Seribu Alasan untuk Menulis


Mengapa aku menulis?

Karena aku tahu, aku tak akan selamanya di sini. Lambat atau cepat, aku pasti pergi. Aku ingin, bila aku telah pergi nanti, ada jejak-jejak yang aku tinggalkan. Aku pernah ada, dan adaku tak sia-sia.

Karena aku ingin berbagi. Hidup adalah perjalanan. Dan perjalanan tak bermakna jika hanya dinikmati sendiri. Aku telah memungut banyak hikmah, berjumpa dengan banyak orang dan peristiwa, merangkai makna dari setiap tempat yang aku singgahi. Aku ingin hikmah-hikmah itu terangkai dengan hikmah-hikmah yang dipungut oleh orang-orang lain — teman-teman seperjalanan: yang kukenal, yang tak kukenal — hingga membentuk mosaik, lukisan tentang kehidupan itu sendiri.

Karena aku guru. Aku ingin mengajar sepanjang hidupku. Aku ingin tetap bisa mengajar bahkan ketika aku telah mati, karena aku yakin ilmu yang bermanfaat tak akan pernah mati. Ia akan tetap penyertaiku di perjalananku yang lain, di dunia barzah — ruang antara kini dan nanti, fana dan keabadian. Ia akan dihitung, ditimbang, di hadapan singgasana Tuhan. Sebagai hamba yang penuh dosa, aku sungguh berharap ia akan dapat menyelamatkan aku dari timbangan yang terlalu miring ke kiri yang akan menggelincirkanku ke neraka.

Karena aku memikul beban-beban yang berat. Menulis membantuku melepas beban-beban itu satu-satu. Ia seperti sungai, ceruk, yang mengalirkan magma yang tumpah-ruah dari gunung api yang tak kuasa lagi menahan desakan panas yang berlipat-lipat dari dalam bumi. Seperti itulah kadang-kadang hati dan pikiranku — seperti gunung api itu.

Karena hidup bukan sehelai benang lurus yang dapat ditarik dari satu ujungnya ke ujung yang lain. Ia adalah perjalanan yang berkelok-kelok, berputar, berbalik, menanjak dan menurun. Benang yang semula lurus halus bisa menjadi kusut masai. Menulis membantuku menelusuri dan mengurai kembali benang yang kusut itu.

Karena menulis membantuku mengenal suaraku sendiri, wujudku sendiri — yang tak selalu bisa kukenali hanya dari cermin tempat ku berkaca pagi dan malam. Karena menulis membantuku mengenali warnaku sendiri — yang dalam gelap seringkali tampak terlalu hitam, dalam terang teralalu putih.

Karena menulis membantuku berjalan menelusuri urat nadiku sendiri, sel-selku sendiri, tulang-belulangku sendiri, urat-urat yang bertali-temali dalam jalinan ribuan kilo yang tak pernah kutahu pangkal dan ujungnya.

Karena menulis membuatku sadar — aku ada, aku bernyawa; aku berpikir, aku merasa.

Karena menulis membentangkan jalan yang menembus langit menuju Tuhan. Lewatnya aku mensyukuri segala nikmat yang tercurah.

Karena menulis mempertemukanku, mempertalikanku dengan degup semesta raya, dengan mahluk-mahluk, dengan kepala-kepala, dengan hati-hati, dengan nyawa-nyawa; bercakap-cakap, bercengkerama, khusyuk bertafakur seperti butir-butir pasir yang saling memeluk rapat di tepi lautan, lalu mengerti bahwa mereka pasir. Mereka boleh jadi dihempas ombak, terhanyut dalam pusaran arus; tapi mereka tetaplah pasir yang kembali kepada pasir.

Ada seribu alasan untuk menulis. Dan bila itu terlalu banyak, pilihlah satu saja: dirimu, adamu. Ia wadah, hulu dan muara, dari segala yang ternyatakan.

3 pemikiran pada “Seribu Alasan untuk Menulis

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s