Gila Karena Kuliah


Ini bagian ketujuh belas dari serial My American Stories. Bagian keenam belas bisa dibaca di sini.

Apa betul kuliah bisa menyebabkan orang menjadi gila?

Jawabannya tentu tergantung.🙂

Tidak banyak orang yang menjadi terganggu jiwanya hanya karena kuliah. Tapi bahwa kuliah adalah pekerjaan serius yang menguras energi lahir batin, bisa dibuktikan. Ada banyak mahasiswa yang mengeluh tugasnya terlalu banyak sampai-sampai sambil berak pun mereka masih harus memikirkan tugas. Ada juga mahasiswa yang menjadi sakit-sakitan di musim-musim tenggat pengumpulan tugas atau saat menjelang ujian. Tapi ada juga yang semakin banyak tugas, semakin bergairah — ini biasanya mahasiswa yang serius dan rajin mengerjakan tugas-tugasnya tepat waktu. Bahkan ada juga yang cuek-cuek saja; ini mahasiswa kedul (Sunda: malas) yang begitu menikmati hidup, tentu saja. Apapun yang mengganggu kenikmatan hidupnya, lewat!😉

Apa yang saya katakan di atas tentu saja hanya intermezo, selingan pengantar. Kuliah bisa jadi berat atau ringan, menyenangkan atau membebani, tergantung dari banyak hal. Reaksi atas persepsi itu pun tergantung pada kepribadian individu masing-masing. Namun, tanpa bermaksud membesar-besarkan, kuliah di Amerika saya rasakan lebih berat daripada kuliah di negeri sendiri. Dan ini bukan soal tempatnya saja yang jauh dari kampung halaman, yang sering kali juga berarti kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat dan tercinta yang terpaksa ditinggal di tanah air.

Sebelum kuliah di Amerika, saya pernah kuliah S1 dan S2 di dalam negeri. Kuliah S1 saya rasakan tidak terlalu berat. Kuliah S2 cukup berat. Tapi kuliah S2 di Amerika terasa lebih berat lagi. Bisa jadi ini perasaan saya saja, yang mungkin memang tidak terlalu cerdas atau rajin. Namun perbandingannya seperti ini: Dulu, waktu kuliah S2 di tanah air, saya hanya perlu membaca satu artikel jurnal atau satu bab untuk setiap mata kuliah per minggu. Lalu, dari bacaan itu, saya harus membuat laporan atau response. Di Amerika, saya harus membaca sekurang-kurangnya satu buku per mata kuliah per minggu — beberapa mata kuliah bahkan mengharuskan saya membaca lebih banyak lagi: tiga atau empat buku, atau satu buku dengan beberapa artikel jurnal plus makalah atau laporan.

Kajian lintasdisiplin yang saya geluti memang mengharuskan saya banyak membaca. Ini tidak menjadi soal sebenarnya karena saya cukup terbiasa membaca. Tapi membaca lima sampai sepuluh buku per minggu plus beberapa jurnal, terus terang, belum pernah saya lakukan sebelumnya. Minggu-minggu pertama saya sempat mengalami gegar (shock) dan disorientasi: makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Untunglah, saya cepat beradaptasi dan mencari cara untuk tetap dapat berada di atas angin.

By the way …

Ujian Akhir Semester

Menjelang akhir Desember, kami memasuki musim ujian akhir semester. Suasana terasa ‘mencekam’ — dramatically  speaking. Di luar dingin semakin menggigit. Salju sudah mulai sering turun. Di tempat indekos, interaksi semakin berkurang. Masing-masing orang seperti mengurung diri, lebih lama tinggal di kamar masing-masing, sibuk belajar dan menyelesaikan tugas-tugas akhir. Saya juga. Makan pun, yang di hari-hari biasa kadang-kadang dilakukan di dapur atau ruang makan, sekarang dibawa ke kamar masing-masing. Tidak ada waktu untuk basa-basi sosial yang biasanya kami lakukan jika kami kebetulan sedang bersama-sama berada di dapur atau ruang makan. Semua energi dikonsentrasikan untuk mempersiapkan ujian akhir semester dan menyelesaikan tugas-tugas yang skalanya lebih besar dari tugas-tugas mingguan.

Sesekali saya harus pergi ke perpustakaan juga untuk mencari rujukan yang diperlukan atau sekedar mencari suasana. Mengurung diri di dalam kamar berjam-jam tentu menjenuhkan. Kedekatan dengan tempat tidur juga membahayakan. Selalu ada godaan untuk membaca atau menulis sambil tiduran, yang ujung-ujungnya bisa membawa kita ke alam mimpi.🙂 Udara dingin memang membuat bantal dan selimut yang hangat seringkali menjadi godaan yang sulit ditolak. Itulah sebabnya perpustakaan menjadi pilihan yang lebih ‘bertanggung jawab’ untuk belajar. Buku-buku dan kepala-kepala yang tampak tekun berinteraksi dengan ilmu pengetahuan di halaman-halamannya memancarkan dan menularkan energi positif yang mampu terus memompakan semangat untuk melawan jenuh dan rasa kantuk dalam menaklukkan rimba pengetahuan.

