutpada), menyebabkan seseorang terjebak dalam hawa nafsu (tanha). Pencerahan (Buddha) dan kebahagian abadi (nirvana) hanya bisa dicapai dengan pembebasan diri dari ketergantungan pada tanha, peniadaan diri dan keberserahan pada Ego Universal. Dengan kata lain, Ikhlas.

Ikhlas adalah pembebasan diri. Dengan ikhlas, kita merdeka. Namun berlainan dengan keyakinan kaum liberal yang menganggap kebebasan sebagai manifestasi otonomi diri, ikhlas justru menawarkan kebebasan/kemerdekaan melalui peniadaan diri (nafs, ego-ego kecil) dan penghambaan kepada kemauan Tuhan, Sang Ego Semesta, Yang Mahaagung dan Mahaluas tak terbatas. Penghambaan pada diri (nafs, ego-ego kecil), meskipun sepintas tampak memerdekakan, pada hakikatnya justru mengerangkeng karena diri (nafs, ego-ego kecil) adalah dunia kecil yang sempit dan menyempitkan.

Satu pemikiran pada “Ikhlas

  1. “..meskipun sepintas tampak memerdekakan, pada hakikatnya justru mengerangkeng karena diri (nafs, ego-ego kecil) adalah dunia kecil yang sempit dan menyempitkan.”

    iya. benar. dan. suka sekali dengan kalimatnya. juga maknanya. ngebuka pandangan baru mengenai cara menyikapi ikhlas. terima kasih.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s