Kesan-Kesan di Malaysia dan Singapura (Bagian Pertama)


Malaysia adalah negara luar pertama yang saya kunjungi. Waktu itu saya masih mahasiswa S1 dan berkunjung ke sana dalam rangka program pertukaran pemuda yang saya ikuti. Sejak itu saya belum lagi mengunjungi negara itu, sampai dua minggu yang lalu.

Kali ini kunjungan saya ke sana adalah untuk mengikuti konferensi tentang kompetensi guru yang diadakan di Kuala Lumpur, Selasa dan Rabu,  26 – 27 Februari 2013. Saya dan dua orang kawan berangkat ke sana hari Ahad, tanggal 24, karena dua alasan: kami berhasil mendapatkan tiket murah dengan Garuda pada tanggal itu, dan karena kami ingin sedikit ‘berlibur’ sebelum berkonferensi.

Murah itu penting untuk dosen-dosen seperti kami, karena untuk mengikuti konferensi-konferensi di luar negeri, kami harus mengeluarkan biaya sendiri dengan hanya sedikit bantuan dari universitas. Berlibur juga perlu digarisbawahi karena, berlainan dengan pandangan umum yang menganggap dosen punya banyak waktu luang, waktu kerja dosen justru sangat panjang dan nyaris tak pernah libur. Kami masih harus bekerja bahkan ketika kami sudah pulang ke rumah dan ketika mahasiswa libur.

Kami berangkat dari Bandung pukul 02:30 pagi dan sampai di bandara sebelum subuh. Kaunter pelaporan untuk penerbangan kami, yang dijadwalkan pukul 08:40,  belum buka. Jadi kami  masih bisa shalat subuh, sarapan, dan mendiskusikan lagi bagian-bagian dari presentasi yang akan kami bawakan di dalam konferensi sebelum melapor (check in).

Terbang dengan maskapai penerbangan berlayanan penuh seperti Garuda tentu saja lebih menyenangkan daripada dengan pesawat murah seperti Air Asia. Pesawatnya lebih nyaman, menurut saya, dan ada makanan dan minuman, video dan hiburan lain selama penerbangan. Dan semua layanan itu sudah termasuk dalam harga tiket yang kita bayar, tidak seperti dalam penerbangan ekonomis yang semua layanan dipreteli dan harus dibayar sendiri-sendiri. Selain itu kami juga akan tiba terminal yang lebih berkelas di KLIA (Kuala Lumpur International Airport) dibandingkan dengan terminal yang dipakai oleh penerbangan murah (Low Cost Carrier Terminal atau LCCT).

Penerbangan Jakarta – Kuala Lumpur ditempuh dalam waktu satu jam empat puluh menit, kurang lebih. Lebih singkat daripada kota-kota lain yang lebih jauh di tanah air sendiri. (Bayangkan betapa besarnya tanah air kita, bahkan ke luar negeri pun tak sejauh sudut-sudut di rumah kita sendiri.) Kami sudah berada di terminal ketibaan Kuala Lumpur International Airport (KLIA) sekitar pukul 11:30 waktu setempat.

image

Harus diakui, KLIA berkesan lebih futuristik dibandingkan dengan Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), yang berasitektur tradisional dan kental dengan nuansa pernak-pernik budaya Indonesia. Itulah kesan pertama saya tentang bandara ini. KLIA memang lebih baru — selesai dibangun dan mulai dimanfaatkan tahun 1998; sementara Soetta sudah beroperasi sejak tahun 1985.

Kesan kedua adalah, bandara ini terasa lebih lengang dibandingkan dengan Soetta. Dari segi kapasitas, KLIA memang lebih besar —  jika tahap ketiga pembangunan bandara ini nanti sudah selesai, KLIA konon bisa menangani 100 juta penumpang per tahun. Tapi untuk saat ini, Soetta masih lebih besar dari segi jumlah penumpang yang ditanganinya (tahun 2012, KLIA melayani 39,887,866 penumpang; sementara tahun 2011 saja Soetta sudah melayani 47.647.377 penumpang). Jumlah pergerakan pesawat yang dilayani oleh Soetta juga masih jauh lebih banyak daripada yang dilayani oleh KLIA: 345.495 dibandingkan dengan 283,352 untuk tahun-tahun yang disebut tadi. Maka tak heran jika kita merasa bahwa KLIA lebih lengang dibandingkan dengan Soetta yang berkesan hiruk-pikuk.

