Dunia Maya


Seorang kawan blogger mengungkapkan ‘keluhannya’ tentang pengalamannya di dunia maya: betapa apa yang disebut kawan di media sosial itu seperti ilusi saja — ada, tapi tak ada, tak nyata.

Di Facebook, seseorang bisa tiba-tiba saja datang — dari mana saja — meminta menjadi kawan; lalu, ketika sudah dikabulkan, mereka hanya menjadi nama saja di layar. Tak ada interaksi yang berarti. Di Twitter, bahkan orang yang tak dikenal pun dapat mengikuti cecuitan kita — yang bisa jadi sangat pribadi. Kita pun bisa berbuat serupa: mengikuti siapapun, menyapa dan mengenomentari siapapun. Kenal atau tidak secara pribadi, tak jadi soal. Jarak yang terbentang hanya satu klik, sama dengan jarak yang dibutuhkan untuk memutusnya.

Seorang kawan (baca: sebuah nama yang terdaftar sebagai ‘kawan’ di akun media sosial) dari kawan saya itu, suatu ketika diajaknya berbual (ngobrol, chatting). Hanya satu dua baris kalimat kemudian, dia pun menghilang. Tak ada ba bi bu seperti layaknya dalam perjumpaan dan percakapan yang terjadi di dunia nyata. Poof … hilang begitu saja! Tak ada jawaban lagi. Karena peristiwa itu, dia (kawan saya) meng-unfriend nama itu.

Terdengar akrab di telinga?

Tentu. Dan tak perlu heran. Itulah realitas di dunia maya.

Tentu tak setiap orang (harus) mengalami seperti itu. Kita bisa mengatur privasi akun kita. Siapa yang dapat menjadi teman dapat kita saring. Kita juga tak perlu mengejar jumlah dalam nama di akun media sosial kita, kecuali kalau kita memang punya maksud-maksud lain: berpromosi atau berjualan misalnya. Atau, untuk menyenang-nyenangkan diri, menopang ego yang rapuh dengan menciptakan ilusi bahwa kita memiliki banyak teman dan penggemar yang dapat kita banggakan sebagai bukti (palsu) kepopuleran kita.

Namun demikian, kita tetap tak boleh lupa bahwa dalam frasa ‘media sosial’, ada kata ‘media’. Artinya, ‘sosial’ — jaringan yang menghubungkan satu manusia dengan manusia lain dalam suatu masyarakat — dalam rangkaian itu tidaklah sosial dalam arti yang sesungguhnya. Keterhubungan antarmanusia di dalamnya tidaklah terjadi secara langsung, melainkan termediasi. Media tidak hanya menjadi dan menentukan cara, namun juga sifat dan isi dari interaksi yang berlangsung. Mengutip ungkapan McLuhan yang terkenal itu, “The medium is the message” — media tidak hanya menyampaikan pesan, tapi merupakan pesan itu sendiri.

Media menentukan cara kita memandang dunia, termasuk dalam hal pertemanan. Menyitir tulisan teman saya di atas, di dunia nyata kita tak mungkin (tanpa menimbulkan kesan komik) menepuk bahu seseorang yang tak dikenal, mengucapkan hai, dan ketika orang itu merespon, kita mengabaikannya dan menghilang begitu saja. Namun, di dunia maya hal itu sangat mungkin terjadi. Manusianya boleh sama, pesannya boleh sama, namun ketika dilakukan melalui media, maka pesan itu dipersepsi berbeda. Media telah menjadi pesan itu sendiri. Oleh karena itu, tidak perlu heran jika apa yang di dunia nyata dipandang aneh, di dunia maya bisa jadi lumrah.

Ketika McLuhan menerbitkan buku yang memuat kutipan di atas — Understanding Media: The Extensions of Man —  (tahun 1967), Internet tentu saja belum ada. Untuk menggambarkan bagaimana media membentuk dan mengendalikan “skala dan bentuk hubungan dan tindakan manusia,” dia menggunakan contoh gambar hidup (motion pictures/movies) atau film. Keberhasilan film mempermainkan pemahaman tentang kecepatan dan waktu, menurutnya, telah mengubah pandangan orang tentang dunia, yang semula semula runtut dan saling terhubung menjadi susunan yang bersifat konfiguratif dan kreatif. Dengan kata lain, melalui medium film, di mana waktu dan kecepatan dapat dimaju-mundurkan dan diacak-acak sesuka hati mengikuti kemauan si pembuat film, persepsi manusia tentang dunia ini telah dibuat berubah.

Bayangkan apa yang terjadi dan telah dilakukan oleh medium Internet, yang jauh lebih dahsyat daripada film bioskop, lalu media sosial — medium yang muncul dan dimungkinkan oleh kehadiran Internet. Hubungan sosial yang semula mengikuti ‘pakem-pakem’ yang pasti — kedudukan dan peran, dekorum dan kepantasan, sebab dan akibat — mengalami rekonfigurasi yang kreatif. Bongkar-pasang pakem yang sulit terjadi atau dilakukan di dunia nyata menjadi amat mudah dilakukan karena media yang digunakan memungkinkan hal itu.

Begitulan sifat dunia maya — dunia yang dibentuk dan dimungkinkan oleh medium Internet. Ia adalah dunia yang bersifat rekonfiguratif-kreatif,  di mana (nyaris) semua hal bisa dibongkar-pasang (nyaris) sekehendak hati seperti di dunia fiksi nan khayal. Dan memang begitulah definisi kata maya secara harfiah menurut KBBI:   “hanya tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada; hanya ada dalam angan-angan; khayalan.”

 

Eki Akhwan, 23 Februari 2012

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s