Selama musim ujian, perpustakaan buka dua puluh empat jam, non stop. Inilah kejaiban yang belum pernah saya lihat sebelumnya di tanah air. Saya takjub dengan kesungguhan universitas memfasilitasi para pencari ilmu mendapatkan hikmah yang dicarinya.

Semangat mahasiswa juga luar biasa. Ruang baca dan reading booths penuh. Para penghuninya khusuk — membaca, membuat catatan,  mengerjakan soal, menulis paper … Ada satu dua yang tertidur memeluk buku-buku di depannya — napping, tidur sejenak untuk mengumpulkan energi, lalu bangkit lagi. Betul-betul pemandangan yang … mengharukan(?) dari para pencari ilmu yang sedang berjuang mengangkat derajatnya ke maqom yang lebih terhormat.

Cuma ada satu hal saja yang membuat saya agak sedikit tersiksa belajar di perpustakaan. Saya perokok dan punya kebiasaan merokok saat harus berpikir keras atau menulis. Dan di tempat-tempat umum, apalagi di perpustakaan, merokok adalah no … no … no … Sama sekali dilarang. Haram. Melanggar hukum. Maka, para perokok, termasuk saya, harus keluar gedung setiap kali ingin merokok. Kalau saya kebetulan berada di lantai dasar, mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Pintu keluar tidak terlalu jauh. Sayangnya saya lebih sering berada di lantai tiga atau empat. Saya harus naik turun lift hanya untuk merokok. Belum lagi di luar — di dekat pintu masuk tempat para perokok biasa berkumpul — udara sangat dingin, mendekati atau bahkan sering berada di bawah nol derajat Celsius. Kadang-kadang saya mengutuki diri sendiri yang mempunyai kebiasaan bodoh ini. Merokok betul-betul telah menjadikan saya seperti kaum Sudra di negeri ini.

Insiden 21 Desember

Menjelang Hari Natal, suasana kota Bethlehem sangat semarak. Ada beberapa acara yang digelar dalam rangka menyambut Natal. Salah satunya adalah Christkindlmarkt, festival bazar Natal yang menyajikan beragam pertunjukan kesenian, pasar barang-barang kerajinan yang bertema Natal, dan beragam makanan dan minuman khas.

Pagi itu, Minggu 21 Desember, Ali mengajak saya menyambangi festival yang baru saja dibuka itu. Saya menyambutnya. Kebetulan sebagian besar tugas saya sudah selesai dan saya merasa perlu sedikit melepas penat dari intensitas kegiatan belajar yang dalam beberapa hari terakhir terasa begitu melalahkan. Kami berjalan kaki menyeberangi jembatan Hill to Hill Bridge yang melintang di atas Sungai Lehigh ke arah utara kota tempat acara diadakan..

Festival yang dipusatkan di bagian bersejarah kota, di kawasan Main Street dan sekitarnya itu cukup meriah, meskipun sekian tahun kemudian hanya satu hal yang paling saya ingat, yaitu keberadaan keledai yang berukuran super jumbo. Belum pernah sebelumnya saya melihat keledai sebesar itu. Dalam bayangan saya, keledai itu binatang kecil pendek, lebih pendek dari kuda. Tapi keledai yang saya lihat hari itu ukurannya lebih tinggi dan lebih besar dari kuda; paling tidak, kuda-kuda yang biasa saya lihat di tanah air. Keledai itu dipakai sebagai properti hidup untuk pertunjukan drama yang menggambarkan saat-saat kelahiran Isa Almasih. Saya sempat berfoto ria dengan Ali di dekat keledai itu.

Kami tidak  terlalu lama di  sana. Setelah cukup puas berkeliling, kami segera pulang. Namun alangkah terkejutnya kami ketika sampai di rumah. Ali yang berjalan lebih cepat dan lebih dulu sampai di rumah berlari kembali menghampiri saya yang baru mendekati tikungan di dekat jalan ke rumah kami. Dengan wajah panik, dia bilang semua pintu dan jendela rumah terbuka, semua lampu dinyalakan. Dia mengira rumah kami telah dibobol maling. Saya segera berlari mengikuti dia kembali ke rumah. Dan, betul saja apa yang dikatakan Ali.

Kami segera memeriksa ke dalam. Apa yang kami dapati di dalam rumah lebih mengerikan lagi. Semua kompor di dapur menyala dan ditutup dengan mangkuk-mangkuk keramik dalam posisi terbalik. Bau gas menyebar di mana-mana. Barang-barang kami – peralatan masak, peralatan makan, dan  bahan-bahan makanan dilempar keluar jendela dan berserakan di halaman belakang dan halaman samping rumah. Ali segera menelepon 911 dengan ponselnya dan naik ke atas untuk mencek apakah penghuni lain ada di kamarnya. Saya tidak tahu persis apa yang terjadi karena saya masih terpaku dan tak percaya apa yang saya lihat di dapur. Saya hanya mendengar suara gedebag-gedebug orang turun dari tangga dan teriakan Chen yang mengatakan dialah yang melakukan itu semua dan bahwa dia akan mempertanggung jawabkannya. Dia marah-marah karena Ali telah menelepon polisi.

