Salut kepada Kantor Imigrasi Bandung


Saya kurang suka berurusan dengan birokrasi pemerintah. Sedapat mungkin saya menghindarinya, kalau bisa. Tapi sebagai warga negara yang baik, tentu tak mungkin saya lepas dari birokrasi pemerintah. Sekali dalam lima tahun, paling tidak, saya harus memperpanjang KTP, SIM, dan Paspor. Setahun sekali saya juga harus melaporkan dan membayar pajak: Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), pajak penghasilan, pajak kendaraan bermotor.

Semua tidak ada yang saya nikmati. Saya benci antrean dan berbelit-belitnya birokrasi pemerintah. Membuang-buang waktu. Untung tidak semua harus saya urus sendiri. Perpanjangan KTP dan pembayaran PBB, saya bisa menitipkannya kepada Pak RT — yang sangat baik dan rajin membantu warganya. Pajak penghasilan biasa diurus oleh staf admin di kantor. Namun untuk rusan-urusan lain, sayangnya, saya masih harus menyelesaikannya sendiri.

image
Bersih-bersih di Kantor Imigrasi Bandung.

Tahun lalu, seharusnya saya memperpanjang paspor saya. Tapi saya tunda-tunda karena sibuk, dan karena memang — waktu itu —  belum ada rencana ke luar negeri dalam waktu dekat. Tapi sebenanya bukan karena itu saja. Saya enggan ke kantor imigrasi karena tak suka antreannya dan ‘kotornya’ suasana di kantor itu. Karena pengalaman pertama dan beberapa pengalaman sesudahnya, saya merasa kantor imigrasi adalah salah satu tempat ‘terkotor’ di negeri ini; tempat yang dihuni oleh … ah sudahlah.

Tapi kesan itu tampaknya sekarang sudah seharusnya dipupus. Kantor Imigrasi (yang di Bandung khususnya) tak lagi semenyeramkan dulu. Antrean masih panjang dan tampaknya makin panjang (tanda bahwa negeri ini makin makmur?). Namun praktik-praktik kongkalikong yang selalu melibatkan uang di luar biaya-biaya yang telah ditentukan oleh negara sudah tak terlihat lagi.

Ini yang terjadi ketika saya mengurus perpanjangan paspor saya minggu yang lalu:

Hari Selasa, saya datang untuk menyerahkan map yang berisi formulir dan persyaratan-persyaratan lain. (Map dan formulir sudah dibeli dan diambilkan oleh teman saya sebelumnya.) Gagal, karena sudah terlalu siang. Antrean rupanya dibuka hanya sampai pukul 11:00. Jadi saya terpaksa datang lagi keesokan harinya.

image
Menunggu giliran untuk menyerahkan aplikasi permohonan atau perpanjangan paspor di Kantor Imigrasi Bandung.

Rabu saya berhasil mendapatkan nomor antrean dan, setelah menunggu giliran sekitar dua jam, nomor saya dipanggil.

Memang menunggu antrean tidak menyenangkan. Tapi dengan sistem antrean yang sudah dikomputerisasi, ruang tunggu yang berpendingin udara, dan jumlah bangku-bangku yang cukup banyak jumlahnya, penantian giliran menjadi lebih nyaman. Kenyamanan juga saya rasakan karena, tidak seperti dulu, tak ada lagi orang-orang yang menguntit dan/atau berbisik-bisik menawarkan jasa untuk menguruskan atau memperlancar urusan. Pun pengeras suara yang dengan cepat dan terus-menerus memanggil nomor antrean ke banyak loket, serta layar monitor yang memberi tahu nomor mana yang sedang dipanggil, membuat saya merasa pelayanan diberikan dengan cepat, efisien, dan pasti.

Selesai menyerahkan persyaratan, saya diberi resi dengan tanggal dan jam appointment untuk pembayaran, pemotretan, pengambilan sidik jari, dan wawancara. Giliran saya Jumat pagi.

image
Wawancara untuk pembuatan atau perpanjangan paspor di Kantor Imigrasi Bandung.

