Berwisata Bahasa di Malaysia


Tulisan ini saya unggah dari kamar hotel saya di kawasan Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Sudah tiga malam ini saya berada di kota ini dalam rangka mengikuti konferensi tentang kompetensi guru yang diadakan oleh The British Council. Pertemuan ilmiah yang bertajuk “Teacher Competency Frameworks: Developing Excellence in Teaching” ini adalah bagian dari serangkaian pertemuan serupa yang digelar oleh The British Council di beberapa ibukota negara ASEAN untuk membincangkan hal-ihwal peningkatan kualitas guru dan pengajaran Bahasa Inggris di kawasan. Saya dan dua sejawat datang ke pertemuan ini untuk melaporkan dan berbagi dengan peserta dari sebelas negara lain di Asia mengenai hasil penelitian kami yang kebetulan juga didanai oleh The British Council.

_______________

Berkunjung ke negara jiran ini sebenarnya tak terasa seperti berkunjung ke luar negeri. Indonesia dan Malaysia memiliki banyak kesamaan, sehingga kita dan mereka seringkali berselisih paham hanya karena masing-masing merasa memiliki hal yang sama yang ingin diklaim secara eksklusif sebagai milik sendiri. Kalau bukan karena kebetulan sejarah, Indonesia dan Malaysia barangkali bisa menjadi satu negara kebangsaan yang sama atas dasar kesamaan etnis dan budayanya.

Namun, di luar kesamaan-kesamaan itu, tidak bisa dipungkiri bahwa ‘perpisahan’ selama lebih dari setengah abad (jika dihitung dari terbentuknya negara-negara modern Indonesia dan Malaysia) telah menumbuhkan kekhasan masing-masing. Salah satunya adalah dalam hal bahasa.

Meskipun Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia sama-sama berakar dari Bahasa Melayu Riau, keduanya berkembang dengan cara yang berbeda. Bahasa Indonesia tampaknya lebih sumringah dan berwarna-warni dalam perkembangannya akibat pengaruh bahasa-bahasa daerah yang membentuk entitas Indonesia sebagai negara kebangsaan, sementara Bahasa Malaysia tampaknya lebih taat azas pada akar kemelayuannya. Oleh karena itu, salah satu hal yang paling menarik untuk diamati (dan dinikmati) ketika kita berkunjung ke Malaysia adalah perbedaan kosakata dan tata peristilahan yang dipakai di negara ini dibandingkan apa yang lazim kita pakai di Indonesia.

Kalau mengalami, mengamati, dan menikmati hal-hal yang berbeda adalah salah satu esensi pelancongan atau persiaran (yang bagi kita lebih lazim disebut pariwisata), maka mengalami, mengamati, dan menikmati bahasa negara jiran ini barangkali bisa disebut sebagai wisata bahasa. Dan itulah salah satu hal yang saya lakukan di sela-sela mengikuti konferensi.

Saya kadang-kadang dibuat geli dan tersenyum sendiri ketika menjumpai kosakata atau istilah-istilah yang di mata atau telinga saya terlihat atau terdengar kurang lazim. Salah satunya adalah apa yang saya tangkap pada foto ini:

image

“Dilarang Masuk. Untuk Kakitangan Sahaja.”🙂

Semua kata-kata pada rambu ini saya mengerti. Maksudnya pun, secara kontekstual, saya pahami. Namun, di dalam hati saya tidak bisa menahan tawa. Terus tetang ada citraan ‘nakal’ yang bermain di kepala saya ketika membaca rambu ini: saya bayangkan orang hanya bisa memasukkan kaki dan tangannya saja ke dalam ruangan ini; sementara badannya harus ditinggal di luar! :))

Di Indonesia, rambu ini lazimnya berbunyi “Dilarang masuk kecuali petugas” atau yang sejenisnya. Di Indonesia, kakitangan memiliki konotasi negatif. Di Malaysia kata itu netral saja dan dipakai sebagai padanan kata staff.

image

Berbeda dengan yang pertama tadi, tanda yang ini tidak membuat saya tertawa geli. “Tandas” atau “bilik tandas” adalah Bahasa Malaysia untuk toilet, yang dalam Bahasa Indonesia disebut kamar kecil, WC, atau — sama seperti dalam bahasa aslinya, yaitu Bahasa Inggris — toilet saja.

Serupa dengan tandas, orang Malaysia rupanya lebih suka menyebut surau untuk kata mushola. Dua kata itu sering kita jumpai pada tanda yang menunjukkan letak mushola di tempat-tempat umum seperti bandara, terminal bus, atau pusat perbelanjaan.

