Berpuasa dan Berlebaran di Amerika (Bagian Kedua)


Ini bagian keenam belas dari serial My American Stories. Bagian kelima belas bisa dibaca di sini.

Selain mengikuti kegiatan-kegiatan Ramadan di Masjid MSA, sesekali saya juga diajak oleh teman-teman untuk shalat Jumat, berbuka puasa dan shalat tarawih di Masjid MALV (Muslim Associaation of Lehgih Valley) di Whitehall.

Tidak seperti Masjid MSA yang hanya sebuah apartemen yang diubahfungsikan sebagai masjid, Masjid MALV memang sebuah bangunan yang diperuntukkan sebagai masjid dan pusat kegiatan komunitas Muslim (Islamic Center). Selain ruang shalat yang cukup besar, bangunan ini juga dilengkapi dengan ruang pertemuan, perpustakaan, kantor, dan ruang-ruang kelas yang dipakai untuk SD Islam.

Jamaah yang datang juga bukan cuma mahasiswa, tapi juga masyarakat umum dari berbagai kalangan: pedagang, penguasaha, pekerja kantor, dokter, insinyur, pengacara. Mereka kebanyakan orang-orang dari Timur Tengah, Pakistan, India, dan Turki, baik yang sudah menjadi warga negara Amerika maupun pendatang yang menetap sementara untuk bekerja dan belajar. Etnik Melayu dari Indonesia, Malaysia, dan Kambodia cukup banyak juga jumlahnya. Selain itu ada juga mualaf warga Amerika. Orang-orang Kambodia di sini adalah mantan pengungsi yang sudah menjadi warga negara Amerika.

Sama seperti di Masjid MSA, suasana persaudaraan (ukhuwah) juga sangat kental. Setiap orang disapa dengan sebutan brother untuk laki-laki dan sister untuk perempuan. Namun, karena karena asal-usul yang beragam itu, pernah juga suatu ketika terjadi konflik. Saya tidak tahu betul apa sebabnya dan bagaimana kejadiannya. Menurut teman-teman yang mengetahui, pertengkaran itu terjadi antara brother dari Iran dan brother Arab. Masalah khilafiah, barangkali.

Seumur hidup saya belum pernah melihat pertengakaran di dalam mesjid. Jadi kejadian seperti itu terasa aneh bagi saya. Barangkali memang demikianlah sifat orang-orang dari belahan bumi itu. Keras, kurang toleran.

Peristiwa itu sempat membuat seorang mualaf muda ketakutan dan memilih untuk tidak shalat Jumat di masjid itu lagi. Sejak kejadian itu, dia memilih untuk shalat Jumat di Masjid MSA, yang sebenarnya lebih jauh dari tempat tinggalnya. Steve, nama anak muda itu, memelajari sendiri dan akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam justru setelah peristiwa 9/11, yang terjadi ketika dia masih SMA.

Hidangan berbuka puasa di Masjid Whitehall sama seperti di Masjid MSA, didominasi oleh makanan anak benua India dan Timur Tengah, meskipun ada juga dalam jumlah kecil masakan-masakan Melayu yang dibawa oleh keluarga-keluarga yang berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Kambodia.

Salah satu hikmah Ramadan tahun itu adalah saya jadi mengenal lebih banyak teman-teman sebangsa, terutama sesama Muslim yang tinggal di kawasan Lehigh Valley dan sekitarnya, Philadelphia, dan kota New York.

Perkenalan dengan teman-teman di Philadelphia terjadi ketika kelompok pengajian warga Indonesia di Philadelphia mengundang Nelson Tansu untuk memberikan ceramah dalam rangka berbuka puasa dan shalat tarawih bersama. Saya diajak oleh Tansu untuk menemaninya. Kami berangkat dari Bethlehem sekira dua jam sebelum waktu berbuka puasa. Cukup waktu untuk menempuh perjalanan 51 mil atau sekitar 82 kilometer di antara dua kota itu, yang rata-rata bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu jam. Dari pertemuan itulah saya akhirnya mengenal banyak warga Indonesia yang tinggal di Philadelphia.

