Asyiknya Menulis


Menulis itu asyik engga sih? Kalau iya, apa yang membuatnya mengasyikkan?

Buat saya sendiri, jawabannya positif, iya. Alasannya?

Dulu saya pernah bilang, saya suka melihat kata-kata saya sendiri bermunculan di atas kertas atau di layar monitor. Itu salah satu alasannya. It’s almost magical: Melihat goresan huruf-huruf yang membentuk kata-kata, yang merangkai kalimat, membentuk paragraf, dan … voila! … ‘mahluk hidup’ yang mengejawantahkan pikiran, perasaan, dan diri kita. Sungguh keajaiban yang memesona!

Tapi bukan cuma itu.

Menulis adalah mind exercise, senam pikiran. Coba pikirkan, betapa cair dan lenturnya alam pikiran dan perasaan kita. Seperti hutan belantara, di mana semua bisa ada — dari lumut sampai vertebrata. Atau, seperti lautan —  dengan segala macam mahluknya yang miliaran jumlahnya. Atau langit dengan bintang-gemintangnya yang tak terhitung. Lalu, dari pilihan yang nyaris tak terbatas itu, kita harus meramu dan merangkai sesuatu yang kecil saja, tapi utuh dan bisa dimengerti. Tanpa kelihaian daya pikir, rasanya itu nyaris tak mungkin.

Bagimana kita bisa menjelajah belantara, lalu menyelam di samudera, dan mengangkasa di antara bintang-gemintang, memetik satu-satu yang kita inginkan bagi ramuan dan rangkaian yang ingin kita ciptakan, kalau pikiran kita tak lihai atau terlatih?

Menulis membuat kita — mengharuskan kita — melihat dengan jelas noktah-noktah pilihan dan jalan-jalan yang dapat merangkaikannya menjadi sesuatu, yang kecil saja, tapi utuh dan bermakna.

Tapi bukan cuma itu.

Untuk melihat noktah-noktah itu, mata batin kita harus terang-benderang. Kalau belum terang, kita harus membuatnya terang. Menulis mencerahkan mata batin kita. Paling tidak, mengasahnya agar menjadi cerah. Ia menjadi terasah untuk melihat dalam rimbun belukar dan gelap malam dan lautan. Saya kira tak ada satupun penulis yang tak mengalami proses pencerahan — sekecil apapun.

Aku suka bagaimana kata-kata menyiapkan dirinya untuk kita pilih. Bermacam-macam tingkahnya. Ada yang malu-malu (dan pemalu). Ada juga yang percaya diri dan agresif mengunjuk-unjukkan diri. Ada yang genit feminin, ada juga yang gagah maskulin. Ada yang ekslusif, ada yang inklusif; ada yang menyolok, ada yang diam-diam menghanyutkan. Kata-kata bak manusia. Aku bak penguasa yang memilih-milih mereka — atau, jangan-jangan mereka yang memilih aku?

Aku suka bagaimana aku merangkai-rangkaikan mereka, seperti perempuan yang merangkai manik-manik untuk membuat perhiasannya. Aku suka bagaimana aku menimbang-nimbangnya: warnanya, bentuknya, ukurannya, sifatnya …

Kadang-kadang aku membongkar-pasang rangkaian yang sudah jadi, hanya karena aku merasa mereka tak seirama, tak harmonis.

Mengasyikkan, kan?

Menulis tak kalah mengasyikkannya dengan menyusun jigsaw puzzle, saya kira. Ada gambar besar yang ingin kita ciptakan; ada keping-keping yang harus kita pilih sesuai pola, warna, dan bentuknya; ada rasa puas saat kita bisa menemukan keping yang tepat dan ketika akhirnya kita melihat keping-keping itu mulai terangkai sesuai dengan gambar besar yang ingin kita ciptakan.

Menulis bisa jadi sesuatu yang intuitif, sesuatu yang dilakukan tanpa berpikir lagi. Seperti berbicara atau menarik nafas. Tak perlu lagi kesadaran yang menghitung satu satu. Bisa jadi. Tapi ku kira ini hanya untuk orang yang sangat berbakat. Atau, orang yang sudah sangat terlatih. Seperti sopir dengan ribuan jam di jalan, refleksnya bukan lagi kesadaran yang dihitung satu-satu. Atau justru orang yang sama sekali tak tahu apa-apa tentang menulis, tak punya kesadaran. Asal bunyi. Kata-katanya tak beraturan. Rangkaiannya kacau tanpa ketukan dan irama, sekacau gagagsan dan cara berpikirnya.

Kau termasuk yang mana?

Aku sendiri bukan termasuk penulis yang intuitif sayangnya. Aku masih menulis dengan penuh kesadaran, meskipun tidak lagi mengikuti ketukan-ketukan yang dihitung. Tapi di situlah justru keasyikannya. Aku bisa merasakan setiap bagian prosesnya. Mungkin, setelah sekian ribu jam terbang, aku akan bisa juga seperti sopir yang terlatih refleksnya. Aku kira aku sedang menuju ke sana. Semoga.

11 pemikiran pada “Asyiknya Menulis

  1. Pak, sudah pernah baca Pidi Baiq? Dia “asal bunyi, kata-katanya tak beraturan, rangkaiannya kacau tanpa ketukan dan irama, sekacau gagasan dan cara berpikirnya.”
    Recommended untuk menambah cakrawala

    1. Terima kasih, Reza. Saya sudah baca. Asbun, ya. Tak beraturan, mungkin. Tapi tulisannya justru sangat terstruktur dengan jalan pikiran yang jelas. Kreativitas ide tidak sama dengan ekspresi bahasa yang kacau. Bahasa Pidi justru sangat baik, menurut saya. Pemeragrafannya, kalimatnya, penggunaan tanda bacanya menunjukkan dia sangat cerdas.

  2. Buat saya menulis itu asik Pak. Alasannya, i like to make a point. Saya senang memikirkan banyak hal, dan kalau hasil berpikir itu tidak dituangkan, rasanya tidak nyaman sekali. Dengan menulis, gagasan itu sudah tidak memenuhi pikiran saya lagi. Saya bisa memikirkan hal yang lain atau malah mengembangkan gagasan tersebut. Lebih asiknya, gagasan yang sudah menjadi tulisan (dan umumnya saya sampaikan melalui berbagai media di web) itu menjadi titik yang menghubungkan saya dengan orang yang 1) memiliki gagasan sama dengan saya atau 2) tidak setuju dengan gagasan saya. Terhubung dengan yang manapun, satu koneksi sudah tercipta. Jauh lebih baik daripada tidak terjadi apa-apa😀

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s