Monyet Sekandang


Terlalu banyak ingar-bingar di luar sana: tentang Raffi Ahmad yang, katanya, telah terbukti mengonsumsi zat methylone — senyawa adiktif yang, katanya, dapat digolongkan sebagai narkoba; tentang penangkapan Luthfi Hasan Ishaaq, Presiden PKS, yang, katanya, terlibat dalam kasus suap impor sapi (atau, daging sapi?) …

Orang-orang lalu ramai memperbincangkan itu sebagai suatu keasyikan yang melenakan. Mulut orang-orang itu rasanya gatal saja kalau tidak ikut bersuara. Atau, takut dianggap kuper atau tak peduli.

Berapa banyak di antara kita yang betul-betul tahu kasus-kasus itu? Mencermatinya dengan pikiran jernih dan sepenuh kesadaran kritis? Tak terbawa arus dan hanya ikut-ikutan? Menjadi subjek yang berdaya dan bukan hanya objek yang terombang-ambingkan oleh berita?

Kasus-kasus itu hanya noktah-noktah warna-warni yang melintas — sejenak meriakan kehidupan kita yang nyaris membosankan ini — lalu tenggelam di cakrawala dan digantikan oleh noktah-noktah baru agar hidup kita tetap ramai dan kita tak terlelap dalam tidur yang tak bermimpi.

Sebelum Raffi dan Luthfi, ada apa dan/atau siapa? Masihkah kita ingat? — Masih banyak kasus-kasus yang dulu ramai diperbincangkan dan menyebabkan kita heboh, lalu tak selesai dan terlupakan, bukan?

Setelah mereka, akan ada apa dan/atau siapa? — Mungkin kita belum tahu nama peristiwa dan orangnya. Tapi kita pasti tahu sensasinya, andai kita tak pelupa, terlena, dan mau memanjangkan ingatan kita.

Gambar oleh Ollvander - Flickr.com
Gambar oleh Ollvander – Flickr.com
Dulu, di kampung, ada istilah yang sering saya dengar: ‘kethek sepranggok’. Kethek adalah Bahasa Jawa untuk monyet. Pranggok adalah bengkel atau workshop tempat para pekerja tenun atau batik di daerah saya memroduksi tenunan atau kain batik.

Tentu kethek tak memroduksi kain tenun atau batik. (Kalau ada, barangkali pengangguran akan meningkat drastis, karena kethek tak perlu dibayar dengan uang. Mereka hanya perlu makan. Mempekerjakan mereka bisa jadi pilihan lebih murah ketimbang mempekerjakan manusia.) Ungkapan itu hanyalah peribahasa, yang artinya kurang lebih: gosip menyebar begitu cepat. Jika ada seekor monyet berteriak, maka seluruh monyet yang ada di tempat itu akan ikut berteriak — meskipun mereka tak tahu pasti apa sebabnya.

Kita tentu bukan monyet, meskipun — bagi orang-orang yang meyakini Teori Evolusi — kita dikatakan bersaudara. Tapi perilaku kita mirip, bukan? Kita seringkali ikut berteriak-teriak — panik, heboh, kegirangan — tanpa tahu pasti apa sebabnya, hanya karena seorang atau beberapa orang dari kita berteriak.

Sebagian kita lupa — atau telah dibuat lupa — pada sisi lain kemahlukan kita yang membedakan kita dari monyet: berpikir dan bersikap kritis.

Berita-berita itu hanyalah berita. Bisa jadi, dalam pusaran berita itu ada kepentingan kita. Berita, benar atau tak benar, di kalangan manusia dan — mungkin juga — monyet, adalah alat kontrol sosial. Dengan berita kita menjadi mawas  (yang dalam Bahasa Jawa berarti awas atau waspada, tapi dalam Bahasa Melayu dan menurut KBBI ternyata berarti kera besar atau orang utan!) — ke dalam, maupun ke luar.

Meskipun demikian, kita tetaplah harus tetap waspada (dobel waspada), bahwa berita bukanlah kejadian yang sesungguhnya. Dalam kacamata keilmuan, ia hanyalah salah satu bentuk representasi — “a statement or account made to influence opinion or action” (Merriam-Webster Dictionary).

Representasi adalah apa yang dikatakan atau diceritakan atau digambarkan (oleh orang) tentang sesuatu. Ia bukan kejadian itu sendiri. Ia bukan sesuatu yang langsung kita alami atau ketahui. Katanya, atau menurut si anu, atau berdasarkan cerita si anu.

Kita tentu boleh saja percaya pada si anu — kalau si anu adalah orang atau pihak yang kredibel dan bisa dipercaya. Sebagian besar pengalaman dan pengetahuan kita saat ini memang bersifat representasional. Namun karena dalam setiap represenasi tak pernah ada kebenaran yang bersifat bulat, kita tak boleh lupa perlunya sikap skeptis. Ruang yang mempertanyakan harus selalu ada agar kita tak menjadi taklid dan ekstrem.

Dalam hal berita sebagai sebuah representasi yang dimediasi dan bersifat massal, kita harus selalu ingat bahwa berita apapun selalu mengandung sudut pandang yang dibingkai, dan di balik sudut pandang dan bingkai itu ada orang atau sekelompok orang, dan bahwa orang atau sekelompok orang itu tak pernah lepas dari kepentingan.

Sudut pandang siapa? Dibingkai dengan cara bagaimana? Untuk kepentingan apa atau siapa? — Itu pertanyaannya.

Kita tahu, media massa dimiliki oleh orang atau sekelompok orang dan dijalankan oleh orang-orang demi ‘sesuatu’. ‘Sesuatu’ itu bisa jadi idealistik dan melampaui kepentingan individu dan golongan; bisa jadi juga sesuatu itu bersifat mundane, pragmatis, praktis, politis, bahkan komersil. Apapun, ‘ sesuatu’ itu — motivasi itu — selalu mengandung kepentingan.

Kepentingan itulah yang harus selalu kita baca di balik yang tersurat. Tanpa kesadaran kritis — yang selalu menyediakan ruang untuk bertanya dan mempertanyakan — kita hanya akan menjadi korban fenomena monyet sekandang: ikut heboh, tanpa tahu apa sesungguhnya yang kita hebohkan.

Eki Akhwan, 4 Februari 2013

Satu pemikiran pada “Monyet Sekandang

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s