Kurang dari lima menit kemudian, dua mobil pemadam kebakaran dan tiga mobil polisi sudah berada di depan rumah kami. Kecepatan reaksi yang sungguh tak terbayangkan bisa terjadi di tanah air.

Polisi segera memeriksa ke dalam didampingi Ali yang menceritakan kronologi kejadiannya. Saya diminta untuk tetap berada di depan rumah. Tak lama kemudian terdengar suara Chen (Alex)  yang berteriak-teriak dari dari kamarnya di lantai atas mencoba mengusir polisi. “Keluar dari rumah kami! Kalian tak mempunyai hak untuk masuk ke rumah ini tanpa surat penggeladahan!” – Kata-kata yang mungkin tak asing lagi bagi orang-orang yang biasa menonton kisah-kisah tentang polisi di film-film Hollywood.

Polisi dan petugas pemadam kebakaran berusaha menenangkan Chen dan berbicara baik-baik dengannya. Namun rupanya dia sudah kalap. Polisi akhirnya terpaksa menangkap dan membawanya ke kantor polisi. Saya dan Ali dimintai keterangan dan kami membuat pengaduan resmi mengenai kejadian tersebut.

Sebenarnya kejadian itu tidak tiba-tiba. Beberapa hari sebelum insiden itu – persis di saat-saat kami sedang berada di puncak ketegangan menghadapi ujian akhir semester – Chen sudah berlaku aneh. Dua hari sebelum kejadian itu dia memutar CD dan televisinya dengan sangat keras. Saya, yang kamarnya persis di bawah kamar dia, merasa sangat terganggu. Namun ketika saya berusaha mengingatkannya, dia justru semakin menaikkan volume pemutar CD-nya, sampai-sampai saya harus ke ruang bawah tanah untuk mematikan sekering listrik ke kamarnya. Dia tidak peduli dan kembali menghidupkan listrik ke kamarnya. Setelah itu dia menggedor dan menendang pintu kamar Ali dan mencoba masuk, sampai-sampai Ali harus mendorongnya dan membuatnya tersungkur. Dia juga ke kamar Zhan berteriak-teriak memintanya membantu memindahkan televisi. Zhan, yang sedang bersiap hendak tidur, menolaknya. Entah dengan cara bagaimana, Chen kemudian menaruh televisi 30 inchi miliknya di depan pintu kamar Zhan.

Begitulah. Saya, Ali, dan Zhan mengira Chen stres berat karena kuliah. Kami sendiri bisa merasakan itu. Tapi kami sungguh tak mengira Chen akan menjadi  menjadi gila seperti itu. Di antara kami yang serumah, Chen memang paling muda. Seperti saya bilang sebelumnya, dialah satu-satunya anak S1 di rumah kami. Calon insinyur teknik sipil. Kami Cuma bisa mengira-ira, mungkin stres dia tidak cuma disebabkan oleh kuliah atau ujian akhir semester, tapi juga karena tekanan dari keluarganya yang menuntut dia untuk menjadi hebat, sementara dia sendiri merasa tidak mampu.

Chen tampaknya berasal dari keluarga yang cukup berada. Dia menamatkan sekolah menengahnya di Connecticut sebelum masuk ke Lehigh. Beberapa hari setelah kejadian itu, perwakilan keluarganya datang dan secara halus meminta agar kami mencabut pengaduan kami ke polisi. Tentu saja kami menolak. Kami merasa terancam dan tidak ingin dia kembali berada di dekat kami.

Karena kejadian itu, kami – saya, Ali, dan Zhan – terpaksa harus berurusan dengan aparat penegak hukum; bukan sebagai terlapor, tapi sebagai pelapor. Dua kali kami harus mendatangi pengadilan untuk didengar keterangannya oleh hakim. Tapi itu cerita untuk nanti.

Bersambung.

7 pemikiran pada “Gila Karena Kuliah

  1. Sedikit cerita waktu nyusun skripsi dulu, sempet ngalamun ling lung, kayak orang bingung, ke kampus make sendal jepit. Solusi: pulang kampung, seminggu makan tidur, minum susu doang di rumah bikin waras kembali🙂

  2. Menarik, Pak, ceritanya.
    Coba, Pak, cerita-ceritanya dibukukan, agar lebih banyak yang bisa menikmatinya🙂
    Kabarnya genre tulisan seperti ini masih jarang di Indonesia, mungkin bisa menyaingi “The Geography of Bliss”–yang baru saya baca awalnya saja, hehe.
    Penerbit Mizan sepertinya mulai melirik buku bergenre ini, buku itu salah satunya.

    1. Terima kasih, Desti. Insya Allah, nanti kalau ada dana atau ada penerbit yang berminat, saya akan terbitkan.

      Wah, kalau dibandingkan dengan bukunya Eric Weiner, ya jauh kali ya … Dia kan betul-betul mencari pengalaman yang ingin ditulisnya. Saya hanya menuliskan apa yang kebetulan saya alami. But I’m flattered.🙂 Thanks.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s