Warga Indonesia di Philadelphia ternyata cukup banyak dan rata-rata sudah menetap cukup lama di kota itu. Ada pendatang resmi, ada juga pendatang gelap — mereka yang masuk ke Amerika tanpa melalui prosedur dan surat-surat resmi. Mereka rata-rata tinggal di bagaian selatan kota dan bekerja di berbagai bidang, dari buruh pabrik, pekerja restoran, hingga pekerja kantor dan profesional seperti insinyur, akuntan, dan manajer. Banyak juga mahasiswa yang menetap sementara di kota itu untuk menyelesaikan studinya.

Tidak semua warga Indonesia di Philadelphia Muslim, tentu saja. Tapi keguyuban sangat terasa dalam acara kumpul-kumpul seperti yang saya hadiri waktu itu. Meskipun acara buka bersama dan tarawih adalah acaranya umat Islam, warga Indonesia yang tak beragama Islam juga diundang dan turut berpartisipasi aktif menyumbangkan tenaga, waktu, makanan, dan minuman untuk acara itu. Di negeri orang, semua yang merasa menjadi orang Indonesia adalah saudara senasib sepenanggungan.

Nelson Tansu sendiri diundang untuk memberikan ceramah pada acara itu bukan lantaran dia seorang Muslim, tapi karena dia dipandang sebagai pemuda dan warga negara Indonesia yang sukses dan patut menjadi teladan bagi saudara-saudara sebangsanya.

Di “Kampung Indonesia” di selatan Philadelphia itu suasana Indonesia begitu terasa: orang-orangnya, bahasanya, perilakunya, makanannya, semua terasa Indonesia. Di sekitar tempat itu bahkan banyak toko-toko yang menjual barang-barang khas Indonesia, terutama bahan-bahan makanan, bumbu-bumbu, dan rokok kretek. Ada juga restoran-restoran etnik, seperti warung Jawa Timur, warung Padang, dan warung Manado, yang bisa mengobati rasa rindu kita pada selera masakan Nusantara.

Ramadan tahun itu, atas kebaikan Pak Mahmud, warga Indonesia yang sudah bermukim dan menikah dengan warga Amerika, saya juga berkesempatan untuk bersilaturahmi, berbuka puasa dan tarawih, di masjid Indonesia di New York. Masjid Al Hikmah yang berlokasi di 48-01 31st Avenue di Astoria ini menyandang nama Indonesia karena memang didirikan oleh masyarakat Indonesia. Nama resminya adalah Al Hikmah Indonesian Muslim Community Mosque.

Halaman depan Masjid Indonesia Al Hikmah, New York.
Halaman depan Masjid Indonesia Al Hikmah, New York.
Konon, menurut sejarahnya, awal tahun 1980-an, kelompok pengajian masyarakat Muslim Indonesia di New York yang biasanya berkumpul dari satu apartemen anggota ke apartemen yang lain mulai merasakan perlunya tempat yang memadai seiring dengan pertambahan jumlah anggota. Untuk keperluan itu, pada mulanya mereka mendapatkan pinjaman tempat di kantor Konsulat Jenderal Indonesia di 5th East 68th Street yang mereka gunakan untuk pengajian bulanan. Dari pengajian-pengajian itulah muncul gagasan untuk mendirikan masjid.

Hal itu tentu tidak mudah karena harga properti di New York sangat mahal. Namun berkat kegigihan dan kegotongroyongan para anggota, mereka akhirnya bisa mengumpulkan dana untuk membeli sebuah gudang di tempat yang sekarang menjadi lokasi masjid.