Tempat naik dan turun Aerotrain di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Sumber: Wikipedia
Tempat naik dan turun Aerotrain di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Sumber: Wikipedia

Selain arsitekturnya, yang berkesan futuristik, hal lain yang berkesan tentang KLIA ini adalah layanan Aerotrain-nya — kereta yang menghubungkan terminal utama dengan terminal-terminal satelitnya (selain LCCT, low cost carrier terminal, yang lebih jauh dan harus ditempuh dengan bus). Kereta tanpa masinis yang juga biasa disebut people mover ini belum dimiliki oleh Soetta dan baru pernah saya coba dan alami di Chek Lap Kok — Bandara Internasional Hongkong (HKIA), Bandara Narita di Tokyo, dan O’Hare International Airport di Chicago.

Kami turun pesawat di terminal M. Karena ini pengalaman pertama kami di KLIA, kami sempat bingung ke mana harus mengklaim bagasi, mengurus imigrasi, dan mencari transportasi ke KL. Tidak seperti di Soetta di mana urusan imigrasi, klaim bagasi, dan transportasi ke luar bandara dapat dilakukan di terminal yang sama, di KLIA semua urusan itu rupanya harus dilakukan di terminal utama; dan untuk ke sana, kami harus naik Aerotrain tadi. Perjalanan dari terminal M ke terminal utama dengan Aerotrain singkat saja, kurang dari dua menit.

Selesai menuntut bagasi dan mendapatkan cap visa dari Imigresen Malaysia, kami naik bis ke KLCC. Jarak KLIA ke Kuala Lumpur cukup jauh, sekitar 60 kilometer. Kesan saya, bus yang melayani rute ini tidak terlalu bagus. Bus yang kami tumpangi sudah tua. Tapi inilah cara termurah untuk menuju ke KL. Kami hanya perlu membayar RM10 per orang. Pilihan lain sebenarnya ada, yaitu naik taksi atau kereta api  (KLIA Ekspres atau KLIA Transit). KLIA Ekspres adalah layanan premium tanpa henti langsung ke KLCC atau KL Sentral. Ini cara tercepat untuk mencapai pusat kota Kuala Lumpur. Konon waktu tempuhnya hanya 28 menit. Namun tarifnya cukup mahal, yaitu RM35 per orang; sementara KLIA Transit lebih murah dan berhenti di tiga stasiun antara, yaitu Bandar Tasik Selatan, Putrajaya dan Cyberjaya, serta Salak Tinggi. Kami tidak memilih kereta api atau taksi karena, dalam hitungan kami, bus tetap masih lebih murah. Lagipula kami tidak terlalu diburu-buru waktu.

Kami sampai KL Sentral kira-kira satu jam kemudian. Rencana kami berikutnya adalah naik bus ke Singapura lewat Terminal Bersepadu Selatan (TBS). Karena waktu sudah lewat tengah hari, kami putuskan untuk makan siang dan shalat dulu di sini. Untuk makan siang, kami memilih paket nasi tomato dan ayam masak merah di sebuah kedai lokal.

Nasi tomato, yang wujudnya mirip nasi goreng — karena warnanya yang kemerahan seperti tomat — ini rasanya kaya rempah, khas masakan Melayu atau India. Beras yang dipakainya pun ‘beras India’ yang panjang-panjang. Saya suka rasanya, meskipun bagi sebagian orang Indonesia mungkin masakan ini terlalu kental rasa rempahnya.

Selesai makan dan shalat, kami seharusnya naik kereta komuter ke Bandar Tasik Selatan, stasiun kereta terdekat dari Terminal Bersepadu Selatan (TBS). Namun karena salah pengertian menafsirkan petunjuk yang kami miliki, kami justru keluar terminal. Alhasil, kami menghabiskan waktu lebih dari setengah jam hanya untuk mencari-cari transportasi ke sana. Untunglah kami segera menyadari kesalahan kami dan, setelah antre tiket, akhirnya bisa naik kereta pelaju yang mestinya kami naiki: Jalur biru ke Seremban. Empat perhentian kemudian, sampailah kami di Bandar Tasik Selatan.

Terus terang saya sangat terkesan dengan sistem transportasi massal di KL: cepat, bersih, efisien, dan nyaman. Sungguh jauh dari apa yang kita miliki di Jakarta, apalagi Bandung yang supermacet dan semrawut. Kereta-kereta listrik berwarna putih buatan Cina itu sepintas mengingatkan saya pada Metrorail di Washington DC.

image

Kesan itu berlanjut ketika kami sampai di TBS. Apa yang dikatakan oleh Vidi, kolega saya di Balai Bahasa UPI yang membantu saya merencanakan perjalanan KL – Singapura, benar. Terminal bus ini jauh lebih luas, lebih megah dan lebih bagus bahkan jika dibandingkan dengan Bandara Husein Sastranegara sekalipun.