Di Indonesia, jembatan di atas jalan yang diperuntukkan bagi para penyeberang jalan disebut “Jembatan Penyeberangan”; di Malaysia, benda yang sama rupanya disebut “Jejantas” — kata yang tampaknya tidak dikenal dalam Bahasa Indonesia dan belum masuk ke dalam KBBI.

image

Di Indonesia kita mengenal istilah penjambret untuk penjahat yang merenggut dengan paksa barang-barang berharga yang dibawa oleh seseorang di tempat-tempat umum. Di Malaysia, mereka menggunakan istilah “peragut”, kata yang saya yakin tak banyak orang Indonesia yang pernah mendengarnya. Lema ‘ragut’ dalam KBBI hanya diberi tanda tanya dan dirujukkan pada renggut.

image

Di Malaysia, orang menggunakan “hidangan tengah hari” untuk makan siang, dan “selamat tengah hari” untuk selamat siang. Bagi orang Malaysia (dan dalam Bahasa Melayu) siang adalah lawan dari malam dan bukan bagian dari hari seperti yang umumnya dipahami oleh orang Indonesia dalam frasa-frasa yang tadi saya sebut. Orang Malaysia menggunakan sapaan selamat pagi, sama seperti kita di Indonesia, tapi tidak menggunakan selamat siang. Alih-alih, mereka menggunakan selamat tengah hari. Itulah sapaan pertama yang saya terima dari petugas Imigresen (Indonesia: Imigrasi), yang kemudian mengoreksinya menjadi selamat petang ketika mencek jam. Rupanya sapaan selamat petang adalah sapaan yang lebih lazim digunakan oleh orang Malaysia untuk mengatakan selamat sore.

image

Petunjuk yang bisa kita temui di bandara internasional Kuala Lumpur (KLIA) ini sepintas bisa langsung kita pahami maksudnya, karena selain kata-kata yang ditulis dalam dua bahasa — Melayu dan Inggris — ada ikon yang memperjelas maksudnya. Namun jika kita cermati istilah-istilah dalam Bahasa Melayu yang digunakan, akan tampak perbedaan-perbedaan dengan istilah-istilah serupa yang lazim dipakai dalam Bahasa Indonesia. Mereka menggunakan istilah ‘Medan Kereta’ untuk car parks, yang dalam Bahasa Indonesia kita sebut tempat parkir mobil atau parkir saja. Mereka juga menggunakan perlepasan untuk keberangkatan (departure), ketibaan untuk kedatangan (arrival), dan pejabat untuk kantor. Dalam Bahasa Indonesia, pejabat adalah orang yang menjabat, bukan tempat atau institusi di mana orang berkantor.

image

Di dekat hotel tempat saya menginap selama di Kuala Lumpur sedang berlangsung pembangunan MRT (Mass Rapid Transit). Setiap berangkat dan pulang ke tempat konferensi, saya melewati tanda yang dipasang di depan pagar yang menutupi lokasi konstruksi ini: “Segala kesulitan amat dikesali. Kami membina untuk masa hadapan Anda”. Sekilas, orang Indonesia mungkin akan tersenyum membacanya, kecuali orang-orang yang tahu atau pernah melihat tanda serupa di negara-negara yang berbahasa Inggris. Rupanya “kesulitan” adalah Bahasa Melayu untuk inconvenience, yang ke dalam Bahasa Indonesia kita terjemahkan menjadi “ketidaknyamanan”, sehingga kalimat itu dalam Bahasa Indonesia lazimnya berbunyi “(Kami mohon) maaf atas ketidaknyamanan Anda.”

Yang mungkin membuat orang Indonesia tersenyum dalam pengumuman itu tentu saja adalah penggunaan kata ‘kesal’ yang umumnya kita pahami dan didefinisikan oleh KBBI sebagai mendongkol, sebal, jengkel, kecewa, dan jemu — definisi yang sebenarnya tak jauh berbeda dengan takrif yang diberikan oleh Kamus Bahasa Melayu terbitan PRPM DBP.  Maka, penggunaan kata itu dalam pengumuman tadi sepintas membuat saya agak geli: segala ketidaknyamanan dikecewai?  — Meskipun kata ‘kesal’ nyaris bersinonim dengan  kata ‘sesal’ — yang lebih lazim kita pakai dalam konteks itu, ‘sesal’ menurut rasa bahasa saya lebih tepat karena selain bermakna “perasaan tidak senang (susah, kecewa, dsb)” sesal juga mengandung makna penyebabnya, yaitu perbuatan  kurang baik, dosa, kesalahan, dan sebagainya.