Bekas gudang itu kemudian mereka renovasi agar layak menjadi masjid. Renovasi awal, yang dilakukan dalam waktu satu setengah bulan, konon menelan biaya tak kurang dari 125.000 dolar. Kelanjutan renovasi masjid kemudian dibiayai oleh bantuan yang diberikan oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila — yayasan yang didirikan atas inisiatif (dan waktu itu dipimpin oleh) Pak Harto (Presiden Soeharto). Mesjid itu akhirnya selesai direnovasi dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 17 Agustus 1995, bertepatan dengan HUT ke-50 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ruang utama/ruang shalat Masjid Indonesia Al Hikmah, New York.
Ruang utama/ruang shalat Masjid Indonesia Al Hikmah, New York.
Meskipun menyandang nama Indonesia, mesjid ini adalah masjid umum yang terbuka bagi siapa saja. Waktu berbuka puasa dan bertarawih di sana, saya sempat bertemu dengan beberapa brothers dan sisters yang berasal dari Bangladesh,  Pakistan, dan orang Amerika berkulit hitam. Orang Indonesia tentu saja menjadi mayoritas di sini. Selain itu, suasana Indonesia pun sangat terasa saat berbuka puasa. Tidak seperti di Masjid MALV dan Masjid MSA, berbuka puasa di sini dimulai dengan tajil khas Indonesia: kolak!😀

Idul Fitri

Idul Fitri tahun itu jatuh pada tanggal 25 November. Hari Selasa. Saya shalat Id di masjid MALV.

Sekitar pukul delapan, saya dijemput oleh Pak Mahmud dan istrinya untuk bersama-sama berangkat ke masjid. Ali Pilatin, orang Turki, mahasiswa S-3 yang menjadi teman serumah saya, ikut bersama kami.

Suasana shalat Ied cukup ramai. Jamaah berdatangan dari seantero Lehigh Valley dengan model pakaian dan warna warni khas daerah asal mereka. Saya sendiri memilih mengenakan setelan jas dengan setelan sweater di dalam karena suhu udara yang sudah sangat dingin. Sarung, pakaian nasional kita, memang tak diciptakan untuk udara sedingin itu.😀

Selesai shalat Id, ada silaturahmi dan jamuan makan ala kadarnya di ruang pertemuan masjid. Jangan dibayangkan jamuan ini seperti di tanah air dengan segala makanan dan camilan yang lezat-lezat. Untuk orang-orang yang berasal dari Timur Tengah dan sekitarnya, Idul Fitri adalah hari raya kecil. Jadi hidangan yang disajikan pada waktu itu pun betul-betul ala kadarnya. Cuma ada bagel, pizza, kopi, jus, dan soft drinks berkarbon. Sedih rasanya. Saya jadi rindu suasana rumah saat lebaran dan makanan-makanan khasnya: ketupat, sambal goreng ati, kari ayam …

Untungnya kerinduan itu agak terobati sepulang dari masjid. Dalam anjangsana ke rumah Pak Mahmud — yang oleh masyarakat Indonesia di sana dianggap sebagai sesepuh — kami disuguhi ketupat dan segala macamnya yang pagi itu ada di pikiran saya.😀 Alhamdulillah … senangnya …

Suasana Idul Fitri di Amerika tentu tidak sama dengan di tanah air. Umaat Islam adalah minoritas di negara ini. Di luar masjid dan saudara-saudara seagama, suasana Idul Fitri sama sekali tidak tampak. Kehidupan berjalan normal seperti biasa. Kebanyakan orang bahkan tidak tahu kalau hari itu adalah hari raya penting untuk umat Islam. Selain hari Natal, di Amerika memang tidak ada hari raya keagamaan yang dijadikan hari libur nasional. Siang itu, sepulang dari shalat Id dan bersilaturahmi ke rumah Pak Mahmud, saya tetap masuk kuliah seperti biasa.

Satu pemikiran pada “Berpuasa dan Berlebaran di Amerika (Bagian Kedua)

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s