Jumat pagi, saya datang sebelum pintu kantor dibuka agar mendapatkan nomor antrean lebih cepat. Ternyata banyak juga orang yang sudah antre sebelum pintu kantor dibuka. Saya mendapatkan nomor antrean di nomor belasan. Kantor dibuka beberapa menit sebelum pukul 07:30, dan tepat pukul 07:30 konter dibuka dan pelayanan dimulai. Sungguh ketepatan waktu yang luar biasa yang perlu saya acungi jempol.

Kurang dari satu jam kemudian, pembayaran, pemotretan, pengambilan sidik jari, dan wawancara selesai. Saya sudah bisa melenggang keluar kantor imigrasi pukul 08:30. Menurut resi yang saya terima, paspor saya sudah dapat diambil enam hari kemudian.

Apa yang saya alami ini sungguh berbeda jauh dari apa yang dulu saya alami. Semua serba transparan, bersih, dan efisien. Saya tak perlu membayar biaya apapun kecuali biaya yang resmi tertera dalam tarif.

Ini kemajuan yang luar biasa. Sebagai warga negara dan pembayar pajak, kali ini saya betul-betul merasa dilayani oleh negara dan aparatnya — yang fasilitas dan gajinya turut saya bayar lewat pajak.

Saya kira, kalau semua layanan publik dilakukan dengan cara seperti ini — efisien, pasti, dan transparan — kita bisa yakin, Indonesia akan bisa cepat melesat ke depan menjadi negara yang bisa kita banggakan.

Apa yang saya alami di Kantor Imigrasi Bandung minggu ini mudah-mudahan bukan hanya make up, tapi betul-betul cerminan wajah keberhasilan reformasi birokrasi yang dilakukan oleh pemerintah. Sudah waktunya kita mengadopsi praktik-praktik birokrasi yang modern, efisien, dan transparan. Tak ada lagi korupsi atau pungutan-pungutan liar yang dibebankan kepada warga negara untuk mendapatkan haknya, yaitu dilayani oleh negara dan aparatnya.

Oh ya, ada satu kritik kecil yang mudah-mudahan bisa lebih meningkatkan pelayanan Kantor Imigrasi Bandung:

Ketika saya sedang menunggu giliran untuk difoto, diambil sidik jari, dan diwawancara, saya melihat seorang tua yang bertongkat dengan susah payah dipapah oleh dua orang anaknya untuk naik ke lantai dua. Sungguh sangat tidak manusiawi. Di gedung yang tampak modern ini belum tersedia fasilitas untuk para manula dan/atau orang yang berkebutuhan khusus. Sudah saatnya gedung-gedung pemerintah dan atau swasta di negeri ini menyediakan fasilitas akses untuk orang-orang yang keadaan fisiknya tak memungkinkan mereka untuk naik turun tangga — fasilitas yang di negara-negara maju sudah menjadi norma.

Lewat tulisan ini, saya ingin menyampaikan apresiasi kepada Kantor Imigrasi Bandung yang tampaknya telah berhasil melakukan reformasi dan meningkatkan kinerjanya sesuai standar birokrasi yang baik. Mudah-mudahan ini bisa dijaga dan terus ditingkatkan. Salut!

9 pemikiran pada “Salut kepada Kantor Imigrasi Bandung

  1. Kang, waktu mau wawancara sama foto datang ke imigrasi jam berapa?
    kok bentar ya?
    soalnya saya tinggal wawancara
    apa perlu pagi”?
    terima kasih

    1. Nurul, saya belum pernah memanfaatkan fasilitas dalam jaringan (online) yang disediakan oleh Kantor Imigrasi Bandung, jadi saya tidak bisa ikut mengisi kuesinermu. Mudah-mudahan ada pembaca blog ini yang pernah dan bisa membantu pengumpulan data untuk skripsimu.

  2. Aduh Mas Eki saya jadi sedikit bersemangat ngurus perpanjangan paspor nih. Tadinya membayangkan saja sudah malas. Tapi menggunakan jasa agen harus tunggu dua minggu. Thank you yaa. Sudah sharing.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s