Kalimat kedua dalam pengumuman di atas akan lebih mudah dipahami jika kita tahu bahwa kata ‘bina’, baik dalam Bahasa Melayu maupun Bahasa Indonesia, bersinonim dengan kata ‘bangun’ (construct, erect, develop, raise).

image

Foto ini, yang menunjukkan iklan mobil, juga saya lewati setiap hari karena letaknya di laluan pejalan kaki beratap yang menghubungkan sejumlah titik di pusat kota Kuala Lumpur. Ada dua kata yang menjadi perhatian saya dalam iklan ini, yaitu kata ‘merbahaya’ dan ‘piawaian’.

Kata yang pertama sangat aneh bagi saya. Semula saya mengira bahwa “mer” dalam kata “merbahaya” adalah awalan (prefiks). Dan ini membuat saya tercenung, karena saya belum pernah menjumpainya dalam Bahasa Indonesia, yang notabene berakar dari Bahasa Melayu. Kita mengenal kata berbahaya, tapi tidak “merbahaya”. Namun setelah saya menceknya dalam kamus Bahasa Melayu terbitan Pusat Rujukan Persuratan Melayu (PRPM), Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia, saya mendapati bahwa ‘merbahaya’ bertakrif/bermakna marabahaya. Mara sendiri berarti ‘berbagai-bagai’ atau apa-apa yang mendatangkan kesukaran atau kesusahan.

Kata kedua, yaitu “piawaian”, saya duga berarti standar atau ukuran dalam konteks itu. Padahal kata dasar piawai dalam Bahasa Indonesia hanya dimaknai pandai, cakap, mampu, atau betul oleh KBBI. Ini jelas berbeda dengan takrif kata itu menurut PRPM, yang selain pandai, cakap, atau mampu, juga dimaknai standar atau kisi-kisi.

Di iklan mobil di bawah ini ada dua kata yang mungkin terlihat kurang lazim dalam Bahasa Indonesia. Kata-kata itu adalah ‘mesra’ dan ‘berkuasa’. Mesra, dalam Bahasa Indonesia dan menurut KBBI, berarti lekat benar atau merasuk. Namun dalam Bahasa Malaysia, kata itu rupanya memiliki makna yang lebih luas, sehingga bisa digunakan dalam frasa ‘mesra alam’, yang dalam Bahasa Indonesia lazimnya kita katakan ‘bersahabat dengan alam’ — padanan untuk istilah nature friendly dalam Bahasa Inggris.

Kata ‘berkuasa’ secara kelaziman pemakaian tampaknya juga memili makna lebih luas dalam Bahasa Malaysia daripada dalam Bahasa Indonesia. Definisi ‘kuasa’ dalam Kamus Bahasa Melayu mencakup ‘kaji gerak (elektrik)’; sementara dalam Bahasa Indonesia lebih terbatas pengertiannya dan hanya mencakup kemampuan, kesanggupan, kekuatan, dan wewenang yang umumnya dikaitkan dengan orang. Bahasa Indonesia tidak lazim menyebut ‘engine power’ dengan kuasa mesin, melainkan daya mesin, meskipun daya dan kuasa bersinonim.

image

Berada di negera asing, kita tentu saja memerlukan mata uang yang berlaku di negara itu untuk melakukan jual beli. Sebelum ke Malaysia, kami telah menukarkan rupiah kami dengan ringgit Malaysia di tempat penukaran valuta asing (money changer) resmi di Bandung. Tapi karena ringgit yang saya bawa pas-pasan dan saya memerlukan tambahan, di Kuala Lumpur saya terpaksa menukarkan lagi sejumlah rupiah di ‘pengurup wang berlesen’ — Bahasa Malaysia untuk tempat penukarang valuta asing.

image

Meskipun serumpun dan tetap dapat saling dipahami, perbedaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia (Bahasa Melayu Malaysia) ternyata cukup siginifikan dan dalam keadaan-keadaan tertentu dapat (berpotensi) menimbulkan salah paham. Namun justru inilah, menurut saya, yang menjadi daya tarik untuk mengunjungi Malaysia, karena mal, barang-barang yang dijual dan bisa dibeli, atraksi budaya, makanan, dan lain-lain tidak terlalu signifikan perbedaannya.

6 pemikiran pada “Berwisata Bahasa di Malaysia

    1. Aria: Terus terang saya belum pernah. Tapi buku teks berbahasa Melayu, pernah. Bahasa Inggris bisa jadi terasa lebih mudah karena kita sudah memelajarinya cukup lama.😀

  1. Menarik, pak..🙂 Dan yang lebih menarik lagi adalah huruf “N” dalam tulisan “Sila gunakan jejantas untuk menyeberang jalan”, huruf “N” nya terbalik. Hehe.. kayaknya seru juga kalo ada font seperti itu. Mau mengunduh ah kalo ada..😛 Oya, sama halnya seperti subtitle Malay di film kadang bikin pengen ketawa.. soalnya bahasanya aneh. Aneh karena tidak terbiasa dengan bahasa tersebut.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s