Ketika sampai di sana dan membeli tiket bus ke Singapura, hanya ada satu pertanyaan yang ada di hati saya: kapan kita akan memiliki sistem transportasi massal dan terminal-terminal sebagus dan selayak ini? Kita negara yang jauh lebih besar dan lebih kaya dari negara jiran kita ini. Sumber daya manusia kita pun tak kalah, kalau tak bisa dibilang lebih bagus dari Malaysia. Banyak tenaga-tenaga ahli dan profesional kita yang bekerja di sana. Rasanya tidak layak kita terus-menerus mendapatkan layanan publik yang kualitasnya nyaris tak berubah sejak abad yang lalu. Yang dibutuhkan, saya kita, hanyalah kemauan politik dan pemimpin yang berwawasan jauh ke depan dan bukan hanya tokoh-tokoh yang seperti katak dalam tempurung: ramai berteriak-teriak memamerkan suaranya untuk menarik perhatian, tapi otak dan wawasannya hanya sebatas tempurungnya sendiri, sama seperti perbuatan-perbuatannya yang suka mementingkan diri dan kelompoknya sendiri.

image

Karena kurang berpengalaman, bus yang kami pilih untuk membawa kami dari KL ke Singapura ternyata sudah agak tua. Tapi tetap masih terasa cukup nyaman untuk perjalanan yang hanya sekitar 5 jam. Bus tingkat (double-decker) berkapasitas terbatas (hanya tiga kursi per baris) ini terasa sangat lega. Kami membayar RM 48 per orang untuk perjalanan ini. Saya kira ini tarif rata-rata. Ada bus-bus yang lebih mahal dan lebih murah dari itu, tergantung pada fasilitas yang ditawarkannya. Bus-bus yang lebih mahal konon ada yang menyediakan meja kerja dan wifi bagi para musafir yang masih ingin atau harus bekerja selama perjalanan.

Perjalanan KL – Singapura lewat darat ini melintasi jalan tol North – South Expressway atau dalam bahasa Melayu disebut ‘Lebuhraya Utara – Selatan’ yang membentang  sepanjang 775 kilometer di pantai barat semenanjung, dari Kayu Hitam, kota di dekat perbatasan Malaysia dan Thailand hingga ke Johor Bahru di ujung selatan semenanjug dekat dengan perbatasan dengan Singapura. Saya tidak tahu persis berapa panjang jalan tol dari KL ke Johon Bahru, tapi jarak KL ke Singapura, menurut peta, adalah 350 kilometer dan rata-rata dapat ditempuh dalam waktu sekitar 4 sampai 5 jam.

Kami hanya berhenti dua kali sepanjang perjalanan hingga di perbatasan dengan Singapura. Yang pertama sinkat saja. Saya tidak ingat di mana. Yang kedua agak lama untuk memberi kesempatan bagi penumpang untuk makan malam. Saya juga tidak mencatat nama kotanya. Mungkin Ayer Hitam atau Simpang Renggam. Kami sempat makan malam di semacam food court di sini. Setelah itu perjalanan dilanjutkan hingga ke perbatasan. Di sini semua penumpang harus turun dua kali. Pertama di pos pemeriksaan imigrasi di Johor Baru dan, setelah masuk ke wilayah Singapura, di pos pemeriksaan imigrasi Singapura. Di tempat ini kami harus membawa semua barang-barang bawaan kami untuk diperiksa.

Singapura konon sangat ketat dalam urusan kepabeanan. Para pengunjung, misalnya, dilarang membawa rokok, meskipun hanya sebungkus yang belum dibuka, tanpa dikenakan cukai atau didenda. Saya — yang perokok — waktu itu membawa satu bungkus yang sudah dibuka dan tinggal setengah isinya. Untung ini tidak dipermasalahkan, sehingga kami bisa dengan lancar masuk ke Singapura.

Tak berapa lama setelah memasuki perbatasan, sampailah kami di tujuan akhir bus di Beach Road. Dari sana kami naik taksi ke hotel kami di kawasan Geylang.

Ada sedikit cerita yang agak menarik ketika kami mencoba menghentikan taksi. Dua taksi yang pertama kami hentikan menolak membawa kami ketika kami mengatakan bahwa kami akan ke Geylang. Kami tidak tahu kenapa. Tapi, dari sopir taksi yang akhirnya bersedia membawa kami ke hotel, kami mendapat informasi bahwa Geylang adalah red district – kawasan yang dikenal karena prostitusinya. Mungkin karena itu dua taksi yang pertama kami hentikan tak bersedia membawa kami.

Kami bukannya tidak tahu bahwa Geylang adalah kawasan merah. Dari Vidi merekomendasikan hotel yang saya pesan, kami sudah tahu itu. Namun menurut Vidi, di sinilah hotel-hotel yang bagus dan bertarif cukup murah berada. Hotel-hotel yang sekelas itu di kawasan lain rata-rata lebih mahal. Itulah alasan kami kenapa kami memilih hotel di kawasan itu.

(Bersambung)

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s